Mimpi - Gadis Berkerudung Merah Muda

Imron Mochammad Alghufara
Chapter #28

BALIKAN

Ketika Erma berbahagia menjadi adikku, sementara Liya malah menolaknya mentah-mentah, dan ingin tetap bertahan dalam ikatan percintaan …

LIYA ternyata masih kecewa dengan keputusanku dulu, yang menganggapnya hanya sebagai adik. Sebuah kata-kata yang telak “menyakitkan” menurutnya. Tapi, saat itu, memang tak ada pilihan lain; kecuali mengalihkan semua rasa sayangku ke arah yang menurutku baik. Namun ternyata, bagi Liya itu adalah kesalahan terbesarku, dan terlalu menghujam rasa cintanya kepadaku. Itu mungkin yang membuat karma buruk di kehidupanku dengan datangnya Erma. Dua kisah pilu yang berjalan berkesinambungan. 

Maafkan aku…!

Maafkan kekasihmu ini… !

Tiada maksud untuk membuatmu tak berarti…

Tapi… aku kira itu adalah hal berarti, yang semua perempuan pasti menginginkannya… 

Bukankah rasa sayangku akan lebih besar dari pada rasa sayang dari seorang kekasih… ??? Yang kadang tak tulus, membelenggu dan pasti menyakitkan… 

Tapi otakku memang terlalu tumpul untuk mengetahuinya… dan hatiku dangkal untuk mengerti...

Mengerti bagaimana membuatmu bahagia…?

Bagaimana kamu tidak merasakan kecewa dan sakit sedikit pun…?

Kadang memang aku berpikir… 

Aku terlalu dewasa untukmu…

Terlalu konservatif untuk duniamu yang dinamis dan berwarna...

Dan...

“Mengapa ada Erma?”

Apa jawaban untuk itu…?

Entahlah… ?

‘Oh… Gadis berKaos Merah Muda…

Kamu memang selalu tersembunyi, meski hatimu nampak dan menemani hari-hariku…

Laksana lidah api yang menghasilkan cahaya… kamu seperti sosok dalam mimpi itu…

Entahlah…’

***

Jimbaran, sore...

Hubunganku dengan Liya baru-baru ini membaik, setelah semua dendam dan unek-unek lama terpupuskan oleh terus terang. Kami sering berbalas SMS, dan kadang telfon seperti dulu, juga masih sama dalam jarak yang selalu “tidak dekat”.  

Liya memperlihatkan antusiasmenya kepadaku. Sampai sore inipun SMS-nya terus mengalir kepadaku. Biasanya kalau menjelang pulang kerja, dia telfon, dan menemaniku dalam perjalanan pulang ke mes. Namun, kami tak tahu hubungan yang kami jalani. Belum ada komitmen seperti dulu, tapi aku menikmati setiap tutur katanya. 

Ada nada panggilan masuk membising tiba-tiba, merisihkan kupingku, membuat aku tak sabar ingin mematikan bunyi itu. Seperti biasa, Liya telfon.

“Hallo…”

Lihat selengkapnya