Mimpi di taman senja

Ahmad Abdurrahman
Chapter #2

Bab 2 — Jarak yang Pelan-Pelan Menghilang

Malam itu aku tertidur dengan satu pikiran yang terus berulang, aku akan mendekat. Bukan sekadar datang lalu pergi seperti biasanya, bukan hanya berdiri diam memperhatikan dari jauh, tapi benar benar mendekat. Ketika aku membuka mata, aku sudah berada di taman itu lagi. Langit senja yang sama menggantung tanpa perubahan, udara tenang yang terasa terlalu sempurna, seolah dunia ini sengaja dijauhkan dari segala kebisingan.


Semuanya persis seperti yang kuingat. Kursi hitam itu masih ada di tempatnya. Dan gadis itu masih duduk di sana, seperti selalu menungguku tanpa benar benar menunggu. Kali ini aku berdiri lebih dekat dari sebelumnya. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat, meski aku tahu ini seharusnya hanya mimpi.


Aku menarik napas pelan, lalu melangkah. Satu langkah, tidak ada yang berubah. Langkah kedua, angin tetap berhembus seperti biasa. Langkah ketiga, aku berhenti. Kini aku cukup dekat untuk melihat garis tubuhnya dengan lebih jelas, rambutnya bergerak pelan tertiup angin. Untuk pertama kalinya aku tidak merasa seperti orang asing di tempat ini.


“Aku datang lagi.”


Suaraku terdengar lebih tenang. Gadis itu diam sejenak, lalu menjawab pelan.


“Aku tahu.”


Aku sedikit terkejut.


“Kamu tahu?”


Ia mengangguk kecil tanpa sepenuhnya menoleh.

Lihat selengkapnya