Aku tidak langsung sadar kapan mimpi itu berubah menjadi kebiasaan. Yang jelas, setiap senja datang, taman itu selalu menungguku dengan cara yang sama. Langitnya berwarna jingga pucat, seperti cat yang sengaja dibuat setengah kering. Angin bergerak pelan, cukup untuk membuat dedaunan berbisik. Dan di sana, di bawah pohon yang sama, kursi hitam itu selalu ada. Diam, seolah tahu perannya hanya untuk menunggu.
Awalnya, gadis itu tidak pernah menatapku. Ia duduk dengan punggung tegak, wajah menghadap lurus ke depan, seperti seseorang yang sedang memikirkan sesuatu yang terlalu berat untuk dibagi. Aku sempat mengira ia hanya bagian dari latar mimpi, dekorasi yang tidak perlu disapa. Jadi aku duduk di bangku seberang, pura-pura sibuk mengamati taman, pura-pura tidak peduli.
Namun mimpi punya cara aneh untuk memaksa perhatian. Setiap kali aku datang, jarak antara kami terasa semakin dekat, meski kursi kami tidak pernah berpindah. Hingga suatu senja, tanpa menoleh, gadis itu tersenyum kecil. Bukan senyum yang disengaja, lebih seperti refleks, seolah kehadiranku akhirnya diakui. Dadaku terasa hangat, tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuatku bertanya: sejak kapan mimpi bisa terasa senyata ini?
Sejak saat itu, aku selalu menunggunya. Senja demi senja, senyum itu perlahan berubah menjadi kenyamanan. Ia mulai menoleh, lalu menatapku sekilas, seperti memastikan aku benar-benar ada. Dan di kursi hitam itu, tanpa banyak kata, aku mulai merasa: mungkin mimpi ini tidak sedang mencoba menipuku, mungkin ia hanya ingin dikenang.