Aku mulai menyadari mimpi itu sejak kelas tiga SMP. Awalnya terasa seperti mimpi biasa yang datang lalu hilang saat pagi tiba. Namun berbeda dari yang lain, mimpi ini selalu meninggalkan potongan yang jelas di ingatanku, seolah bukan sekadar khayalan, melainkan tempat yang benar benar pernah aku datangi.
Dalam mimpi itu, aku selalu berada di sebuah taman yang terasa asing sekaligus akrab. Pepohonan tinggi mengelilinginya, daunnya bergerak pelan tertiup angin yang menenangkan. Udara di sana sejuk dan tidak pernah berubah. Yang paling aneh, suasananya selalu sore. Langit berwarna jingga pucat dengan sedikit abu abu, seolah waktu berhenti di satu titik.
Di tengah taman terdapat sebuah kursi hitam dari besi yang catnya mulai pudar. Kursi itu sederhana, tetapi selalu menimbulkan perasaan aneh, seperti menyimpan sesuatu yang penting. Di atas kursi itu duduk seorang gadis. Aku tidak pernah bisa melihat wajahnya dengan jelas, seolah ada sesuatu yang menghalangi pandanganku. Anehnya, aku tidak merasa takut. Justru aku merasa tenang, seperti sudah mengenalnya sejak lama.
Biasanya aku hanya berdiri beberapa langkah darinya, memperhatikan tanpa berani mendekat. Semua terasa biasa, seolah aku sudah berkali kali berada di sana. Hingga suatu kali, aku memberanikan diri untuk berbicara.
"Hai."