Oktober 2011
SEBENARNYA, aku sedikit merasa bersalah, ketika aku dekat dengan Kadek, karena disadari atau tidak, kami seperti sedang meramu sebuah kemistri. Padahal komitmenku sekarang adalah dengan Liya. Aku tak bisa mengabaikannya begitu saja, karena pengakuan cintanya masih terasa tulus di hatiku dan berdetak seperti jam.
Walaupun begitu, aku dan Kadek semakin akrab, bahkan sering saling berkomentar di facebook. Tak ada masalah yang membuat ‘perang dunia ke dua’ meletus, bahkan mungkin hal itu pun pasti diketahui juga oleh Liya di sudut tersembunyinya, aku tidak tahu. Karena obrolan kami masih wajar dan lebih banyak bercanda, meskipun aku akui bahwa ada sesuatu yang menarik di sini.
Dan kabarnya, Komang sering memarahi Kadek karena kedekatannya denganku. Mungkin karena adiknya itu merasa peduli, dan tahu bahwa ada Konjik yang masih membayang-bayanginya. Sesosok calon kakak ipar yang bengis di pikiran Ketut, tapi bagi Komang adalah sosok terbaik untuk kakaknya.
Aku mengerti.
Meskipun begitu, aku dan Kadek masih sering bertemu di warung. Dan entah kenapa, kami selalu mengalir ketika bertemu, seperti berada di dalam sebuah kelambu berdua, sedang orang lain berada di luarnya. Mungkinkah ini adalah asmara? tapi aku yakin ini bukan tentang itu, karena aku tak mempunyai kerinduan sedikitpun saat tidak berada di dekatnya. Ini tidak jelas, mungkin ini hanya uforia atau spontanitas saja, atau penyakit keraguan yang kambuh lagi, tentang LDR.
Apakah hubunganku dengan Liya, hanyalah kesia-siaan belaka? Untuk apa kalau menjalin hubungan dalam jarak yang selalu jauh? Apakah cinta sejati sedramatis itu?.
***
Tanggal 13
Tak terasa sudah satu bulan lebih sedikit aku di Bali. Tapi aku seperti sudah mendapat segalanya. Aku punya pacar yang selalu merindukanku di sana, dan aku sekarang di tempat yang terkenal; yang bisa mengajakku berinteraksi dengan budaya yang sangat luhur dan mashur, melihat tempat-tempat yang indah, berjalan di pantai pasir putih, mengerti tentang villa & resort, dan pastinya bisa menyapa gadis-gadis eksotisnya.
“Hidup ini indah, Tanks God” gumamku. Pagi ini, aku berangkat seperti biasa ke kantor. Karena sudah gajian, aku keluarkan cerutu dari kantong, lalu menyalakannya. Pull...puulll. Lalu aku mulai berjalan menelusuri tanah yang memanjang—yang kanan kirinya ditanami pohon bambu mini—dengan intaian sekelompok anjing kintamani liar yang mengendus-endus sampah, sementara yang lainnya menatapku aneh.
“Hai!!” sapaku ke mereka, dengan satu genggaman batu sebesar henfon. Mereka lari tunggang-langgang. Lalu langkahku dikagetkan oleh geraman motor Darse yang hanya meledek saja, dan menolak ditebeng. Sialan. Darse tertawa ke arahku, dan ketika hendak berpaling ke depan ia dikagetkan dengan sebuah batu, sempat oleng, tapi beruntung tidak apa-apa. Motor Darse tetap melaju, dan aku berteriak,
“Makannya jangan pelit!!”
Darse tertawa terbahak-bahak sambil berhenti di portal sekuriti, di gerbang masuk proyek; sambil absen, dan mengambil kunci kantor dan gudang. Sehingga aku tak perlu lagi ke post sekuriti. Aku langsung saja ke kantor, kemudian menemui Darse di gudang.
Tak ada yang perlu dilakukan hari ini. Semua orang sepertinya bermuka cerah hari ini. Barang di gudang juga masih lengkap, karena baru dapat suntikan dana dari Bank. Jadi aku dan Darse hanya duduk-duduk sambil ngopi, melayani orang yang perlu barang di gudang. Sudah pasti, di lapangan sedang ada semangat yang menggebu-gebu, karena kantong mereka juga bersemangat.
“Hah, enak sekali cerutu ini!” kataku, sedikit bergaya belagu.
“Ah, produk lokal aja itu, biasa itu, Bi!” kata Darse.
“Yang penting enak!” gayaku tengil.
“Kayaknya lagi senang nih, si Boss!!” lanjut Darse sambil menyulut rokok tembakau putih dari Amerika.
“Oh iya, si Komang gimana kabarnya?” kata Darse tiba-tiba, sambil menghembuskan asap. Aku tersenyum mendengarnya.
“Nggak tahu. Aku jarang liat dia. Tapi aku sering ke warungnya, dan aku melihat Kadek, kakak Komang. Ehem...”
“Terus.... ?” Darse seakan mengharapkan sesuatu yang tidak biasa.
“Dia cantik!”
“Terus?”
“Menarik!”
“Terus!!”
“Nabrak!!” semburku, “Terus.... terus, kayak kernet angkot aja kamu, Bli!!”
Darse tertawa. “Lalu apa masalahnya dengan kakaknya Komang itu. Ayo dong cerita sama aku!!”
“Nggak tahu juga, Bli. Tapi dia enak buat ngobrol. Dewasa banget, dan nyambung.”
“Jangan bilang kalau kamu naksir sama dia!”
Aku hanya menaikan pundakku dan memperlihatkan tampang songong.