Dulu Aku Takut Kehilanganmu
Raka mengenang masa ketika ia hampir kehilangan Alya.
°˖✧✿✧˖°
Malam itu, Raka duduk sendirian di beranda rumah mereka. Alya sudah tidur sejak dua jam lalu, kelelahan setelah seharian mengurus Bu Ratna yang sedang flu. Rumah itu sunyi, hanya suara jangkrik dan gemericik air dari saluran yang tersumbat di sudut jalan yang menemani. Raka menatap langit yang gelap, mencoba menemukan bintang di antara awan tebal yang menggantung sejak sore.
Dia tidak bisa tidur.
Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya sejak tadi siang. Saat dia membuka lemari pakaian untuk mencari kemeja, dia menemukan sebuah kotak kecil di balik tumpukan sweter Alya. Kotak itu bukan miliknya. Penasaran, Raka membukanya, dan di dalamnya dia menemukan sebuah surat yang sudah menguning, dilipat rapi, dengan tulisan tangan Alya di bagian depan: "Untuk Raka, kalau aku sudah siap."
Raka tidak membacanya. Dia mengembalikan kotak itu ke tempatnya, lalu menutup lemari. Tapi sejak itu, hatinya gelisah. Surat itu mengingatkannya pada masa-masa sulit yang pernah mereka lalui—masa ketika dia hampir kehilangan Alya, masa ketika dia berpikir bahwa pernikahan mereka tidak akan bertahan.
Malam itu, kenangan itu datang kembali seperti air bah. Raka menutup matanya, dan dia kembali ke lima tahun lalu—ke masa ketika dia masih bekerja sebagai kurir sepeda, ketika mereka tinggal di apartemen kecil dengan air yang sering mati, dan ketika Alya jatuh dalam depresi setelah kehilangan bayi mereka. Masa itu adalah masa tergelap dalam pernikahan mereka, dan Raka tidak pernah benar-benar membicarakannya dengan siapa pun. Bahkan dengan Alya, mereka hanya menyinggungnya sekilas, lalu berpindah topik.
Tapi malam ini, kenangan itu menuntut untuk dihadapi.
°˖✧✿✧˖°
Raka mengingat hari itu dengan jelas. Hari ketika dia pulang dari kerja dan menemukan Alya duduk di lantai kamar mandi, menangis tersedu-sedu. Keran air terbuka, dan air membanjiri lantai. Raka langsung mematikan keran, lalu memeluk Alya yang menggigil.
"Alya, ada apa?"
Alya tidak menjawab. Dia hanya menangis, tubuhnya gemetar seperti daun tertiup angin. Raka memeluknya lebih erat, membiarkan air mata Alya membasahi kemejanya.
"Alya, bicara sama aku. Ada apa?"
Akhirnya, Alya mengangkat wajahnya. Matanya merah, hidungnya bengkak, dan bibirnya bergetar. "Aku nggak bisa, Raka. Aku nggak bisa terus begini. Aku merasa kosong."
Raka merasakan dadanya seperti ditusuk. Dia sudah menduga bahwa Alya masih belum pulih sepenuhnya setelah kehilangan bayi mereka. Tapi dia tidak menyangka bahwa Alya menyimpan rasa sakit itu sendirian, tanpa memberitahunya.
"Kenapa kamu nggak bilang?" tanya Raka, suaranya serak.
"Karena aku nggak mau nambah beban kamu," jawab Alya. "Kamu sudah cukup capek ngurus semuanya. Aku nggak mau jadi beban."
Raka menatap Alya, lalu meraih wajah istrinya dengan kedua tangan. "Alya, dengar aku. Kamu bukan beban. Kamu nggak akan pernah jadi beban. Aku menikahi kamu bukan karena aku mau hidup yang mudah. Aku menikahi kamu karena aku mau hidup yang berarti."
Alya menangis lagi. "Tapi aku merasa gagal, Raka. Aku gagal jadi istri. Aku gagal jadi ibu. Aku gagal jadi anak. Aku gagal dalam semuanya."
"Kamu nggak gagal," kata Raka tegas. "Kamu sedang terluka. Dan itu berbeda."
Malam itu, Raka duduk di lantai kamar mandi bersama Alya sampai air mata Alya habis. Dia tidak memaksa Alya untuk bangkit. Dia hanya duduk di sana, menggenggam tangan Alya, dan berkata, "Aku di sini. Aku nggak akan kemana-mana."
°˖✧✿✧˖°
Setelah malam itu, Raka memutuskan untuk mencari bantuan profesional. Dia mengajak Alya ke psikolog, meskipun Alya awalnya menolak. "Aku nggak gila," kata Alya.
"Aku tahu kamu nggak gila," kata Raka. "Tapi kamu butuh bantuan. Dan aku butuh bantuan untuk ngertiin kamu. Kita nggak harus lewatin ini sendirian."
Alya akhirnya setuju. Mereka menghadiri sesi konseling seminggu sekali selama tiga bulan. Di sesi pertama, Alya hanya duduk diam, menolak berbicara. Di sesi kedua, dia mulai membuka sedikit. Di sesi ketiga, dia menangis lagi—tapi kali ini, bukan karena sedih, melainkan karena lega.
" aku merasa seperti kehilangan diriku sendiri," kata Alya kepada psikolognya. "Aku nggak tahu siapa aku lagi. Aku dulu orang yang ceria, yang suka bercanda, yang selalu punya semangat. Sekarang aku cuma... kosong."
Psikolog itu mengangguk. "Itu wajar. Kehilangan bayi adalah trauma yang berat. Tapi kamu tidak sendirian. Kamu punya suami yang peduli. Dan kamu punya kekuatan dalam dirimu yang belum kamu temukan kembali."
Di luar ruang konseling, Raka menunggu dengan gelisah. Setiap kali Alya keluar dari ruangan itu, Raka selalu bertanya, "Gimana?" Dan Alya selalu menjawab dengan senyum kecil, "Lumayan."
Perlahan-lahan, Alya mulai pulih. Dia kembali bekerja, meskipun hanya paruh waktu. Dia mulai memasak lagi, meskipun kadang-kadang hanya nasi goreng sederhana. Dia mulai tersenyum lagi, meskipun kadang-kadang senyumnya masih terlihat lelah.
Suatu malam, ketika mereka sedang makan malam bersama, Alya tiba-tiba berkata, "Raka, aku minta maaf."
Raka mengangkat kepalanya. "Untuk apa?"
"Untuk semua yang aku lakuin selama ini. Aku terlalu fokus sama kesedihanku sampai lupa bahwa kamu juga kehilangan. Kamu juga sedih. Kamu juga kehilangan bayi itu. Tapi kamu nggak pernah nunjukin. Kamu selalu kuat untuk aku."
Raka meletakkan sendoknya. "Aku nggak selalu kuat, Alya. Ada malam-malam di mana aku nangis di kamar mandi setelah kamu tidur. Ada hari-hari di mana aku merasa nggak mampu. Tapi aku nggak mau kamu tahu, karena aku takut... aku takut kalau aku nunjukin kelemahanku, kamu akan makin hancur."
Alya menatap Raka. Air matanya jatuh lagi, tapi kali ini bukan karena sedih. "Kamu nggak harus selalu kuat, Raka. Kamu juga manusia. Kamu juga boleh nangis. Kamu juga boleh hancur. Aku nggak akan pergi."
Raka menundukkan kepalanya. Untuk pertama kalinya sejak kehilangan bayi mereka, Raka menangis di depan Alya. Bukan tangis yang dramatis, hanya air mata yang mengalir pelan di pipinya. Alya berdiri dari kursinya, lalu memeluk suaminya erat.
"Aku di sini," bisik Alya. "Aku nggak akan kemana-mana."
°˖✧✿✧˖°
Raka masih duduk di beranda ketika pikirannya membawanya ke masa-masa setelah pemulihan Alya. Masa itu bukan masa yang mudah. Mereka masih berjuang dengan keuangan, masih tinggal di apartemen kecil yang sama, dan masih belum bisa memiliki anak. Tapi ada sesuatu yang berubah dalam diri mereka—mereka menjadi lebih jujur satu sama lain.
Setiap malam, sebelum tidur, mereka selalu menyempatkan diri untuk berbicara. Tidak tentang hal-hal besar, kadang hanya tentang apa yang terjadi hari itu, tentang pelanggan yang menyebalkan, tentang tetangga yang berisik, tentang mimpi yang mereka alami semalam. Tapi dari percakapan kecil itu, mereka belajar bahwa kejujuran bukan tentang membicarakan hal-hal besar. Kejujuran adalah tentang berbagi hal-hal kecil, tanpa takut dihakimi.
Suatu hari, Alya pulang dari rumah Bu Ratna dengan wajah yang pucat. Raka langsung tahu ada sesuatu yang salah.