Purwokerto, Pertengahan tahun 2010.
MATAKU terbelalak, sementara dadaku seperti dihimpit oleh ribuan mawar-melati yang semerbaknya sampai ke tulang rusuk dan darah nadiku. Deru nafasku semakin membuatku tak bisa terlelap lagi, meski sempat terpejam sesekali, itupun karena tercium wangi atmosfernya. Sepertinya ada film romantis telah diputar dalam alam bawah sadarku, semalam. Sebuah mimpi yang telah mengganggu mekanisme pradormitium(1)-ku; sehingga mataku mampu terjaga sepagi ini dengan dermawannya.
Tak lama, adzan subuh terdengar bersautan. Aku mendengarnya seperti kabel listrik di persimpangan jalan, yang malang-melintangnya semrawut(2). Suaranya sangat mengusik telinga lancipku. Membuatku merasa harus beranjak dari ranjang, lalu menjebleskan kepalaku ke tembok beberapa kali. Karena, dahiku masih terus ditumbuhi tanduk, dan kulitku masih sering memerah, dengan buntut lancip menggelayut di bokongku seperti tikus. Mungkin Iblis sudah sangat keterlaluannya bersarang di dalam kepalaku. Sehingga pagi ini aku merasa harus menguliti diriku, dan menggergaji tandukku dengan hentakan. Hiyah...!!!
Pagi yang lebih dingin dari biasanya terasa menusuk-nusuk kulit. Kakiku pun sampai oleng saat menyentuh lantai keramik. Dengan langkah gontay aku paksakan keluar dari ruang kamarku—yang sedikit lebih hangat; kayak susuh manuk(3).