Mimpi di taman senja

Ahmad Abdurrahman
Chapter #1

Bab 1 — Kursi Hitam yang Selalu Ada

Aku mulai menyadari mimpi itu sejak kelas tiga SMP. Awalnya aku menganggapnya biasa saja, seperti mimpi lain yang datang lalu hilang tanpa sisa. Tapi mimpi ini berbeda. Ia tidak langsung menguap saat aku bangun. Justru sebaliknya, ia menetap di kepalaku lebih lama dari yang seharusnya, seolah ingin diingat.

Dalam mimpi itu, aku berada di sebuah taman pada sore hari. Langitnya tidak terlalu cerah, tapi juga belum gelap. Ada suasana tenang yang sulit dijelaskan, seperti waktu berjalan lebih lambat dari biasanya. Di taman itu ada sebuah kursi hitam. Kursi itu selalu ada, dan selalu di tempat yang sama. Di atasnya duduk seorang gadis. Aku tidak tahu siapa dia. Wajahnya tidak pernah terlihat jelas, tapi aku tahu dia ada di sana.

Aku tidak langsung mendekatinya. Aku hanya berdiri beberapa langkah dari kursi itu, memperhatikan sekitar. Anehnya, aku tidak merasa canggung atau takut. Rasanya biasa saja, seperti sedang berada di tempat yang sudah kukenal sejak lama. Gadis itu tidak menoleh, tidak berbicara, dan tidak melakukan apa pun. Tapi kehadirannya terasa nyata, seolah aku benar-benar berada di sana bersamanya.

Saat aku terbangun, mimpi itu tidak hilang begitu saja. Aku masih bisa mengingat posisi taman, warna langit, dan suasana sore itu. Yang paling mengganggu pikiranku adalah rasa tenang yang tertinggal. Aku tidak tahu kenapa mimpi sederhana seperti itu bisa terasa begitu nyata. Sejak hari itu, aku mulai bertanya-tanya, kenapa mimpi itu terasa lebih nyata daripada beberapa hal di dunia sebenarnya.

Lihat selengkapnya