Kau Bukan Milikku, Kau Pilihanku
Raka menyadari makna cinta yang sebenarnya: bukan memiliki seseorang, tetapi memilihnya setiap hari.
°˖✧✿✧˖°
Pagi itu Raka terbangun lebih awal dari biasanya. Jam di dinding baru menunjukkan pukul empat lewat lima belas menit, tapi matanya sudah tidak bisa terpejam lagi. Di sampingnya, Alya masih tidur dengan posisi miring menghadap dinding, selimut menutupi separuh tubuhnya. Raka menatap punggung istrinya itu lama—punggung yang sudah dia kenal selama delapan tahun, sejak mereka masih mahasiswa yang sering bertemu di perpustakaan kampus.
Ada sesuatu yang berbeda dari pagi ini. Bukan karena Alya, bukan karena rumah, bukan karena pekerjaan. Ada sesuatu yang berbeda dari dalam diri Raka sendiri. Seperti ada suara kecil yang berbicara di kepalanya, mengingatkannya pada sesuatu yang belum selesai.
Raka bangkit dari ranjang dengan hati-hati, berusaha tidak membangunkan Alya. Dia berjalan ke dapur, menuangkan air ke dalam ceret, lalu menyalakan kompor. Sambil menunggu air mendidih, dia duduk di kursi makan dan menatap halaman belakang yang masih gelap. Rumah sewa kecil mereka di kota baru itu memiliki taman mungil yang mereka tanami sayuran—cabai, tomat, dan beberapa batang seledri yang selalu dirawat Alya dengan penuh perhatian.
Pikirannya melayang ke percakapan yang dia dengar kemarin sore. Dia tidak sengaja mendengar Alya berbicara dengan Nadia di telepon. Alya tidak tahu bahwa Raka sedang berada di ruang sebelah, dan pintu kamar tidak sepenuhnya tertutup.
" aku nggak tahu, Nad. Kadang aku merasa aku terlalu banyak menuntut. Raka udah ngasih semuanya, tapi aku masih merasa kurang."
"Kurang apa?" tanya Nadia di ujung telepon.
"Aku nggak tahu. Mungkin aku cuma capek. Mungkin aku cuma butuh waktu untuk diri sendiri. Tapi aku takut kalau aku bilang ke Raka, dia akan salah paham."
Raka tidak mendengar kelanjutan percakapan itu. Dia buru-buru berjalan ke dapur, pura-pura tidak mendengar apa pun. Tapi kata-kata Alya itu terus terngiang di kepalanya. "Aku masih merasa kurang." Apa yang kurang? Apa yang belum dia berikan? Apa yang salah?
Pertanyaan-pertanyaan itu menggerogoti Raka sepanjang malam. Dia tidak bisa tidur, dan ketika akhirnya dia tertidur, dia bermimpi buruk tentang Alya yang pergi meninggalkannya. Mimpi itu begitu nyata sampai Raka terbangun dengan keringat dingin.
°˖✧✿✧˖°
Suara air mendidih membuyarkan lamunan Raka. Dia bangkit, menyeduh kopi untuk dirinya sendiri, lalu duduk kembali di kursi makan. Dari arah kamar, dia mendengar suara langkah kaki. Alya muncul di ambang pintu dapur dengan rambut acak-acakan dan mata setengah tertutup.
"Kamu bangun jam segini?" tanya Alya sambil mengucek matanya.
"Nggak bisa tidur," jawab Raka.
Alya berjalan ke arah Raka, lalu duduk di kursi sebelahnya. "Ada apa? Mimpi buruk?"
"Enggak. Cuma... banyak pikiran."
Alya menatap Raka dengan mata yang tiba-tiba waspada. "Pikiran tentang apa?"
Raka terdiam. Dia ingin bertanya tentang percakapan kemarin. Dia ingin bertanya apa yang kurang, apa yang salah, apa yang bisa dia perbaiki. Tapi kata-kata itu tidak keluar dari mulutnya.
"Tentang kita," jawab Raka akhirnya.
Alya terdiam. Dia menatap Raka lama, lalu menghela napas. "Kamu dengar aku ngomong sama Nadia kemarin, ya?"
Raka mengangguk.
"Aku minta maaf," kata Alya. "Aku nggak bermaksud bikin kamu merasa nggak cukup."
"Tapi kamu bilang kamu masih merasa kurang. Aku pengen tahu, kurang apa? Apa yang belum aku kasih?"
Alya menundukkan kepalanya. Untuk beberapa saat, tidak ada suara selain gemericik air dari keran yang belum sepenuhnya tertutup. Alya bangkit, menutup keran itu, lalu duduk kembali di hadapan Raka.
"Raka, kamu nggak salah. Kamu udah ngasih semuanya. Tapi aku... aku merasa aku kehilangan diriku sendiri."
"Apa maksudnya?"
Alya mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca. "Aku merasa aku cuma jadi 'istri Raka'. Aku lupa siapa Alya. Aku lupa apa yang aku suka, apa yang aku ingin, apa yang aku impikan. Semua yang aku lakuin sekarang cuma tentang kamu, tentang Mama, tentang rumah tangga. Aku nggak punya ruang untuk diriku sendiri."
Raka terdiam. Kata-kata Alya itu seperti palu yang menghantam dadanya. Dia tidak pernah menyadari bahwa Alya merasa seperti itu. Dia selalu berpikir bahwa dia sudah menjadi suami yang baik—mencintai, melindungi, mencukupi. Tapi ternyata, tanpa dia sadari, dia telah membuat Alya kehilangan dirinya sendiri.
"Aku nggak pernah mau kamu merasa seperti itu," kata Raka, suaranya serak.
"Aku tahu. Dan ini bukan salahmu. Ini salahku karena aku nggak pernah bilang. Aku terlalu takut untuk jujur."
°˖✧✿✧˖°
Percakapan itu berlangsung lebih lama dari yang mereka duga. Matahari sudah naik ketika mereka akhirnya berhenti berbicara. Alya menangis beberapa kali, dan Raka menangis juga—meskipun dia berusaha menyembunyikannya. Mereka berbicara tentang banyak hal: tentang mimpi Alya yang dulu ingin menjadi penulis, tentang hobi melukis yang dia tinggalkan setelah menikah, tentang perasaan Alya yang selalu merasa bersalah jika dia melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri.
"Aku selalu merasa egois kalau aku mau waktu untuk diriku sendiri," kata Alya. "Aku selalu merasa aku harus selalu ada untuk kamu, untuk Mama, untuk semua orang. Tapi aku nggak pernah ada untuk diriku sendiri."
Raka meraih tangan Alya. "Alya, aku nggak pernah minta kamu untuk mengorbankan dirimu sendiri. Aku menikahi kamu karena aku ingin kamu bahagia. Kalau kamu nggak bahagia, apa artinya pernikahan kita?"
Alya menatap Raka. "Kamu nggak marah?"
"Kenapa aku harus marah? Kamu udah jujur. Itu yang aku minta dari kamu sejak dulu. Jujur, apa pun yang terjadi."
Mereka memutuskan untuk membuat perubahan. Alya akan mulai meluangkan waktu untuk dirinya sendiri—setiap Sabtu pagi, dia akan pergi ke kafe untuk menulis, atau melukis, atau sekadar membaca buku. Raka akan mengambil alih beberapa tugas rumah tangga, dan mereka akan lebih sering berbicara tentang perasaan mereka, bukan hanya tentang logistik kehidupan.
Namun, perubahan itu tidak semudah yang mereka bayangkan. Minggu pertama, Alya merasa bersalah ketika dia meninggalkan Raka di rumah untuk pergi ke kafe. Minggu kedua, Raka lupa membeli sayuran karena sibuk dengan pekerjaannya. Minggu ketiga, mereka bertengkar tentang hal sepele—tentang piring yang tidak dicuci, tentang handuk yang diletakkan di tempat yang salah.
"Kamu bilang kamu mau bantu, tapi kamu nggak pernah bener-bener bantu!" kata Alya suatu malam.