Akhir Juni 2012
KEBETULAN beberapa hari ini, Tante Yati sedang berlibur di Bali, bersama anak-anak Om Janni. Tak disangka, Rosa dan ibunya (tante Tina) juga ikut. Sekitar satu minggu telah mereka lalui di tempat-tempat wisata terkenal di Bali, namun besok sudah waktunya untuk pulang ke Purwokerto. Malam ini mereka sudah bersiap-siap; memasukan barang-barang, baju-baju dan oleh-oleh ke dalam tas-tas besar mereka. Hasratku berkecambuk, apalagi kalau mengingat kasus Liya dan Anan kemarin, aku benar-benar ingin mengakhiri petualanganku di Bali.
Aku melihat tante Yati yang memakai baju seperti Rama Aipama berlenggang berjalan menuju dapur mess kantor. Tanpa berpikir panjang aku membuntutinya ke dapur.
“Tan, aku ikut pulang ya?” kataku.
“Kenapa? Kok tiba-tiba?”
“Ada kepentingan mendadak. Aku harus mempersiapkan undangan. Banyak yang harus aku persiapin lah, Tan. Kasihan Liya harus ngurus sendiri padahal sekarang dia sudah kerja. Aku malu, Tan!”
“Bilang sendiri sama Om Janni!”
Aku terdiam, memaparkan wajah, kalau aku tidak enak hati jika pulang sebelum tiga bulan. Sebenarnya aku berniat untuk tidak berangkat lagi dalam kepulanganku kali ini, karena aku lebih memilih untuk mempertahankan Liya daripada pekerjaan ini. Aku tahu bahwa Liya tidak tahan dengan hubungan jarak jauh seperti ini, dan aku tak tega melihat Liya pontang-panting mengurus pernikahan sendiri. Apalagi, Liya sekarang sudah kerja di tempat PKL nya dulu. Walaupun, dia sekarang tinggal di rumahku, tapi tetap saja, pasti sangat melelahkan jika ditambah dengan pikiran tentang pernikahan dan tetek-mbengeknya.
Sepertinya keputusanku sudah bulat, tapi aku belum berani membicarakannya dengan Om Janni. Nanti saja kalau sudah sampai di Purwokerto, baru akan aku pikirkan tentang itu.
Tante Yati ternyata secara diam-diam membicarakannya dengan Om Janni, dan akhirnya aku dapat lampu hijau untuk pulang.
***
Peristiwa di kapal feri
Akhirnya aku pulang dengan kekalahan. “Keadaan’ menang banyak, dan membuatku menjadi pecundang sejati. Aku pulang bersama Tante Yati, Babaz, Ita (anak bungsu Om Janni), Tante Tina dan Rosa.