Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #117

Cinta yang Tidak Sempurna

Cinta yang Tidak Sempurna

Mereka belajar bahwa rumah tangga bukan tentang kesempurnaan.

°˖✧✿✧˖°

Hujan sore itu turun dengan deras di luar jendela kafe kecil tempat Raka dan Alya biasa bertemu. Aroma kopi arabika bercampur dengan wangi kayu manis dari roti panggang yang baru keluar dari oven. Raka duduk di sudut ruangan, jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja kayu dengan gelisah. Alya baru saja meneleponnya sepuluh menit lalu, suaranya terdengar aneh—seperti orang yang baru saja menangis.

"Aku datang," kata Alya sambil meletakkan tasnya di kursi sebelah Raka. Matanya sembab, dan dia tidak berusaha menyembunyikannya.

Raka langsung bangkit dari kursinya, meraih tangan Alya, dan membawanya duduk. "Ada apa? Kamu kenapa?"

Alya menarik napas panjang. "Raka, aku baru saja dari rumah Mama. Aku... aku nggak tahu harus mulai dari mana."

"Mulai dari mana saja. Aku di sini."

Alya menggenggam cangkir kopi yang belum dipesannya, seolah mencari kehangatan. "Mama bilang... dia nggak yakin kita siap menikah. Dia bilang kita terlalu muda, terlalu idealis. Dia bilang... pernikahan itu bukan tentang cinta saja."

Raka terdiam. Kalimat itu seperti palu yang menghantam dadanya. Dia sudah tiga tahun bersama Alya, dan selama itu pula dia merasa yakin bahwa Alya adalah perempuan yang ingin dia habisi hari tuanya bersama. Tapi mendengar keraguan dari orang tua Alya—orang yang paling dia hormati setelah ibunya sendiri—membuatnya goyah.

"Mama ngomong gitu karena dia sayang sama kamu," kata Raka pelan. "Aku ngerti."

"Tapi aku nggak ngerti," potong Alya. Suaranya mulai bergetar. "Aku nggak ngerti kenapa dia harus meragukan kita sekarang. Kita sudah merencanakan semuanya, Raka. Kita sudah nabung, kita sudah cari rumah, kita sudah—"

"Alya."

"Aku bahkan sudah bayar DP gedungnya. Aku sudah pilih gaunnya. Aku sudah—"

"Alya, dengar aku."

Alya berhenti. Air matanya akhirnya jatuh juga. Raka meraih kedua tangan Alya dan menggenggamnya erat.

"Aku nggak akan kemana-mana," kata Raka. "Kalau Mama butuh waktu, kita kasih waktu. Kalau Mama butuh bukti, kita kasih bukti. Tapi aku nggak akan mundur. Aku mencintaimu, dan itu nggak akan berubah hanya karena satu percakapan."

Alya menatap Raka. Ada sesuatu di mata Raka yang membuatnya percaya—setidaknya untuk saat ini. Tapi di dalam hatinya, Alya tahu bahwa ini bukan sekadar tentang Mama. Ada sesuatu yang lebih dalam yang belum pernah mereka bicarakan. Sesuatu yang selama ini mereka sembunyikan di balik senyum dan rencana-rencana indah.

"Mama bilang satu hal lagi," bisik Alya. "Dia bilang, cinta yang tidak sempurna itu lebih tahan lama daripada cinta yang terlihat sempurna. Aku nggak ngerti maksudnya."

Raka tersenyum tipis. "Mungkin kita akan ngerti nanti."

Mereka duduk berdua di kafe itu sampai hujan berhenti. Tidak ada yang tahu bahwa percakapan itu akan menjadi awal dari badai yang akan menguji segalanya—bukan hanya cinta mereka, tetapi juga keyakinan mereka tentang apa artinya membangun rumah tangga.

°˖✧✿✧˖°

Tiga minggu setelah percakapan di kafe, Raka dan Alya memutuskan untuk tetap melanjutkan rencana pernikahan mereka. Namun, keputusan itu tidak datang tanpa konsekuensi. Mama Alya, Bu Ratna, akhirnya setuju untuk bertemu dan berbicara empat mata dengan Raka. Pertemuan itu berlangsung di rumah keluarga Alya, di sebuah ruang tamu yang penuh dengan foto-foto masa kecil Alya dan piala-piala kejuaraan yang dia menangkan sejak SD.

"Raka, duduklah," kata Bu Ratna sambil menuangkan teh ke cangkir Raka. Tangannya yang keriput tapi anggun bergerak dengan tenang.

"Terima kasih, Bu."

Bu Ratna duduk di hadapan Raka. Tatapannya tajam, tetapi tidak dingin. "Alya bilang kamu serius ingin menikahinya."

"Ya, Bu. Saya serius."

"Kamu tahu Alya itu anak satu-satunya. Saya membesarkannya sendirian setelah ayahnya meninggal. Saya tahu betul bagaimana rasanya membangun rumah tangga tanpa persiapan yang matang."

Raka menundukkan kepala. "Saya mengerti, Bu."

"Apakah kamu benar-benar mengerti?" Bu Ratna meletakkan cangkirnya. "Rumah tangga itu bukan tentang seberapa besar cinta kalian. Itu tentang bagaimana kalian bertahan ketika cinta itu sedang tidak ada. Ketika kalian berdua sedang lelah, ketika uang habis, ketika anak-anak sakit, ketika salah satu dari kalian kehilangan pekerjaan. Apakah kamu siap untuk itu?"

Raka mengangkat kepalanya. "Saya tidak bisa menjanjikan bahwa saya akan selalu sempurna, Bu. Tapi saya bisa menjanjikan bahwa saya tidak akan lari."

Bu Ratna menatap Raka lama. Ada sesuatu di mata Raka yang mengingatkannya pada almarhum suaminya—sebuah ketulusan yang tidak dibuat-buat. Akhirnya, dia mengangguk.

"Baiklah. Saya restui. Tapi ingat, Raka. Saya akan mengawasi kalian. Bukan karena saya tidak percaya, tapi karena saya tidak ingin Alya mengalami apa yang saya alami."

Malam itu, Alya menangis di pelukan Raka. Bukan karena sedih, tapi karena lega. "Aku takut Mama nggak akan pernah setuju," bisiknya.

" Mama kamu kuat," kata Raka sambil membelai rambut Alya. "Dan aku belajar sesuatu dari beliau."

"Apa?"

"Bahwa cinta yang tidak sempurna itu memang lebih tahan lama. Karena kita tahu bahwa kita nggak harus sempurna untuk saling mencintai."

Namun, di balik kebahagiaan itu, ada bayangan yang mulai muncul. Raka belum memberi tahu Alya tentang masalah keuangan di kantornya. Perusahaannya sedang mengalami kesulitan, dan ada kemungkinan dia akan kehilangan pekerjaan dalam beberapa bulan ke depan. Raka tidak ingin menambah beban Alya, apalagi setelah semua drama dengan Bu Ratna. Dia memutuskan untuk menyelesaikannya sendiri—sebuah keputusan yang kelak akan menjadi bumerang.

°˖✧✿✧˖°

Dua bulan sebelum pernikahan, Raka akhirnya kehilangan pekerjaannya. PHK itu datang tanpa peringatan, tepat di hari Jumat sore ketika semua orang sudah bersiap pulang. Raka pulang ke apartemennya dengan langkah berat. Dia duduk di sofa selama berjam-jam, menatap langit-langit, mencoba mencari cara untuk memberi tahu Alya.

Tapi dia tidak pernah memberi tahu.

Sebagai gantinya, Raka berpura-pura pergi bekerja setiap pagi. Dia berangkat dengan kemeja rapi dan tas kerja, lalu menghabiskan hari-harinya di perpustakaan atau kafe, mengirim lamaran pekerjaan ke puluhan perusahaan. Tabungan mereka—yang seharusnya digunakan untuk pernikahan—mulai menipis. Raka menggunakan uang itu untuk membayar cicilan apartemen dan kebutuhan sehari-hari, berharap ada keajaiban sebelum pernikahan tiba.

Alya mulai curiga ketika Raka beberapa kali menolak makan di restoran favorit mereka. "Kita masak di rumah aja," kata Raka setiap kali. Alya mengiyakan, tapi hatinya bertanya-tanya.

Suatu malam, Alya menemukan slip ATM di saku jaket Raka. Saldo tabungan mereka jauh lebih kecil dari yang seharusnya. Alya menatap slip itu lama, tangannya gemetar. Dia menunggu Raka pulang, dan ketika Raka masuk ke apartemen, Alya sudah duduk di ruang tamu dengan slip itu di tangan.

"Raka, ini apa?"

Raka membeku. "Alya, aku bisa jelasin."

"Jelasin apa? Kamu pakai uang tabungan kita? Uang untuk pernikahan kita?"

Raka duduk di hadapan Alya. Akhirnya, semua yang dia sembunyikan tumpah juga. Tentang PHK, tentang lamaran kerja yang tidak pernah dibalas, tentang rasa takut bahwa dia akan mengecewakan Alya.

"Aku nggak mau kamu stres," kata Raka. "Aku pikir aku bisa nyelesaiin sendiri."

Alya menatap Raka dengan campuran emosi—marah, kecewa, tapi juga sakit. "Raka, kita akan menikah. Masalahmu adalah masalahku. Kenapa kamu nggak percaya sama aku?"

"Aku percaya sama kamu. Aku cuma... aku nggak mau kamu lihat aku gagal."

"Gagal?" Alya berdiri. "Kamu pikir aku mencintaimu karena pekerjaanmu? Kamu pikir aku mau menikah denganmu karena kamu punya gaji tetap?"

"Alya—"

"Jawab aku, Raka."

Lihat selengkapnya