Hari ini
Kamu sudah besok
Aku masih kemarin
Kamu terbang ke langit
Aku terkurung langit-langit
01. Hari Terakhir Jadi Manusia
Akal melemparkan segalanya... sesukanya.
Memaksaku menelan seluruhnya... seutuhnya.
Aku marah, tapi aku tahu ia tak salah.
Aku sebal, tapi semua yang ia lempar memang tak masuk akal.
Ada yang tak berbentuk.
Ada yang tak bernama.
Ada yang tak berasa.
Aku membiarkan... tak menolak, tak menerima.
Aku hanya memberi ruang untuk rasa yang datang.
Semua... semu— semua. Semuanya.
Semuanya? Semuaknya.
Semuaknya? Semualnya.
Penolakan melahirkan kesakitan.
Penerimaan memastikan kematian.
Aku ada, tak ada yang tahu di mana.
Aku benar, tak ada yang mau mendengar.
Keadaan tersamarkan ketiadaan.
Kebenaran tergantikan kekuasaan.
Di sini ada ruang yang porak-poranda, tapi para rasa di dalamnya baik-baik saja. Tidak mati, hanya pindah dan bersembunyi di sisa celah tubuh ini.
Dan hujan dalam hati menyapu setiap hari yang mati.
Para rasa berlomba, berebut kuasa.
Gelap menjajah, mengusir harap, merawat pengap.
Dan sisa cahaya itu... terang, tak menerangi.
Komplotan masa lalu tak tahu waktu, tak mau berlalu.
Datang ke setiap ruang, mencari terang... mencuri tenang.
Barisan masa kini hanya menunggu, meringkuk malu-malu.
Tidak menyebrang, tidak sekarang.
Tubuh ini berdiri dan berhenti, seperti dunianya saat ini.
Ia patuh... dan jatuh. Mengeluh... dan menjauh.
Aku hanya melihat, tak bisa berbuat.
Aku benci takdirku yang itu.
Akal selalu sibuk memilih yang mau masuk.
Merawat ruang kenang di balik kening.
Tidak menyerang, hanya menyaring.
Aku pernah terang. Akal terus terang
Pagi selalu hening. Malam selalu bising.
Ada tanda tanya.
Tak ada yang bertanya.
Ada tanda seru.
Tak ada yang seru.
Ada tanda pisah— tak bisa memisahkan.
Dia masih ada, berdiri di tempat yang sama.
Menunduklah... lalu, liat matanya... mata kakinya...
Terpejam... tertidur.
Tenggelam... terkubur
Melawat? Melayat? Apa gunanya?
Teringat? Terlewat? Apa bedanya?
Di tubuh ini ada selapis ingatan, membentang dan merata. Semua waktunya tersimpan di sana. Termasuk waktu yang hanya berlalu dan pergi. Tak ada yang terukir, seolah ia memang tak pernah hadir.
Lihatlah, Akal sedang bertingkah. Ia mengambil satu waktu yang sudah lama berlalu. Dia memutar waktu itu di layar besar. Cukup besar untuk melihat garis bahagia di wajahnya. Mata dan bibirnya tersenyum... sama lebarnya.
Aku rindu Ale yang itu.
Langkahnya selalu cerah, seperti manusia yang tak tahu apa-apa tentang amarah dan gelisah.
Aku masih merasakan hari itu.
Satu masa di mana taman bunga di hatinya bermekaran, bebas dan berwarna.
Yang layu akan berlalu.
Yang mekar akan bersabar.
Kupu-kupu hidup bahagia dengan warna-warna indahnya.
Setiap hari. Setiap waktu.
Sampai Ale bertemu dengan sore itu...
Sore karya manusia yang tak kenal lelah merasa mulia.
Meremas dunia sampai tak jelas bentuknya.
Ada dua belati.
Pergi tamasya ke taman hati.
Menjajah yang belum mati.
Menjarah yang punya arti.
Dan merajah... agar ia dan sakitnya abadi di tubuh ini.
Semua indahnya mati dan terkubur di sini.
Pusara sunyi, tempat hari-hari bahagia terkubur seikhlasnya.
Berbagi liang dengan rasa yang tak tahu arti namanya.
Sial...
Dua puluh tahun.
Sakitnya masih sama.
Tak hilang, tak berkurang.
Aku harus bersuara. Meski Ale menutup ruang dengarnya. Aku tak boleh berhenti bersuara. Sunyi yang berbunyi tak pernah gagal melukai.
Maka, aku tetap bersuara.
Berharap ada hati kecil lainnya yang menyambut suaraku.
Semoga…
Semoga ada... sebelum tubuhnya meghantam batas warasnya.
Kamu dengar aku kan?
Ada yang mendengar suaraku, kan?
Aku harus membawamu melintasi lorong waktu. Dua dekade jauhnya, tujuh ribu tiga ratus malam banyaknya.
SD Terang Petang 2002
Hari itu, kelas 4 kebagian masuk siang.
Rasakan anak yang duduk sendirian itu, baris kedua dari kanan. Raut wajahnya memang cerah... pernah cerah, pernah secerah itu.
Di bawah mendung yang berusaha menuju gelap. Sorot mata itu… binarnya seperti sedang melihat surga.
Gerimis menulis garis tipis-tipis di jendela— cukup puitik untuk paragraf pembuka. Lalu cuaca bercerita, memperkenalkan dirinya lewat dingin yang adil dan merata.
Hampir semua murid memakai jaket. Ale lupa bawa jaket, cukup dingin tapi tak sampai menggigil. Dingin yang menular dan menjalar pun tak berdaya melawan hangat di balik dadanya.
Hari ini, dia akan pulang membawa satu dunia baru. Seratus halaman, hitam putih.
Hidungnya kembang kempis membayangkan aroma kertas segar. Sebentar lagi, Ale akan menukar jerih payah menabung dengan satu komik baru.
Uang jajannya seribu. Terbilang kecil kalau dibandingkan dengan teman-temannya. Untuk Ale, itu cukup. Dia tak pernah merasa kurang.
Komik itu, enam ribu harganya. Ini hari ke enam, Ale cukup teguh dan konsisten untuk tutup mulut setiap kali lewat kantin.
Dia menolak keras godaan cilok bumbu kacang. Dia tutup mata saat es kelapa mulai menggoda. Ini waktunya dia tepuk tangan untuk keteguhan hatinya.
Di saku celananya, selembar seribu dan selembar lima ribu berpelukan. Seperti tak mau kalah dari Ale, mereka teguh memegang komitmen untuk tetap bersama di laci kasir toko buku nanti.
Bel istirahat berakhir sudah berbunyi.
Satu bel lagi dan kebahagiaan akan segera ada dalam genggaman.
Riuh suara anak-anak kelas mendadak sunyi saat Yanti, wali kelas mereka, masuk.
Lalu, Euis, kepala sekolah menyusul. Nadia, mengekor di belakang dengan mata sembab.
“Teman kalian kehilangan uang lima ribu di dalam tas.” Euis berucap tanpa salam.
Hawa ceria membias tergantikan oleh aroma tak berdaya anak-anak di hadapan dua orang dewasa.
Hening menulis kabar angin. Tubuh anak-anak itu membacanya. Terpaksa. Dingin memeluk mereka lebih erat. Tak ada cara melepaskan diri dari pelukan cuaca.
Dua orang dewasa di depan sana bersiap menyalak. Semuanya terjebak dan tak mungkin ada yang berani berteriak. Dua orang dewasa tak perlu usaha keras untuk merusak dunia anak-anak. Serempak.
“Semuanya berdiri. Simpan tas di meja.” Suara Euis menembus telinga tanpa perlawanan.