Akhir Juli 2012...
SUDAH menjadi takdir Tuhan, bahwa keinginanku menikmati Ramadhan di Bali terlaksanakan dengan semestinya. Padahal aku telah memupuskannya dalam-dalam. Tapi, sekarang aku sudah bisa merasakan nikmatnya kelaparan di tengah-tengah lapangan kering tanah kapur proyek, dengan harapan berbuka puasa hanya dengan mie instan, atau sambal plencing yang membuatku sakit perut. Di pagi hari, banyak yang merokok dan ngopi di depan warung kopi, atau di sudut-sudut proyek. Mereka merasa berhak menyandang predikat sebagai musafir?
Wajar kalau tak ada warung yang tutup di siang hari di sini, bahkan tak ada adzan berkumandang jika tidak mengandalkan televisi nasional. Meski begitu, Om Janni berkoordinasi dengan manajemen, untuk mengadakan sholat tarawih bersama seluruh penghuni proyek (bagi yang mau), yang bertempat di Lobi atas, dengan imam dan ustad penceramah memanggil dari komunitas Muslim Bali terdekat—yang rata-rata didatangkan dari Jawa Timur. Dari sekitar lingkungan mes kantor, hanya Pak Wayan Rahman yang sesekali ikut, karena mungkin hanya dialah yang Muslim dari antara penduduk Bali di sekitar sini, dan sepertinya beberapa ustad yang datang juga karena ada bantuan dari komunitas Muslim yang diikutinya.
Mengenai Pak Wayan Rahman, menurutku dia seperti baterai yang baru di isi ulang—dalam beragama. Sebagai Mualaf, terlihat sekali bahwa ruhaniyahnya begitu fresh. Semangat berkafah dalam keislaman terlihat sangat menggebu-gebu. Yah begitulah dia, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Sebelum rumahnya pindah ke belakang mes—sebelum buka warung—rumahnya satu komplek dengan warungnya Komang. Pernah suatu kali, seluruh isi mes kantor diundang untuk acara selamatan aqiqah anak bungsunya yang baru lahir, yang dirayakan dengan sedikit meriah. Sebagai orang yang merantau dan jauh dari yang namanya makanan pesta, pasti bagi penduduk mes sepertiku sangat berkesan. Meskipun terlihat kafah, namun kalau dilihat-lihat, dalam tradisi perayaan aqiqahnya masih bernuansa Aswaja, seperti di lingkungan masyarakat Jawa pada umumnya.
Anak-anak Pak Wayan Rahman banyak. Karena menikah dengan Bu Diana, maka bertambah banyaklah anak-anaknya. Sekitar dua kali lipat. Anak Bu Diana yang tertua adalah Fitri yang membuat seisi proyek terhipnotis oleh pesonanya, termasuk Goro (kecuali aku). Fitri sebenarnya bukanlah anak dari Pak Wayan, melainkan dari suami pertama Bu Diana. Sementara anak tertua Pak Wayan sepertinya juga cewek, tapi tak sepopuler Fitri.
Pak Wayan Rahman juga seorang yang tegas dalam agama. Pernah suatu kali aku mendapat semprotan tak mengenakan dari ketegasannya itu. Saat itu aku sedang malas Tarawih, kemudian hatiku tiba-tiba berhasrat untuk ke warung Bu Diana. Kebetulan di situ ada Fitri, jadi aku termotivasi untuk nongkrong sambil ngopi dan ngrokok. Tapi, sebelum aku sempat diseduhkan kopi, Pak Wayan tiba-tiba keluar sambil berteriak-teriak kepada anak tirinya itu.
“Kamu, bukannya Sholat Tarawih, malah nongkrong-nongkrong nggak jelas. Mau jadi apa kamu!! bla...bla... bla (dengan bahasa Bali yang sulit aku cerna)”
Lalu dengan sedikit jengkel—mungkin malu—Fitri masuk ke dalam rumah. Kemudian Pak Wayan Rahman beralih ke arahku dengan muka yang makin merah, “Kamu nggak Sholat??!!!” masih dengan nada kesal.
Sambil menundukkan kepala, dan tampang mengkirut, aku pamit sambil berkata, “Iya, Pak. Ini mau berangkat!!”
Akhirnya, setelah kepikiran kata-kata Pak Wayan Rahman tadi, aku jadi berangkat Tarawih, meskipun telat beberapa rakaat. Itulah sedikit pengalamanku dengan Pak Wayan yang galak tapi (mungkin) bener.
Meskipun sudah pernah diusir dengan halus, tapi aku tetap saja ke warung Bu Diana tanpa rasa gentar. Lagipula—setelah peristiwa dimarahi itu—aku benar-benar berangkat Tarawih, jadi aku merasa hutangku sudah lunas.
***
Beberapa hari setelah itu.
Sehabis Tarawih aku nongkrong di warungnya Bu Diana. Suasananya tenang, langitnya cerah, dan udaranya hangat, malam ini. Tiba-tiba Mas Bawor dan Gendon datang, lalu menemui Pak Wayan Rahman di teras rumahnya, yang bersatu dengan warung. Pak Wayan Rahman, kali ini sedikit berbeda. Ada hal yang serius yang sedang dibicarakan Bapak itu dengan Mas Bawor dan Gendon. Sementara aku yang sedang main gitar bersama Goro dan Utut di bangku depan warung sambil ngopi dan ngrokok, memandangnya sebagai kejadian yang langka. Dan di pinggir jalan kasar, ada beberapa orang dari proyek kami juga—yang tak sepopuler kita—sedang nongkrong sambil main henfon.
“Serius amat, ada apa sih?” kataku, mengamati pembicaraan mereka itu.
Tapi, Utut dan Goro malah membahas tentang Leak Barak; sejenis santet kelas tinggi di Bali. Sementara aku sedang kebingungan, Goro malah meletakkan gitarnya, lalu Utut mematikan rokok, dan Mas Bawor juga Gendon berdiri sambil mengerutkan dahi.
“Siapa yang ikut!” kata Mas Bawor.
“Aku, Mas!” Goro menyahut.
Lalu Utut mengacungkan lengannya.
Sementara yang lain tidak ada yang bergeming. Dan aku—yang bahkan belum mendapat jawaban atas kepenasarananku yang amat sangat tadi—akhirnya mengusulkan diri, “Aku, Mas!” lalu clingukan, “Emangnya ada apa sih, Gor, Tut?”
Namun, ketika Pak Wayan mengeluarkan mobil, orang-orang proyek yang tadinya tidak bergeming kemudian berdiri, sambil menyesali dirinya. Mungkin dalam hati mereka berkata, “Kalau tahu akan naik mobil, pasti aku mau ikut lah!” Kalau itu yang mereka pikirkan, berarti aku menjadi orang yang beruntung, meskipun aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Akhirnya, Mas Bawor membuka pintu depan mobil Avanza warna hitam. Sementara aku dan lainnya di belakang.
Dalam hati, aku berujar, “Yang penting bisa jalan-jalan.”
Dalam perjalanan, ada banyak pembicaraan, ngalor-ngidul tak jelas, jadi tak satupun yang bisa aku tangkap, “Sebenarnya sekarang mau kemana, dan sebenarnya ini tentang apa sih?” tak ada yang membahas itu.