Mimpi Besar Hati Kecil

Aditya R
Chapter #6

Hati Kecil Lainnya: Bakar Saja Hadiahnya!

Hati Kecil Lainnya: Bakar Saja Hadiahnya!

Sore itu tubuhku terasa ringan saat berpelukan dengan udara. Seperti ada awan cerah di menggantung langit-langit rumah. Di dapur belakang, aku baru saja mencuci beras untuk makan malam ketika suara langkah cepat terdengar mendekat dari arah dapur depan.

“Ma, nanti malam jangan masak ya. Ale mau ke sini,” kata Prisa sambil menyambar gelas.

“Bawa makanan?”

“Kayaknya, dia cuma bilang ‘ada kejutan’. Tapi Mama jangan repot masak, nanti kebanyakan.”


Aku mengangguk pelan. “Tapi kamu tetap bantu Mama siapin piring ya. Dira lagi di depan, bilang sekalian ke dia.”


Prisa mengangguk sambil nyengir. Lalu, seperti teringat sesuatu, dia mengangkat alis dan mendekat ke arahku.


“Eh, Ma… Ale tuh ya, minggu lalu juga udah beliin aku komik. Aku udah bilang jangan beliin apa-apa lagi. Kalau dia ngeyel, aku bakar hadiahnya beneran.”

Aku tertawa pendek. “Kamu tuh... tapi kamu senang kan?”


Dia menoleh sambil berjalan mundur, senyum mengembang. “Senang lah... tapi ya masa tiap minggu dikasih hadiah? Nanti aku manja dong.”


“Aduh, Mama gak kuat dengarnya. Iya, iya, nanti Mama bantuin kalau kamu mau bakar-bakar hadiahnya.” Aku berucap, bercanda, demi melihat raut wajah putriku berseri.


Malam datang pelan-pelan. Sekitar pukul tujuh, deru motor terdengar dari depan. Tak lama, suara Prisa terbang sampai ke dapur. Dia berseru, suara yang dia gunakan saat merespons sesuatu yang... seru?


“Kamu beneran bawa hadiah lagi? Sengaja biar aku bakar?” Itu dia suaranya.


Suara Prisa terdengar tegas, tapi tidak ada kebencian di dalamnya. Aku hanya mendengar dari dapur, tapi bisa membayangkan gestur Ale yang biasanya diam-diam tapi penuh kejutan. Tubuhnya punya bahasa yang terkesan kaku, tapi terasa benar.


“Iya, bakar aja hadiahnya, Sa,” katanya datar tapi terdengar geli.


Aku menyembul, aku ingin merekam mereka dengan mataku. Ale sedang membuka kardus besar berisi seperangkat alat bakar. Lengkap dengan arang yang sudah siap, dua ekor ayam yang sudah dibumbui dan dibungkus rapi. Di sampingnya, kecap, sambal, lalapan. Bahkan plastik kecil berisi tisu basah.


Oh... dia bawa sesuatu berwarna biru muda. Seukuran kotak pensil, mungkin... kipas angin?

Ah, benar ternyata, dua kipas angin portable.


"Ini biar kita gak pegal kipas-kipas Sa." Katanya, sambil menyodorkan kipas angin warna biru langit.


Setelah memberikan kipas angin itu ke Prisa, Ale kembali sibuk dengan kardusnya. Prisa sendiri sibuk membuka kipas angin itu, wajahnya begitu berseri... ini bahagia sederhana yang tidak datang setiap hari. Lihatlah bibirnya tak berhenti tersenyum saat mencoba kipas angin itu. Malam ini, Prisa lagi cantik-cantiknya.


Ale masih sibuk membongkar dus. Air mukanya datar... eh, tenang. Sepertinya, dia tidak sadar kalau yang dia lakukan itu membuat putriku merasa spesial.


“Ya ampun, Ale...” Prisa menepuk jidat sambil tertawa keras. “HAHAHAHAHA! Kamu niat banget!”


“Kamu sendiri yang bilang mau bakar hadiah. Jadi aku bawain yang emang harus dibakar.” Ale berucap tanpa menoleh, matanya sedang fokus pada aktivitas dua tangannya.


Prisa tertawa sampai tubuhnya melengkung. Tawa yang membuat pipinya memerah dan matanya menyipit. Aku tak ingat kapan terakhir dia tertawa sepanjang itu. Dalam hati, aku berterima kasih dan mengucap syukur. Kehadirannya memberiku hadiah tak terhingga; wajah cerah Prisa lengkap dengan suara tawanya.


Lihat selengkapnya