Mimpi Besar Hati Kecil

Aditya R
Chapter #7

Hati Kecil Lainnya: Karena Payung yang Kamu Kasih Sore Itu

Hati Kecil Lainnya:

Karena Payung yang Kamu Kasih Sore Itu


Ale...

Kamu mungkin tidak ingat aku.

Tapi aku ingat kamu.

Aku tidak tahu nama yang kamu pakai sekarang.

Aku cuma tahu nama yang tertulis di seragam putih merahmu: Ale.

Nama yang agak mustahil aku lupakan.

Ya, tiga huruf saja:

A - L - E.


Sekarang, aku tahu satu nama lagi.

Tempat persembunyianmu, ruang aman dan nyaman untuk cerita yang kamu lukiskan: Learty.


Aku tahu karena beberapa minggu lalu aku melihatmu—duduk di pojok sebuah kafe. Kamu terlihat sibuk, memegang buku sketsa dan membuat goresan di sana. Aku terpaku beberapa saat sebelum yakin kalau yang kulihat adalah kamu.


Momen itu, adalah jawaban dari doaku sejak bertahun lalu. Sejak kamu pergi lebih dulu, menghilang dari acara perpisahan sekolah yang penuh haru. Aku sudah mengira kamu akan menghilang dengan tenang, bahkan sebelum perpisahan kita sore itu.


Kamu tidak mau ikut acara penutup kan?


Kamu menolak tradisi bermaaf-maafan.

Setiap hari pertama sekolah.

Sebelum dan setelah libur Lebaran.

Dan saat penutupan acara perpisahan.


Reaksi yang sama seperti saat kamu harus menyambut alunan hymne guru, menerobos ruang dengarmu. Tubuhmu menolak. Kamu menunduk, memejamkan mata dan kedua tanganmu meremas celana.


Aku tahu kamu sudah berusaha keras, tapi tubuhmu tetap menolak.

Itu terakhir kalinya aku melihatmu ikut upacara setiap Senin. Kamu melakukan apa pun agar tak perlu ikut upacara yang terasa seperti siksan di tubuhmu. Sengaja datang terlambat, bersembunyi di toilet, sampai tiduran di UKS.


Kamu tidak peduli saat Euis memberimu label sebagai anak yang malas upacara.


Ale, aku sering membayangkan akan seperti apa kalau kita bertemu lagi di masa dewasa. Dan akhirnya, aku menemukan kamu di cafe itu.


Aku tidak langsung menyapa.

Aku menunggu, pura-pura membaca buku, padahal mataku lebih banyak tertuju ke arahmu.


Kamu terlihat tenang.

Setenang anak kecil yang dulu menerobos hujan.

Ketenangan yang tidak masuk akal untukku.

Mungkin, ketenangan itu kamu bangun dari banyaknya luka yang kamu habiskan sendiri.


Aku menunggu sampai kamu selesai dan beranjak.

Aku memberanikan diri untuk berdiri di depanmu.


Kamu sempat bingung, matamu menyipit seperti sedang menyaring ingatan lama. Lalu, kamu tersenyum. Senyum yang sama seperti waktu kamu memberiku payung kecilmu.


Kamu masih ingat sore itu, kan?

Satu sore yang sangat meriah berkat suara hujan deras dan petir yang menyambar tanpa ampun.

Cuma sedikit orang yang tahu, aku benci hujan deras.

Suaranya mengerikan. Hatiku selalu berantakan.


Sore itu jadi hari yang buruk untuk aku.

Meski tak seburuk sore di dalam kepalamu.

Anggap saja itu sore paling mengancam dalam hidup kita.


Tapi Le, kamu seharusnya menangis lebih deras dari hujan.

Marah pun sangat masuk akal. Sebenarnya, itulah yang seharusnya kamu lakukan.


Menangislah sederas-derasnya.

Dan marahlah sekeras-kerasnya.


Kamu tidak melakukan keduanya.

Kamu malah menghampiriku.

Lihat selengkapnya