Mimpi Besar Hati Kecil

Aditya R
Chapter #1

00. Setelah Doa Sebelum Amin

Ale tak pernah bisa memaafkan para pemberi luka di masa lalunya. Seseorang bilang, Ale tak akan bisa memaafkan mereka, jika ia tak bisa memaafkan dirinya sendiri. Sialnya, orang itu tak memberi tahu bagaimana cara memaafkan diri sendiri.


***


Waktu membedakan pagi

Bukan dengan malam

Dengan pagi yang jauh dari sini


Kopinya ada

Manisnya tidak ada

Pahitnya tidak apa-apa

Rasanya tidak ada apa-apa


00. Setelah Doa Sebelum Amin


Tidak ada lagu yang menyentuh tubuh itu. Sejak kata manusia tak lagi menggema, suara kipas angin mengisi kosong di ruang dengarnya.


Kepalanya mengingat kipas angin sebagai alat musik.

Berbisik, tak berisik.

Menarik, tak membaik.

Memenangkan detik di waktunya.

Menenangkan detak di dadanya.


Warnanya biru, berputar menebar segar sejak tubuh itu berseragam putih abu. 

Birunya muda, sangat muda hingga seseorang yang pernah cinta menamai warnanya biru balita. Belasan tahun berlalu dan biru menua bersama tubuh itu.


Di antara sepuluh dan tiga puluh, tubuh jatuh yang tak terbunuh tumbuh menjauh.


Ruang rasanya penuh sampai punah.

Para pengisinya patuh sampai patah.

Tak bersalah, tak ada yang salah, tapi berdarah.

Ini celah yang tak akan sembuh oleh ceramah.


Mata kakinya buta. Melangkah tanpa tahu arah.

Tubuh ini berdiri dan berlari. Sampai langkahnya tak lagi mampu menyampaikan. Lalu, malamnya bilang, berjalan saja... jangan berlari, karena pelarian bukanlah perjalanan.


Dia masih menyala, masih ada terang yang tak pernah sampai pada ruang pandang semua orang.


Dia menunggu seseorang.

Tidak, dia menunggu orang.

Tidak, dia menunggu yang akan datang.


Dia masih di sini, diam di tempat.

Tempatnya diam, bukan kediaman.

Ini ruang aman yang menolak nyaman.


Tidak ada sakit dan bahagia yang mencarinya.

Sadarnya tak mau hadir, jika sabarnya belum terlahir. Ke mana perginya semua rasa itu? Menyebar dan bersembunyi? Memudar dan tak hidup lagi? Entah, karena semua akhirnya tak jadi yang terakhir.


Ribuan malam ikut ambil peran, menjadi saksi yang paling tersiksa saat tubuh ini menghayati mati. Melawan hening dengan berbaring. Menunggu merasa. Memastikan kemanusiaan. Menghadirkan ketiadaan. Setiap hari, setiap hati menanti pagi.


Cermin retak di pintu lemari melihatnya berdiri dan menghadap. Badannya tegap. Dia menatap, pantulan dirinya meratap.


Tubuhnya laki-laki.

Pikirnya liku-liku.

Mimpinya luka-luka.


Matanya berlarian mencari waktu. Menurut jam yang duduk di meja sebelah lemari, tengah malam sudah terlewati. Sejak tiga menit lalu, kepalanya ada tiga.


Tidak ada ucapan, kue dan lilin.

Tidak ada apa-apa.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya dia dan seisi tubuhnya berdoa bersama.


Dia menarik tubuhnya, mundur sampai terduduk di lantai. Matanya beradu pandang dengan kertas yang rebahan sendirian.


Tidak ada lagu.

Tidak ada cinta.

Tidak ada lagu cinta.


Tangannya meraih pena, saksi bisu yang memelas sejak lama. Apa gunanya pena jika tidak penanya? Tidak akan ada jawaban jika tidak ada pertanyaan.


Dia. Pena. Kertas. Kesepian. Kepasrahan.

Dunia mengambil hati dan memberi mati.

Ruang dan waktunya tercerai, terberai, tapi belum selesai.



Ternyata, masih terasa, masih tersisa —tersiksa.

Lihat selengkapnya