Lembayung senja merayap perlahan melintasi pucuk-pucuk pohon pinus di halaman belakang, menyebarkan rona jingga keemasan yang menenangkan di atas lantai beranda kayu jati. Aroma seduhan teh melati yang mengepul hangat menguar lembut di antara semilir angin danau. Bertahun-tahun telah bergulir tanpa suara, menorehkan jejak garis usia di pelipis mereka berdua, namun kedamaian sore itu terasa begitu khidmat bagi sepasang jiwa yang telah menempuh ribuan kilometer perjalanan takdir. Raka duduk bersandar di kursi rotan panjang, memandangi sosok perempuan di hadapannya dengan binar mata yang tak pernah redup dimakan zaman. Raka tersenyum melihat perempuan yang dahulu membuatnya jatuh cinta setengah mati.
“Mengapa kau terus memandangiku seperti itu, Mas? Seolah kau baru pertama kali melihatku menyeduh teh melati di beranda ini,” tegur Alya seraya meletakkan teko porselen bermotif teratai biru ke atas meja kayu. Senyumnya terkembang manis, memancarkan keteduhan batin yang selalu menenteramkan sanubari suaminya.
“Aku hanya sedang bersyukur pada kemurahan takdir, Sayang,” sahut Raka lirih seraya membalas tatapan bening sang istri. “Memandangi wajahmu di saat senja selalu membawaku kembali pada rasa takjub yang sama seperti tiga puluh tahun silam saat pertama kali kita bersitatap.”
Alya tertawa renyah, gelak tawa yang selalu menjadi melodi terindah bagi telinga suaminya. “Kau selalu saja pandai merangkai pujian manis seperti bujang yang sedang kasmaran. Padahal kerutan perak di keningmu sudah tidak bisa disembunyikan lagi dari cermin.”
“Kerutan ini adalah saksi bisu dari setiap debar jantungku saat memperjuangkan cintamu dahulu, Al,” balas Raka sungguh-sungguh seraya meraih cangkir teh hangat. “Dan setiap detiknya amat berharga bagiku.”
“Dan aku tidak pernah sedetik pun menyesal telah memilih menjadi pelabuhan terakhir dari seluruh perjuanganmu itu, Mas,” bisik Alya haru. Jemari lentiknya menyentuh punggung tangan Raka dengan kelembutan yang mendalam.
Raka menyesap tehnya perlahan. Alya tetap menjadi perempuan yang sama—ramah menyapa semesta, bertutur kata selembut sutra, dan melimpahkan kasih tanpa pamrih kepada siapa saja.
“Teh racikanmu sore ini terasa jauh lebih harum dan menenangkan jiwa, Al,” puji Raka menatap mata istrinya.
“Karena teh ini kuseduh bersama rasa syukur atas kebersamaan kita yang abadi, Mas,” jawab Alya tersenyum simpul menatap riak air danau.
༺♡༻
Keheningan yang damai di beranda sore itu tiba-tiba terusik ketika Alya meraba saku rajutan cardigannya yang tebal. Jemari lentiknya menarik keluar sebuah kotak kecil berbahan kayu jati berpelitur gelap yang sudut-sudutnya telah memudar dimakan dekade. Kotak berukir sulur kamboja itu diletakkannya tepat di samping cangkir teh porselen mereka. Permukaan kayu usang memantulkan sisa mentari senja, menghadirkan kembali kenangan getir yang pernah membelenggu awal perjalanan mereka berdua puluhan tahun silam.
“Aku menemukan kotak berukir ini tadi siang di laci terdalam meja kerjamu waktu merapikan berkas lama, Mas,” tutur Alya dengan nada bicara yang sarat rasa penasaran. Matanya menatap lekat pada sepasang mata Raka yang seketika terpaku memandangi kotak tersebut.
Raka menarik napas tertahan, memandang ukiran inisial nama mereka yang terpahat samar di penutup kayu. “Kotak itu... sejujurnya kupikir sudah hilang tercecer saat kita pindah rumah sepuluh tahun yang lalu.”
“Ternyata kau menyimpannya dengan sangat rapi dan rapat di balik tumpukan berkas penting,” kata Alya seraya membuka pengait kuningan kecil yang berdecit halus. “Dan coba lihat apa yang ada di dalamnya, Mas. Benda ini masih tersimpan utuh di sini.”
Alya merogoh beludru merah yang telah kusam, lalu mengangkat seuntai gelang perak sederhana dengan pelat logam tipis. Di balik pelat logam itu, terukir sebaris kalimat pendek yang pernah menjadi badai dahsyat dalam hubungan mereka: *Milikku Seorang.*
“Kata-kata itu... dulu terdengar sangat angkuh, kaku, dan menakutkan, bukan?” bisik Raka dengan suara bergetar rendah, memandang gelang perak di jemari istrinya dengan rasa bersalah yang belum sepenuhnya pupus.
“Bukan hanya angkuh, Mas, tetapi juga sempat membuat nafasku terasa sesak setiap kali melihatnya melingkar di pergelangan tanganku,” balas Alya jujur namun tanpa nada dendam sedikit pun di wajahnya. “Kau ingat saat pertama kali melingkarkan gelang ini di tanganku pada malam perayaan ulang tahunku yang kedua puluh dua?”
“Tentu saja aku masih mengingat setiap detiknya dengan jelas di kepalaku, Al,” sahut Raka tercekat, rasa malu masa muda merayapi rongga dadanya. “Malam itu di tepi jembatan kota, aku mencengkeram tanganmu dan berkata: *Mulai malam ini kau milikku seorang. Tidak boleh ada lelaki lain yang mendekatimu, dan kau tidak boleh berpaling sedetik pun dariku.*”
“Waktu itu sorot matamu liar dipenuhi kepanikan yang membakar dadamu, Mas,” kenang Alya menatap lurus ke dalam manik mata suaminya. “Kau mengatakannya bukan seperti seorang pecinta yang lembut, melainkan seperti penguasa egois yang sedang mematok batas tanah jajahannya.”
“Karena saat itu aku begitu rapuh, miskin, dan dipenuhi rasa rendah diri yang akut,” aku Raka dengan nada getir yang menusuk sanubarinya sendiri. “Aku takut kehilanganmu, Al. Ketakutan itu menjelma menjadi obsesi gila yang sangat memalukan bagiku.”
“Dan kau mengira bahwa dengan menandai diriku lewat gelang ini, kau bisa mengunci hatiku untuk selamanya?” tanya Alya seraya menyodorkan gelang dingin itu ke telapak tangan suaminya yang terbuka.
“Ya, itulah kebodohan dan kekeliruan terbesarku di masa muda,” jawab Raka menunduk dalam-dalam dengan penyesalan membuncah. “Aku mengira bahwa mencintai adalah menguasai ragamu seutuhnya .”
“Maka ceritakan padaku semua hal yang dulu kau sembunyikan di balik keangkuhanmu itu, Mas,” pinta Alya lembut seraya mengelus pergelangan tangan suaminya dengan penuh pengertian.
༺♡༻
Raka memejamkan matanya rapat-rapat saat dinginnya pelat perak itu menyentuh kulit telapak tangannya yang mulai bergaris usia. Memori masa lalu yang kelam berputar deras seperti pusaran air bah yang mengerikan, membawa kembali suasana rumah sewa sempit mereka di awal pernikahan yang penuh kecurigaan. Desau angin senja di beranda seakan menggemakan kembali kepedihan lama yang kini dibuka kembali di hadapan mereka berdua.
“Dulu aku hidup dalam neraka ketakutanku sendiri yang gelap, Alya,” ujar Raka membuka lembaran luka lama dengan nada suara parau yang gemetar hebat. “Setiap kali ada lelaki lain yang menyapamu dengan ramah di tempat kerja, dadaku langsung terbakar api kecemburuan buta yang menghanguskan akal sehatku. Aku merasa miskin, merasa tidak berharga di matamu, dan terus dihantui rasa waswas kau akan meninggalkanku demi pria lain.”
Alya menghela napas panjang, menatap bayang-bayang dedaunan pinus yang bergoyang pelan ditiup angin sore di halaman berumput.
“Dan rasa takutmu yang berlebihan itu menjelma menjadi jeruji penjara bagiku, Mas,” tutur Alya dengan suara yang sarat luka lama. “Kau memeriksa seluruh riwayat panggilan masuk di ponselku setiap malam tiba. Kau menginterogasiku habis-habisan walau aku hanya terlambat sekejap. Kau bahkan menuntutku membatalkan partisipasiku dalam pelatihan luar kota hanya karena rekan proyekku adalah seorang lelaki.”