Mimpi Besar Hati Kecil

Aditya R
Chapter #3

02. Sebelum Berangkat ke Neraka

Ada ibu, jadi ibu-ibu

Ada hati, jadi hati-hati

Ada orang, jadi orang-orang

Ada yang sama, jadi yang sama-sama


Aku mau makan, 

bukan makan-makan

Aku mau jalan, 

bukan jalan-jalan


***


02— Sebelum Berangkat ke Neraka


Para lampu di rumah ini beristirahat serempak.

Para manusia yang mengisi semua ruangnya pun kompak.

Terbaring, terlentang dan terpejam.  Tampak nyenyak.


Kamar Ayah dan Mama. 

Kamar Gea dan Dea. 

Kamar Ali dan Ale.


Tidak ada yang punya ruang sendiri. Semuanya bersama, seperti keluarga kelas menengah pada umumnya. 


Satu kamar.

Bersama. Berdua. 

Tidak bersatu. Tidak satu.


Ali sudah pulas sejak suara sumbang tanpa irama menguasai ruang dengar Ale. Ale juga berbaring, bukan... bukan Ale... tapi, tubuhnya. Tubuhnya berbaring. Langit-langit kamar melihatnya menghayati peran sebagai anak yang tidur nyenyak. Matanya memang terpejam, tapi ruang sadar dalam tubuh sudah runtuh dan masih ricuh. Inilah saatnya, aku dan Akal berebut tentang siapa yang berhak menata. 


"Dia harus menangis." Ucapku.

Akal membantah mentah-mentah, "kamu gak ingat seperti apa tubuh ini di bawah hujan?"

"Ingat dan karena itulah dia harus menangis. Sisa lukanya harus luruh dengan cepat. Seluruhnya, secepatnya." 


Cih, aku benci senyum kecut itu!


"Kamu benar-benar kejam. Apa yang dia alami hari ini berawal dari bisikanmu yang terlalu lugu. Kamu terlalu percaya dunia akan selalu berpihak pada kebenaran.... atau kebaikan."


Aku mendengarkan. Aku yakin dia memang sengaja memberi nada penuh penekanan. Terutama di kalimat terakhirnya. Dia tidak cuma bicara, dia menegaskan.


"Aku benar." Sial. cuma dua kata itu yang bisa ku ucapkan.

"Aku tahu. Kamu memang benar.... malah, aku percaya pada semua yang kamu katakan. Tapi dengarlah... dan tolong sadarlah... kamu tak pernah salah, tapi kamu sering bikin masalah.


"..."Duh. Aku tidak menemukan satu kata pun untuk menjawab.


"Rasakan dia— kamu mau dia sehancur apalagi?" Lanjut Akal, datar tapi jelas terdengar sebal.


"Dia benar-benar harus menangis. Dia manusia, melarang dia menangis setelah hancur adalah siksaan serius." Aku merepet. Dia pasti tak paham dan tak percaya, tapi biarkan saja. 


Aku harus bersuara.

Pokoknya... aku harus bersuara. Titik.


"Aku tahu dia manusia. Aku tahu dia hidup di dunia. Dunia bekerja dengan cara berbeda. Cara yang tidak akan mudah kamu pahami. Ada aturan tak tertulis yang bilang, tubuh ini harus berdiri lagi. Cukup berdiri saja. Itu pernyataan kalau dia tak mudah dihancurkan."


"..."


"Bahkan itu bukan aturan, itu perintah. Jadi aku harus membuatnya tak becus menghadapi luka dan tak tahu cara menangis. Oke? Aku harus melakukan itu biar tubuh ini tak jatuh dan tumbuh menjauh.  Kamu gak perlu paham, cukup diam."


"Bagaimana kalau caramu salah?" 


Tubuh sekecil ini tak seharusnya berpikir dan berusaha menutupi luka. Dia harus menangis saat ada yang melukainya. Seperti dia tertawa saat mendengar kalimat jenaka.


"Salah? Bukan masalah.

Dunia memang lebih ramah pada yang salah. 

Dunia tak peduli pada yang kalah. 

Sekarang mundurlah. 

Kamu tahu apa yang benar, tapi tidak tahu kalau manusia lebih sering terluka oleh kebenaran." 


Sial, aku benci sekali  kalimat itu. 

Akal membekali setiap kata dengan ketegasan dan keyakinan yang sama kuatnya. 

Tak tergantikan. 

Tak terbantahkan. 

Tak terpatahkan.


"Kamu juga harus tahu, dalam bahasaku, tak tahu cara menangis berarti dia juga tak akan tahu cara tertawa."  Aku berusaha membekali kataku dengan ketegasan dan keyakinan. 


Tak berguna, suaraku tetap lemah lembut. Akal pasti berusaha menyangkal.  Jadi, langsung kujelaskan padanya. "Itu aturan paling dasar yang tertanam di hati kecil semua manusia, aturan yang tidak masuk akal."


"Oke, aku akan menganggap semua bisikanmu benar utuh. Lalu apa gunanya? Apa gunanya menjadi benar kalau tak ada yang sudi membuka ruang dengar? Pada akhirnya kebenaran itu cuma berkeliling tanpa henti, mengetuk dan terusir... lagi... dan lagi. Sampai waktunya habis sendiri... lalu hilang. Tanpa jejak, seolah memang tak pernah ada."


"..." 


WOI. KENAPA DIA MENYERANGKU SEKERAS ITU!!!

Sial, aku tak punya apa-apa untuk membantah...


"Kamu rasakan sendiri bagaimana sore tadi menghancurkan tubuh ini... Sore yang seharusnya jadi kenangan kemenangan untuk masa depannya. Bayangkan nanti dia bercerita pada anak cucunya, tentang bagaimana dia sangat teguh menabung demi komik incarannya." 


"...." 


"Dan kenangan indah itu tak akan jadi miliknya. 

Semuanya berawal dari bisikan tentang kebenaran yang kamu tanamkan."


"..." 


Woi. woi. woi.

Liciknya... Dia menghabisiku tanpa jeda.

Sial...

Aku tidak punya apa-apa untuk membalasnya. 

Ini terlalu cepat, terlalu mendadak. 


"Sebaiknya, kamu diam dulu, lihat aku, lihat langkahku dan lihat bagaimana dunia bekerja... 

Lihat dan rasakan, hal-hal benar yang kamu peluk erat itu mungkin bukan yang sebenarnya... dan utuh yang kamu cari itu tak lahir seutuhnya."


Oke, aku menyerah. 

Maksudku, entahlah... sepertinya aku merasa bersalah? 

Aku benar dan aku merasa bersalah? 

Aku tahu kebenaran harus diperjuangkan. Aku tidak tahu kalau ia bisa kalah... oleh yang salah.

Mungkin karena tubuh ini terlalu lemah...


Lemah? Bagaimana? 

Kebenaran yang aku tanamkan, kalah? 

Kalah? ...kalah— salah? Mengalah?

Semua yang lemah akan kalah? Harus kalah? 

Menjadi salah? Atau mengalah?


Dan lihatlah... 

Tubuh ini belum genap sepuluh tahun beredar, sejalan dengan dunia yang berputar.

Itu! Perhatikan napasnya... 

Rasakan udara yang menghidupi tubuh ini.

Menarik dan membuang. 

Masuk dan keluar. 

Datang dan pergi.


Lalu lihatlah kelakukan Akal, sibuk di ruang kenang, di balik kening.

Dia memasang layar lebar, memutar ulang ingatan lengkap dengan semua kesakitan di dalamnya... dan memaksaku mengingat semuanya.


"Bisa kau putarkan ingatan lain?"

"Tidak, kamu harus menyimpan ini. Semuanya, sampai bagian terkecilnya."

"Aku? Menyimpan semua kehancuran itu? Yang benar saja! Itu tugasmu."

"Itu tugasmu." Akal memotong dan menegaskan.

"Kenapa jadi tugasku?"

Lihat selengkapnya