Setelah malam itu, aku mulai melihat mimpi itu dengan cara yang berbeda. Bukan lagi sesuatu yang aneh, dan bukan juga sesuatu yang harus kucari artinya. Aku hanya mengingatnya, seperti mengingat kejadian yang benar benar pernah terjadi. Mimpi itu tidak selalu datang, kadang hadir, kadang hilang tanpa pola. Namun setiap kali aku kembali, semuanya tetap sama seperti terakhir kali kutinggalkan.
Taman itu tidak pernah berubah. Langit senja yang menggantung di antara terang dan gelap tetap berada di sana. Kursi hitam itu juga tidak pernah bergeser. Dan gadis itu, selalu ada di tempat yang sama.
Malam itu, aku kembali berdiri di tempat yang hampir sama seperti pertama kali. Tidak terlalu jauh, tapi juga belum cukup dekat. Aku menarik napas pelan, lalu berbicara.
"Hai."
Gadis itu tidak langsung menjawab. Ia tetap duduk menghadap langit yang tidak pernah berubah. Beberapa detik berlalu, hanya suara angin yang terdengar.
"Kamu siapa."
Aku mencoba lagi, sedikit lebih jelas dari sebelumnya.
"Harusnya aku yang tanya."
Jawabannya datang pelan. Suaranya lembut dan terasa aneh di telingaku, seperti sesuatu yang pernah aku dengar tapi tidak bisa aku ingat dari mana.