Kembali Saling Memahami
Komunikasi membuat hubungan mereka semakin kuat.
°˖✧✿✧˖°
Pagi itu, rumah Raka dan Alya terasa lebih sunyi dari biasanya.
Cahaya matahari masuk melalui celah tirai kamar, membentuk garis-garis keemasan di lantai. Dari dapur terdengar bunyi piring yang diletakkan perlahan. Alya sedang menyiapkan sarapan, sementara Raka bersiap berangkat bekerja.
Beberapa hari terakhir mereka memang sedang berada dalam masa yang cukup sibuk.
Pekerjaan Raka menumpuk. Alya pun mulai memiliki kesibukan sendiri. Akibatnya, waktu yang biasanya mereka gunakan untuk berbincang menjadi semakin sedikit.
Bukan karena mereka tidak ingin berbicara.
Mereka hanya sama-sama merasa lelah.
Raka keluar dari kamar sambil merapikan jam tangannya.
“Alya.”
“Ya?”
“Aku berangkat sekarang.”
Alya menoleh dari dapur.
“Tidak sarapan?”
“Sepertinya tidak sempat.”
Alya mematikan kompor.
“Kenapa?”
“Ada rapat pagi.”
“Kamu bisa makan sedikit.”
Raka melihat jam.
“Kalau makan sekarang, aku bisa terlambat.”
Alya terdiam.
“Baik.”
Raka mengambil tasnya.
“Nanti malam aku mungkin pulang agak terlambat.”
Alya menatapnya.
“Lagi?”
Raka berhenti.
“Iya. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan.”
Alya mengangguk pelan.
“Baik.”
Raka memperhatikan wajah istrinya.
“Kamu kecewa?”
“Tidak.”
“Kamu yakin?”
Alya tersenyum tipis.
“Yakin.”
Raka mendekat.
“Aku akan berusaha pulang lebih cepat.”
Alya mengangguk.
“Hati-hati.”
Raka tersenyum lalu pergi.
Pintu tertutup.
Alya kembali ke dapur.
Namun senyum yang tadi ia berikan perlahan menghilang.
Ia tidak marah.
Setidaknya, ia belum menganggap dirinya marah.
Ia hanya merasa ada sesuatu yang mulai berubah.
Dulu, mereka selalu memiliki waktu untuk bertanya, “Bagaimana harimu?”
Sekarang pertanyaan itu mulai digantikan oleh kalimat-kalimat pendek.
“Sudah makan?”
“Pulang jam berapa?”
“Ada pekerjaan?”
“Besok sibuk?”
Percakapan mereka menjadi seperti daftar kebutuhan rumah tangga.
Alya duduk sendirian di meja makan.
Ia memandangi dua piring yang sudah disiapkan.
Satu untuk dirinya.
Satu lagi untuk Raka.
Piring milik Raka masih utuh.
Alya menarik napas.
“Mungkin aku terlalu berharap,” gumamnya.
Sementara itu, di dalam mobil, Raka juga memikirkan hal yang sama.
Ia teringat ekspresi Alya ketika mengatakan “baik”.
Ada sesuatu di balik kata itu.
Raka tahu.
Tetapi ia terlalu lelah untuk menebaknya.
“Seharusnya tadi aku bicara lebih lama,” gumamnya.
Namun pekerjaan sudah menunggu.
Hari itu pun dimulai dengan dua orang yang saling mencintai, tetapi sama-sama membawa sesuatu yang tidak mereka ucapkan.
Dan tanpa mereka sadari, diam yang kecil mulai menjadi jarak.
°˖✧✿✧˖°
Malam tiba.
Jarum jam menunjukkan pukul sembilan ketika suara pintu terbuka.
Raka masuk dengan langkah lelah.
“Alya?”
Tidak ada jawaban.
Ia menemukan Alya di ruang tengah.
Alya sedang membaca.
Raka meletakkan tas.
“Kamu belum tidur?”
“Belum.”
“Aku kira sudah.”
Alya menutup bukunya.
“Aku menunggumu.”
Raka tersenyum.
“Maaf.”
“Tidak apa-apa.”
Raka duduk di sampingnya.
“Aku benar-benar tidak bermaksud pulang selarut ini.”
“Aku tahu.”
Raka menatapnya.
“Kamu marah?”
Alya menggeleng.
“Tidak.”
“Kamu kecewa?”
Alya diam.
Raka menunggu.
Akhirnya Alya berkata,
“Sedikit.”
Raka mengangguk.
“Aku mengerti.”
“Benarkah?”
“Kurasa.”
Alya menatapnya.
“Itu masalahnya.”
Raka mengernyit.
“Apa?”
“Kamu selalu bilang mengerti, tapi kamu tidak pernah benar-benar bertanya.”
Raka terdiam.
Alya segera menyadari kalimatnya terdengar lebih tajam daripada yang ia maksudkan.
“Maaf.”
Raka menarik napas.
“Tidak. Katakan saja.”
“Aku tidak ingin bertengkar.”
“Aku juga.”
Alya menunduk.
“Aku hanya merasa akhir-akhir ini kita lebih sering menjalani hari masing-masing.”
Raka mengusap wajah.
“Aku memang sedang banyak pekerjaan.”
“Aku tahu.”
“Aku sedang berusaha.”
“Aku juga tahu.”
“Lalu kenapa kamu merasa begitu?”
Alya menatapnya.
“Karena berusaha mencari nafkah dan berusaha menjaga hubungan itu dua hal yang berbeda.”
Raka terdiam.
Kalimat itu membuatnya berpikir.
Alya melanjutkan,
“Aku tidak meminta kamu meninggalkan pekerjaan.”
“Aku tahu.”
“Aku hanya ingin merasa bahwa aku tetap menjadi bagian dari harimu.”
Raka menatapnya cukup lama.
“Kamu memang bagian dari hariku.”
“Tapi aku tidak bisa selalu tahu itu kalau kamu tidak mengatakannya.”
Raka menunduk.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia menyadari bahwa selama ini ia menganggap kehadiran sebagai sesuatu yang otomatis dipahami.
Ia bekerja keras karena ingin membangun kehidupan mereka.
Tetapi ia lupa menjelaskan alasan itu kepada Alya.
Dan Alya melihat kerja keras tersebut hanya sebagai waktu yang semakin berkurang.
“Alya.”
“Ya?”
“Aku minta maaf.”
Alya menatapnya.
“Aku seharusnya lebih banyak bercerita.”
“Bukan hanya itu.”
“Lalu?”
“Kita berdua harus bicara.”
Raka mengangguk.
“Besok.”
Alya tersenyum kecil.
“Jangan besok.”
Raka menatapnya.
“Sekarang?”
“Iya.”
Raka melihat jam.
“Sekarang sudah malam.”
“Aku tidak ingin masalah ini tidur bersama kita.”
Raka tersenyum tipis.
“Baik.”
Ia mematikan televisi.
Mereka duduk berhadapan.
Tidak ada telepon.
Tidak ada televisi.
Tidak ada pekerjaan.
Hanya mereka berdua.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, mereka benar-benar menyediakan waktu untuk saling mendengar.
°˖✧✿✧˖°
“Aku mulai merasa kamu menjauh,” kata Alya.
Raka tidak langsung menjawab.
“Aku tahu itu mungkin tidak benar,” lanjut Alya. “Tapi perasaan itu muncul.”
“Kenapa kamu tidak bilang sejak awal?”
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut kamu menganggapku terlalu menuntut.”
Raka menggeleng.
“Aku tidak ingin kamu merasa seperti itu.”
“Tapi dulu aku memang pernah terlalu banyak menuntut.”
“Dan aku pernah terlalu banyak mengontrol.”
Mereka saling memandang.
Raka tersenyum pahit.
“Mungkin kita masih membawa ketakutan dari masa lalu.”
Alya mengangguk.
“Kadang-kadang.”
Raka menarik napas.
“Aku takut kalau aku terlalu banyak bicara tentang pekerjaan, kamu akan semakin khawatir.”
“Justru aku ingin tahu.”
“Kenapa?”
“Karena kalau kamu diam, pikiranku bisa membuat cerita sendiri.”
Raka tertawa kecil.
“Itu benar.”
Alya mengerutkan hidung.
“Jangan tertawa.”
“Aku tidak menertawakanmu.”
“Lalu?”
“Aku hanya sadar. Kalau aku tidak menjelaskan, kamu akan menebak. Kalau tebakanmu salah, kita bertengkar.”
“Dan kalau aku tidak bertanya, kamu akan mengira aku baik-baik saja.”
Raka mengangguk.
“Jadi kita sama-sama salah.”
“Bukan salah.”
Alya tersenyum.
“Kurang komunikasi.”
Raka mengangguk.
“Ya.”
Mereka terdiam sejenak.
Alya kemudian bertanya,
“Kalau kamu sedang lelah, apa yang sebenarnya kamu butuhkan dariku?”
Raka berpikir.
“Kadang aku hanya ingin ditemani tanpa ditanya terlalu banyak.”
Alya mengangguk.
“Baik.”
“Kalau kamu?”
“Aku ingin ditanya.”
Raka tersenyum.
“Berarti kita berbeda.”
“Makanya harus saling belajar.”
Raka mengangguk.
“Kalau kamu sedang diam, aku akan bertanya.”
“Dan kalau kamu sedang lelah, aku akan belajar memberi ruang.”
“Bukan menghilang.”
Alya tersenyum.
“Bukan menghilang.”
Raka mengulurkan tangan.
“Kesepakatan baru?”
Alya menyambut tangannya.
“Kesepakatan baru.”
Namun pembicaraan itu ternyata membuka hal lain.
Alya menatap tangan mereka.
“Ada satu hal lagi.”
“Apa?”
“Aku kadang merasa bersalah ketika ingin memiliki waktu untuk diriku sendiri.”
Raka mengernyit.
“Kenapa?”
“Karena sekarang kita sudah menikah. Aku takut kalau aku sibuk dengan kegiatanku sendiri, kamu merasa aku tidak memprioritaskanmu.”