Februari...
SEBENTAR LAGI tanggal 14, Liya pasti sudah menantikan hadiah untuk hari—yang katanya—moment “Kasih Sayang” sejagat itu.
Akhirnya, aku bertemu lagi dengan momen ini, setelah bertahun-tahun lamanya. Sebenarnya bukan hal mustahil, untuk sekedar mencari coklat dan saling menghadiahkan, atau mengirim setangkai bunga mawar, di keadaan jarak yang seperti sekarang ini. Tapi, jarak membuatku mudah sekali mengatakan bahwa hal itu, ‘sangat tidak penting’.
Banyak pertanyaan menggelayut di benakku tentang hal yang satu ini. Terakhir aku rayakan hal konyol ini pada awal-awal masa puber, tepatnya di zaman-zaman pacaran SMP dulu. Ketika aku harus bolos sekolah hanya untuk beli cincin giok, dan coklat, demi hari merah muda itu. Sempat juga membeli coklat murah satu kantong plastik sebesar karung, untuk dibagikan satu kelas. Jadi Valentine’s day menurutku adalah Fallen Teen’s Day (Kejatuhan Remaja); membuat remaja menjadi kalap, dan jatuh dalam perbuatan-perbuatan bodoh. Bahkan mungkin hal-hal yang lebih pantas dilakukan oleh manusia di luar usianya.
Tapi resiko pacaran dengan anak SMK—meskipun tak seribet anak SMA; dalam hal lucu-lucuan—tapi seumuran Liya, wajar jika masih menganut paham seperti itu. Sekarang aku seperti dipaksa untuk melanjutkan masa remajaku yang dulu sempat terputus, saat menjelang kenaikan ke kelas tiga SMA. Aku terpaksa harus menjadi remaja yang jatuh, di usia yang tidak remaja lagi.
Mungkin ada yang berpendapat tentang tanggal 14 Februari ini: ‘Sebagai kasih sayang yang telah dikerucutkan dan dipersempit. Kasih sayang seharusnya tidak mengenal ruang dan waktu, tidak mengenal jarak dan dipersempit oleh tanggal’. Namun, ada benarnya, kenapa kasih sayang harus diperingati? Mungkin jawabannya, seperti kita memperingati hari ibu, atau merayakan ulang tahun. Sebagai momen dan wadah untuk merefleksi diri dengan hal-hal yang dipahami secara positif. Mungkin, cara merayakannya yang harus diperbaiki. Jadi, menurutku itu tidak jadi masalah. Aku tidak antipati dengan hari kasih sayang. Karena hakikatnya kasih sayang adalah Rahmat Allah.
Jadi, mengapa tak memakai Kisah Adam dan Hawa yang dipertemukan di Jaba'l-Rahmah (Bukit Cinta), sebagai pijakan kisah moment Hari Kasih Sayang ini. Abaikan kisah pastur atau tentara Romawi, dan ganti perayaannya dengan napak tilas kisah Nabi Adam dan Siti Hawa, dengan mengakulturasikan budaya madharot menjadi penuh manfaat. Meskipun tradisi itu memang berasal dari benua Eropa, bahkan awalnya dari budaya pagan.
***
Liya Telfon.
“Nggak papa ya, kalau nggak ada coklat-coklatan”
“Nggak papa, tenang aja, lagian kan Mas lagi jauh”