Semalam ada bintang jatuh
Aku berdoa
Pagi ini bintangnya bangun lagi
03— Tidak Akan Ada Lagi
Ale berangkat.
Harus berangkat.
Pilihan buruk.
Aku merajuk, Akal membujuk.
Akal berucap penuh yakin:
"Cara terbaik mematikan pembunuh adalah hidup lagi."
Demi tetap sehat, Akal menempatkan semua luka yang ada seperti aurat. Mengurung mereka di bagian tubuh paling keramat, menutupnya rapat-rapat.
Pilihan cepat dan belum tentu tepat. Akal bilang, hari ini tak perlu tepat, cukup selamat.
Ricuh di dalam tubuh. Tumbuh terlalu jauh. Sisa rasa yang tak luruh menjadi gemuruh.
Mereka yang terjebak semakin banyak, kompak bersorak. Aku harus menjaga detak. Tubuh ini tak boleh meledak. Akal terus mendesak. Tubuh ini harus bergerak. Melukis jarak, agar sakitnya tak bertambah banyak.
Tempatku terlalu bising, sampai aku merasa asing. Taman hati mengering. Bunga-bunga kehabisan warna, bikin pusing.
Aku berkeliling, merapikan setumpuk puing-puing. Akal sembunyi di balik kening, ruang paling hening.
"Aa berangkat ya, Mama." Ale menunduk cium tangan Mama.
Ale berlutut memeluk Dea, mahluk paling lucu di hidupnya.
"Nanti Dede mau ngeprint lagi ya, Aa." Pintanya.
Bibirnya memberi senyum lebar.
Dan mata yang berbinar tersenyum lebih lebar.
Dia mengangguk, berdiri dan mulai melangkah. Mama dan Dea tetap di sana, memandangi punggung sampai hilang ditelan belokan.
Akal berhasil menata, tidak ada kesedihan dan kesakitan yang terjangkau mata.
Aku harus tepuk tangan. Tubuh ini mulai pandai berbahasa; membual dan berdoa di waktu yang sama.
Aku cuma membantu dengan menyematkan amin di setiap langkahnya.
Sekolah...
Eh, tempat itu...
Tidak, tidak, neraka... neraka dunia.
Tubuh ini melangkah.
Menuju pencipta lukanya, pengawet sakitnya.
Dia tidak pergi menuntut ilmu.
Mulai hari ini, dia pergi ke sana untuk meresmikan kenangan buruk.
Sekarang, setengah dua belas siang.
Tenang, teruslah tenang.
Dan terang... teranglah secukupnya, tak perlu terus terang.
Tubuh ini melangkah.
Berserah, tidak menyerah.
Tanyaku masih tak ada jawabnya.
Kenapa yang bersedih tidak menangis?
Kenapa yang takut tidak menjauh?
Kenapa yang marah yang harus mengalah?
Kemarin, dia berdiri sendiri saat dihabisi. Malamnya dia lupa bagaimana cara tidur untuk manusia. Dia memejamkan mata, tapi kesadarannya tak mau pergi dari tubuhnya.
Lalu, hari berganti... atau berbeda?
Ah, mungkin berubah.