Raka mengetahui bahwa mereka akan menjadi orang tua.
°˖✧✿✧˖°
Pagi itu sebenarnya tidak berbeda dari pagi-pagi sebelumnya.
Cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai kamar. Udara masih terasa sejuk. Dari dapur terdengar suara air mengalir, sementara aroma teh hangat perlahan memenuhi ruangan.
Raka masih berada di tempat tidur ketika menyadari sisi sebelahnya sudah kosong.
Ia membuka mata.
"Alya?"
Tidak ada jawaban.
Raka duduk dan melihat jam.
"Masih pagi."
Ia kemudian mendengar langkah kaki dari arah kamar mandi.
Alya muncul dengan wajah yang tampak sedikit pucat.
Raka langsung memperhatikannya.
"Kamu kenapa?"
Alya menggeleng.
"Enggak apa-apa."
"Kamu kelihatan pucat."
"Mungkin kurang tidur."
Raka berdiri.
"Masih mual?"
Alya terdiam sesaat.
"Sedikit."
Raka mendekat.
"Sudah beberapa hari, kan?"
Alya mengangguk.
"Iya."
"Kenapa tidak bilang?"
"Aku sudah bilang."
"Katamu cuma masuk angin."
Alya tersenyum kecil.
"Memang mungkin begitu."
Raka menatapnya penuh perhatian.
"Kalau tidak membaik, kita periksa."
Alya tidak langsung menjawab.
Ada sesuatu yang sejak beberapa hari terakhir memenuhi pikirannya.
Sesuatu yang membuatnya sering diam.
Sesuatu yang membuat dadanya berdebar setiap kali memikirkan kemungkinan tertentu.
Namun ia belum berani mengatakannya kepada Raka.
Belum.
"Raka."
"Iya?"
"Kalau misalnya..."
Alya berhenti.
"Kalau misalnya apa?"
Alya menggeleng.
"Enggak jadi."
Raka mengerutkan kening.
"Kamu menyembunyikan sesuatu?"
"Enggak."
"Alya."
"Aku benar-benar belum tahu."
Kalimat itu membuat Raka semakin bingung.
"Belum tahu apa?"
Alya menatapnya beberapa detik.
Kemudian ia tersenyum kecil.
"Nanti."
Raka menghela napas.
"Baik."
Ia tidak memaksa.
Setelah sarapan, Raka bersiap pergi bekerja.
Sebelum meninggalkan rumah, ia menghampiri Alya.
"Kalau badanmu tidak enak, jangan memaksakan diri."
"Aku tahu."
"Kalau perlu sesuatu, telepon aku."
"Iya."
"Jangan bilang 'enggak apa-apa' kalau sebenarnya ada apa-apa."
Alya tersenyum.
"Baik, Pak Suami."
Raka tertawa.
"Nah, begitu."
Ia mencium kening Alya dengan lembut.
Namun ketika Raka berjalan menuju pintu, Alya memanggilnya.
"Raka."
Raka berbalik.
"Hm?"
"Kalau nanti aku punya sesuatu yang ingin kusampaikan..."
"Aku akan dengarkan."
"Tanpa bertanya terlalu banyak?"
"Tanpa memaksamu."
Alya mengangguk.
"Terima kasih."
Raka tersenyum.
"Sampai nanti."
"Sampai nanti."
Pintu tertutup.
Alya berdiri sendiri di ruang tengah.
Tangannya perlahan menyentuh perutnya.
Belum ada perubahan yang terlihat.
Namun hatinya sudah dipenuhi sebuah kemungkinan yang begitu besar.
Ia mengambil sesuatu dari dalam laci.
Sebuah alat tes kehamilan.
Alya memandang benda kecil itu cukup lama.
Kemudian air matanya mulai menggenang.
"Semoga..."
Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
°˖✧✿✧˖°
Siang hari, Raka sedang bekerja ketika ponselnya bergetar.
Pesan dari Alya.
Alya: Kamu sibuk?
Raka langsung membalas.
Raka: Sedikit. Kenapa?
Tidak ada balasan selama beberapa menit.
Kemudian muncul pesan baru.
Alya: Kalau aku minta kamu pulang lebih cepat, bisa?
Raka menatap layar.
Ada sesuatu dalam pesan itu yang terasa berbeda.
Raka: Bisa. Kamu kenapa?
Alya: Aku ingin bicara langsung.
Raka langsung mengambil napas panjang.
Pikiran buruk mulai muncul.
Ia menelepon.
Alya mengangkat.
"Halo?"
"Kenapa?"
"Kenapa apa?"
"Suaramu."
"Memangnya kenapa?"
"Kamu seperti habis menangis."
Alya terdiam.
"Alya?"
"Aku tidak menangis."
"Kalau begitu kenapa suaramu begitu?"
"Aku cuma..."
Ia berhenti.
Raka semakin cemas.
"Apakah kamu sakit?"
"Enggak."
"Ada sesuatu terjadi?"
"Enggak."
"Kalau begitu kenapa kamu minta aku pulang?"
Alya menarik napas.
"Karena ada sesuatu yang ingin kusampaikan."
"Baik."
"Raka..."
"Iya?"
"Jangan terlalu banyak berpikir dulu."
Raka hampir tertawa karena gugup.
"Bagaimana aku bisa tidak berpikir kalau istriku menelepon dan meminta aku pulang?"
Alya tertawa kecil.
Tawa itu membuat Raka sedikit lega.
"Aku pulang setelah selesai urusan."
"Jangan terburu-buru."
"Kamu tadi bilang pulang lebih cepat."
"Iya."
"Berarti penting."
"Memang."
Raka mengangguk meskipun Alya tidak dapat melihatnya.
"Baik. Tunggu aku."
"Raka?"
"Iya?"
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Sudah selalu pulang."
Raka tersenyum.
"Ke rumah memang harus pulang."
Telepon berakhir.
Namun sepanjang perjalanan pulang, rasa penasaran Raka semakin besar.
Ia membayangkan berbagai kemungkinan.
Apakah Alya sakit?
Apakah ada masalah di rumah?
Apakah sesuatu terjadi pada keluarga mereka?
Tidak satu pun terpikir oleh Raka bahwa jawaban yang menunggunya di rumah akan mengubah seluruh hidup mereka.
Ketika sampai, Raka melihat Alya duduk di ruang tengah.
Wajahnya terlihat tenang.
Tetapi matanya menyimpan sesuatu.
Raka menutup pintu.
"Aku pulang."
Alya berdiri.
"Selamat datang."
Raka mendekat.
"Jadi?"
Alya tersenyum.
"Kamu langsung bertanya?"
"Aku penasaran."
Alya menggeleng.
"Duduk dulu."
Raka duduk.
Alya mengambil sebuah kotak kecil.
Tangannya sedikit gemetar.
Raka memandang benda itu.
"Apa itu?"
"Hadiah."
"Untukku?"
"Iya."
"Hari ini bukan ulang tahunku."
"Aku tahu."
"Berarti?"
Alya duduk di hadapannya.
"Raka..."
"Iya?"
Alya menyerahkan kotak itu.
"Tolong buka."
Raka menerimanya.
Jantungnya berdebar.
Ia membuka tutup kotak perlahan.
Dan seketika matanya berhenti pada benda kecil di dalamnya.
Dua garis.
Raka tidak langsung memahami.
Ia mengangkat wajah.
"Alya..."
Alya menahan napas.
"Ini..."
Raka kembali melihat benda itu.
"Ini maksudnya..."
Alya tersenyum sambil menangis.
"Kita akan punya bayi."
°˖✧✿✧˖°
Raka membeku.
Untuk beberapa detik, ia benar-benar tidak mampu mengatakan apa pun.
Tangannya masih memegang kotak kecil itu.
Matanya berpindah dari alat tes ke wajah Alya.
"Kamu..."
Alya mengangguk.
"Iya."
"Benarkah?"
Alya tertawa sambil menghapus air mata.
"Insyaallah."
Raka menelan ludah.
"Kita..."
"Iya."
"Kita akan menjadi orang tua?"
Alya mengangguk lagi.
Air mata Raka tiba-tiba jatuh.
Alya terdiam.
Ia belum pernah melihat Raka menangis seperti itu.
Raka menundukkan kepala.
Tangannya menutup wajah.
"Aku..."
Suaranya bergetar.
"Aku tidak tahu harus bilang apa."
Alya mendekat.
"Kamu bahagia?"
Raka mengangkat wajah.
"Bahagia?"
Ia tertawa kecil di antara air matanya.
"Aku bahkan tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaanku."
Alya ikut menangis.
Raka berdiri dan menghampirinya.
Ia memeluk Alya dengan hati-hati.
"Kita benar-benar akan punya anak."
Alya mengangguk di dadanya.
"Iya."
"Ya Allah..."
Raka memejamkan mata.
"Terima kasih."
Alya menangis semakin deras.
Raka mengusap punggungnya.
"Aku takut."
Alya mengangkat wajah.
"Takut?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena sekarang aku punya alasan yang jauh lebih besar untuk belajar menjadi orang baik."
Alya tersenyum di balik air mata.
"Kamu sudah baik."
"Aku masih banyak kurangnya."
"Kita sama-sama belajar."
Raka mengangguk.
"Aku ingin menjadi ayah yang baik."
"Kamu akan belajar."
"Aku ingin anak kita merasa aman."
Alya menggenggam tangannya.
"Dia akan punya rumah yang penuh kasih."
Raka menatap Alya.
"Karena kamu?"
"Karena kita."
Kalimat itu membuat Raka kembali menangis.
Ia kemudian berjongkok di hadapan Alya.
Bukan untuk melakukan sesuatu yang berlebihan.
Ia hanya menatap perut Alya dengan mata penuh haru.
"Di sana sudah ada seseorang?"
Alya tersenyum.
"Masih sangat kecil."
Raka tertawa pelan.
"Belum kelihatan."
"Memang."
"Tapi sudah membuat ayahnya menangis."
Alya tertawa.
"Dan ibunya juga."
Raka meletakkan tangannya di atas tangan Alya.
"Boleh?"
Alya mengangguk.
Raka menyentuh perut Alya dengan sangat lembut.
"Halo."