Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #119

Kabar yang Mengubah Segalanya

Kabar yang Mengubah Segalanya

Alya membawa sebuah kabar besar untuk Raka.

°˖✧✿✧˖°

Hujan sore itu turun perlahan, seperti seseorang yang ingin bercerita tetapi takut terdengar terlalu keras. Di beranda rumah kontrakan yang sederhana, Raka duduk di kursi kayu tua dengan secangkir kopi yang sudah kehilangan hangatnya. Uapnya menipis, menyerah pada udara yang lembap. Ia menatap jalanan basah di depan rumah, memperhatikan genangan yang memantulkan lampu jalan berwarna kuning pucat. Pikirannya melayang jauh, melampaui deretan warung dan gang sempit yang biasa ia lewati setiap pagi.

Sejak pagi, ada perasaan aneh yang mengganjal di dadanya. Bukan cemas karena pekerjaan—ia sudah terbiasa dengan tekanan sebagai penulis lepas yang penghasilannya naik-turun. Bukan pula karena tagihan listrik yang menumpuk di meja. Ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat tanpa alasan jelas. Ia mencoba mengabaikannya dengan menulis, tetapi kalimat-kalimat yang ia susun terasa hambar, seperti masakan tanpa garam.

Ponselnya bergetar di atas meja. Nama Alya muncul di layar. Raka tersenyum tipis, tetapi senyum itu cepat pudar ketika ia melihat tidak ada emotikon atau pesan panjang seperti biasanya. Hanya satu kalimat pendek: "Raka, aku perlu bicara. Besok sore aku ke rumahmu."

Raka menatap pesan itu lama. Alya adalah sahabatnya sejak SMA, orang yang selalu punya cara untuk membuatnya tertawa bahkan ketika dunia sedang tidak berpihak padanya. Namun belakangan ini, ada sesuatu yang berbeda dari Alya. Ia lebih sering diam, lebih sering menatap kosong, dan kadang menghilang dari percakapan tanpa penjelasan. Raka pernah bertanya, tetapi Alya hanya tersenyum dan berkata, "Nanti aku cerita kalau sudah waktunya."

Raka tidak pernah mendesak. Ia tahu Alya punya tembok yang tinggi, dan ia menghormati itu. Tetapi sekarang, setelah berhari-hari menunggu, kabar itu akhirnya datang. Dan entah mengapa, Raka merasa takut.

Ia meletakkan ponselnya dan menatap hujan yang semakin deras. Suara air yang jatuh ke atap seng terdengar seperti genderang perang. Di kejauhan, petir menyambar, diikuti gemuruh yang mengguncang jendela. Raka menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. "Apa pun itu, aku harus siap," bisiknya pada diri sendiri.

Malam itu, Raka tidak bisa tidur. Ia berputar-putar di kasurnya, memikirkan kemungkinan terburuk. Apakah Alya sakit? Apakah keluarganya baik-baik saja? Atau mungkin... Alya akan pergi? Pikiran terakhir itu membuatnya duduk tegak. Ia menyalakan lampu meja dan menatap foto mereka berdua di dinding—foto saat wisuda SMA, dengan seragam putih abu-abu dan senyum yang belum tahu apa-apa tentang kehidupan. Di foto itu, Alya berdiri di sampingnya, tangan kanannya membentuk tanda peace, rambutnya yang panjang tergerai tertiup angin.

Raka menghela napas. Ia tahu satu hal: apa pun yang akan Alya katakan besok, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Pagi datang dengan enggan, seperti tamu yang tidak diundang. Raka sudah bangun sejak subuh, mandi, lalu duduk di ruang tamu dengan buku catatan terbuka. Ia mencoba menulis, tetapi pikirannya melompat-lompat. Setiap suara motor yang lewat membuatnya menoleh ke jendela. Setiap ketukan di pintu membuat jantungnya berdebar. Ia bahkan tidak bisa makan. Roti yang ia panggang pagi itu masih utuh di atas piring, mengeras perlahan.

Pukul tiga sore, terdengar ketukan di pintu. Tiga ketukan pelan, khas Alya. Raka bangkit, membuka pintu, dan di sana berdiri Alya dengan jaket denim biru yang ia kenal baik. Rambutnya diikat ekor kuda, tetapi ada lingkaran gelap di bawah matanya. Ia tersenyum, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya.

"Masuk," kata Raka, menyingkir.

Alya melangkah masuk, melepas sepatunya, lalu duduk di sofa yang sudah usang. Ia menatap ruangan itu sekilas, seperti mengenang sesuatu. Raka duduk di depannya, menunggu. Ada keheningan yang berat di antara mereka, seperti sebelum badai.

"Kamu sudah lama tidak ke sini," kata Raka akhirnya, mencoba mencairkan suasana. "Kopi?"

Alya menggeleng. "Aku perlu bicara, Raka. Dan ini... ini tidak mudah."

Raka menelan ludah. "Aku mendengarkan."

Alya menatap tangannya sendiri, lalu mengangkat wajah. Ada air mata yang tertahan di pelupuk matanya. "Raka, aku akan menikah."

Dunia Raka seperti berhenti berputar. Kata-kata itu menggantung di udara, menusuk perlahan, seperti jarum yang masuk ke kulit tanpa terasa. Ia ingin bertanya, "Dengan siapa?" tetapi suaranya hilang. Ia hanya bisa menatap Alya, mencari tanda bahwa ini hanya lelucon. Namun wajah Alya terlalu serius, terlalu pucat, terlalu nyata.

"Aku... menikah?" ulang Raka akhirnya, suaranya nyaris berbisik. "Dengan siapa?"

Alya menarik napas panjang. "Dengan seseorang yang kamu tidak kenal. Namanya Bima. Dia teman ayahku. Bisnis keluarga. Aku... aku tidak punya pilihan."

Raka merasa dadanya sesak. "Apa maksudmu tidak punya pilihan?"

Alya menunduk. "Ayahlah yang mengatur semuanya. Kamu tahu bagaimana ayahku. Dia tidak pernah bertanya apa yang aku inginkan. Dia hanya bilang, ini demi kebaikan keluarga. Demi masa depan."

Raka ingin berteriak. Ia ingin berkata bahwa ini tidak adil, bahwa Alya berhak memilih hidupnya sendiri. Tetapi ia tahu, Alya sudah tahu semua itu. Dan Alya datang bukan untuk diberi tahu, tetapi untuk didengar.

"Kapan?" tanya Raka, suaranya tercekat.

"Bulan depan," jawab Alya. "Di Jakarta. Aku akan pindah setelah menikah."

Bulan depan. Tiga puluh hari. Raka merasa waktu seperti pasir yang lolos dari sela-sela jarinya. Ia ingin menghentikannya, tetapi ia tidak punya kekuatan. Ia hanya bisa duduk di sana, menatap perempuan yang ia cintai sejak SMA, dan menyadari bahwa ia mungkin akan kehilangan dia selamanya.

°˖✧✿✧˖°

Dua hari setelah kedatangan Alya, Raka masih belum bisa berpikir jernih. Ia mencoba menulis, tetapi semua kalimat yang muncul hanyalah nama Alya yang ditulis berulang-ulang di halaman buku catatannya. Ia mencoba tidur, tetapi mimpi-mimpinya dipenuhi bayangan Alya berjalan menuju altar bersama pria yang tidak ia kenal. Ia mencoba makan, tetapi rasa makanan apa pun terasa seperti kertas.

Pada hari ketiga, Raka memutuskan untuk menemui Alya. Ia tidak bisa hanya diam. Ia perlu tahu lebih banyak. Ia perlu memahami mengapa Alya menyerah begitu saja. Ia perlu... ia perlu memastikan bahwa ini bukan akhir.

Ia mengirim pesan: "Aku mau ketemu. Di tempat biasa. Jam 4."

Tempat biasa mereka adalah sebuah kafe kecil di sudut kota, tempat mereka dulu menghabiskan waktu setelah pulang sekolah. Kafe itu bernama "Kopi Kita," dengan dinding kayu yang dipenuhi foto-foto pelanggan dan lampu gantung berwarna kuning hangat. Raka tiba lebih dulu, memesan kopi hitam tanpa gula, dan duduk di meja paling pojok—meja yang dulu selalu mereka tempati.

Alya datang tepat waktu, mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana jeans. Ia tampak lebih rapi dari biasanya, tetapi tetap ada kesedihan di matanya. Ia duduk di seberang Raka, memesan teh lemon, lalu menatap Raka dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kamu marah," kata Alya.

"Aku tidak marah," jawab Raka. "Aku... bingung. Kenapa kamu tidak melawan? Kamu selalu bilang, kita yang menentukan hidup kita sendiri. Kamu selalu bilang, jangan biarkan orang lain mengatur kita."

Alya tersenyum pahit. "Itu dulu, Raka. Sebelum aku tahu bahwa hidup tidak sesederhana itu."

"Jadi kamu menyerah?"

"Aku tidak menyerah," kata Alya, suaranya tegas. "Aku memilih. Ada perbedaan."

Raka menatapnya. "Apa bedanya?"

Alya meletakkan cangkir tehnya. "Menyerah berarti aku berhenti berjuang. Memilih berarti aku sadar bahwa ada hal-hal yang lebih besar dari keinginanku. Ayahku sakit, Raka. Jantungnya lemah. Dokter bilang dia tidak boleh stres. Dan satu-satunya cara agar dia tenang adalah melihat aku menikah dengan orang yang dia percaya."

Raka terdiam. Ia tidak tahu bahwa ayah Alya sakit. Alya tidak pernah bercerita. "Sejak kapan?"

"Sejak tiga bulan lalu," jawab Alya. "Aku tidak memberitahumu karena aku tidak ingin kamu khawatir. Aku pikir... aku pikir aku bisa mengatasi ini sendiri."

Raka menunduk. Ia merasa bersalah karena tidak peka. Ia merasa bersalah karena selama ini ia hanya sibuk dengan dunianya sendiri. "Aku minta maaf," katanya.

Lihat selengkapnya