Mimpi Besar Hati Kecil

Aditya R
Chapter #5

04. Rerun—[Tuhan]

***


Debar mengukur

Sadar mengakar

Sabar mengukir


Tubuh ini mengekor.

Patuh sampai jatuh.

Mereka patah.

Begitu parah, begitu indah.

Kertas putih menulis lirih tanpa terima kasih.



04. Rerun—[Tuhan]


Lantai hidupnya tak berbalas.

Lantai dunianya tak beralas.


Kepalanya menengadah.

Beradu tatap dengan langit-langit yang sibuk meratap.

Ale bercerita melalui sorot matanya.


Doa menantikan balasan.

Waktu memberikan alasan.


Detik di garis waktunya melesat meninggalkan detak di balik dadanya.

Dini hari merampas lelap, menyeret batas gelap.

Tubuh ini tersesat di ruang sadarnya sendiri.


Ale memejamkan mata... berkelana di dalam tubuhnya.

Detik yang berlalu memburu, menolak detak yang membatu... dan membisu.


Tubuh ini membuang setiap detik yang datang.

Waktu membalasnya dengan hari-hari tak bahagia.

Hari yang tak akan hidup lama dalam ingatan manusia.

Hari yang pada akhirnya tak jadi apa-apa.


Dengarkanlah, gema yang tak pernah berhenti.

Entah dari mana datangnya... terlalu banyak suara yang tanpa irama, penuh rasa yang entah apa.


Diam berarti membiarkan jiwanya mencari mati.

Bergerak berarti merestui lukanya bersorak lalu mengerak.

Dia masuk lebih dalam, menembus reruntuhan yang belum sempat dia bereskan.


Dia sampai depan satu ruang yang menjamu sisa terang.

Pintunya terbuka memanggil setiap lelah yang berserah.


Akal bertanya, "Kenapa ada tempat semacam itu di sana?"

"Bukan aku yang membangun."

"Kosong?"

"Tidak, sebenarnya tidak. Memang tak terlihat apa-apa tapi tidak kosong."

Akal mengangguk, "okelah, aku tidak mau berusaha memahami. Biar itu jadi tugasmu seutuhnya."


***


Ale berdiri mematung sejenak.

Rasanya tak lagi sama.

Tubuhnya menolak.

Hatinya kehabisan warna.


Di dalam kepalanya, sekolah itu sudah menjadi neraka.

Sore kemarin menghanguskan semua yang indah, menyisakan reruntuhan yang menyesakkan.


Seharusnya dia segera kabur, tak perlu kembali bertempur.

Apalagi memaksa membangun yang sudah hancur lebur.


"Kamu yakin mau menggerakkan langkahnya ke sana? Bebannya terlalu besar untuk tubuh sekecil ini." Aku bertanya tanpa menutupi sebal, Akal sudah terlalu bebal.


"Sejujurnya? Tidak, tapi ini bukan soal keyakinan." Ucapnya, getaran itu... memang getaran keraguan. "Aku menahan air matanya bukan demi bahagianya. "


Ada suara dentuman dari reruntuhan.

Puing sisa hujan kemarin mulai mengering.

Bising... nyaring... dan asing.


Suaranya tak cuma meraja di ruang dengarnya.

Ia menerobos sampai ke ruang rasanya.

Berusaha merusak segala yang ada di dalam tubuhnya.


"Setetes air mata yang dia bawa pulang... akan mengundang air mata lain... milik orang-orang yang dia sayang." Akal berbisik.


Aku tahu, dia tak bisa berseru jika masih ada ragu yang membatu.

Suara itu, terasa bersusah payah menggiring setiap kata yang diucapnya.


"Aku tahu, tubuh ini akan tersakiti lagi hari ini. Dia tak akan tiba-tiba berdaya." Katanya. Dengarlah lirihnya... tak ada lagu yang bisa terdengar sesakit itu.


"Dia... cuma perlu ada, bahkan meski cuma sibuk mencerna setiap sakitnya... Dia... cuma perlu ada." Akal berucap dengan lirih yang sama. Pertanda jika aku cuma harus mendengar dan menerima. Bahkan ketika aku tak percaya dan tak memahaminya.


Aku memilih percaya, pada Akal yang terasa begitu keras dalam menghayati perannya. Meski aku masih tak mampu memahami setiap langkahnya.


"Jika tidak, semua yang terjadi kemarin akan sampai ke telinga setiap orang di rumah. Mama akan mengirim surat sakit, mengantarkan surat itu dengan penuh hati sebagaimana kasih ibu..."

"..." Aku tak menjawab.

Lihat selengkapnya