Aku pertama kali bertemu Senja tanpa benar-benar tahu bahwa itu pertemuan. Waktu itu aku cuma tertidur seperti biasa, kelelahan yang wajar setelah hari yang panjang, lalu tiba-tiba saja aku berada di sebuah taman yang terasa terlalu rapi untuk disebut mimpi. Langitnya berwarna jingga yang tenang, bukan jingga yang dramatis. Anginnya ada, tetapi tidak berisik. Dan di tengah taman itu, ada sebuah kursi hitam yang menghadap hamparan cahaya sore, di sanalah dia duduk.
Awalnya aku mengira dia hanya bagian dari latar. Seseorang yang kebetulan ada, seperti orang-orang asing di mimpi yang biasanya lewat begitu saja. Rambutnya jatuh lurus, punggungnya sedikit membungkuk, seolah sedang memikirkan sesuatu yang tidak ingin dibagi. Aku berdiri agak jauh, memperhatikan tanpa niat mendekat. Anehnya, kakiku tidak bergerak meski kepalaku ingin. Ada rasa ragu yang aneh, seperti takut mengganggu sesuatu yang sedang sakral.
Aku tidak tahu berapa lama waktu berlalu. Di mimpi, waktu selalu terasa cair. Yang jelas, cahaya sore perlahan melembut, dan gadis itu masih di sana. Dia tidak menoleh. Tidak menyapa. Tidak juga menunjukkan tanda keberadaanku berarti apa-apa. Namun justru di situlah aku mulai merasa nyaman. Keheningan itu tidak canggung. Ia seperti jeda yang dibutuhkan dua orang asing sebelum saling mengenal, meski belum bertukar satu kata pun.
Saat aku akhirnya melangkah mendekat, suara langkahku tidak terdengar. Aku duduk di ujung kursi, menjaga jarak. Di antara kami ada ruang kosong yang cukup untuk ragu-ragu. Aku menatap lurus ke depan, ke taman yang entah mengapa terasa sangat familiar, seperti pernah kulalui di dunia nyata tapi tak pernah kuingat kapan. Dari sudut mataku, aku melihat bibirnya bergerak sedikit, bukan bicara, hanya napas yang berubah.
Lalu dia tersenyum. Bukan senyum yang lebar atau dibuat-buat. Senyum kecil, singkat, tapi cukup untuk mengubah suasana. Seolah-olah ia tahu aku ada sejak awal, hanya menunggu aku tenang. Dadaku menghangat oleh perasaan yang sulit dijelaskan lega, tapi juga asing. Aku ingin bertanya namanya, ingin memastikan bahwa ini benar-benar terjadi. Namun sebelum satu kata pun keluar, cahaya sore meredup terlalu cepat.
Aku terbangun dengan napas tertahan, jantung berdetak pelan. Kamar kembali menjadi kamar. Pagi kembali menjadi pagi. Tapi rasa hangat itu masih tinggal, seperti sisa matahari di kulit setelah senja pergi. Sejak hari itu, aku tahu satu hal: kursi hitam di taman senja bukan sekadar mimpi. Ia adalah awal dari sesuatu yang belum kumengerti.