UCOK, uring-uringan di teras mes.
“Keluar yuk, Bi,” katanya.
“Ke mana?”
“Ke mana kek, baru gajian, nggak betah di mes terus,” rengek cowo penyuka Michael Jackson, “Pinjamlah motor Pak Janni, kamu kan biasa minjam!”
“Eh... nggak mudah minjem motor, lagian aku harus punya alesan yang masuk akal, susah kan cari alesan palsu yang meyakinkan seperti itu! Kalau mau sekedar jalan-jalan kayaknya susah, bro.”
Motor di sini hanya dua, yang bisa dipakai oleh seluruh penghuni proyek. Bisa dibayangkan betapa pentingnya motor di sini. Itulah kenapa aku tidak enak hati kalau minjam hanya untuk main-main.
“Ah... bilang aja mau cari makan, seperti biasanya.” Ucok masih merengek.
“Ya ampun, ente ini, kita kan baru saja makan, baru tadi makan sup tuna! Kan Om Janni sendiri yang nyicipin pertama kali...!!”
“Oh iya ya! ah... godhek... godhek... !”
Mata Ucok langsung bergerak-gerak, mencari akal bulus.
“Kalau gitu, kamu aja yang pinjem, Cok! Kamu kan jarang pinjem motor sama Pak Janni. Aku udah sering, nggak enak.”
“Eh Bi, gimana ente ni, yang benar saja, masa aku. Ente kan yang ponakan. Ente aja nggak enak, apa lagi saya ini.” Kami memang sering menggunakan kata "ente".
“Oh iya, kenapa nggak pinjem motornya Herudin, tuh ada...”
“Nggak ah, pelit dia,” kata Ucok yang sesama orang Lombok.
Tiba-tiba Herudin lewat di depan kami, dan dilihat dari dandanannya, sepertinya dia mau pergi jauh, dan sepertinya lama.
“Ke mana, Din?” sapa Ucok.
“Ada deh...,” ledek Herudin, “Mau tauuuu ajaaa... !!”
“Ah... songongnya kamu, Din!” lanjut Ucok, “Godhekkkk... godhekkk... !”
Aku nyengir sedikit lihat kelakuan dua orang Lombok itu. Lalu, di tengah percakapan itu, tiba-tiba Om Janni nongol.
“Kalian mau pergi?” cemplong Om Janni.
Aku dan Ucok serentak manggut-manggut.
“Lah, Om nggak pergi?”
“Nggak...ah, capek,” jawabnya, sambil menuju kamar mandi, “Oh iya, kalau mau pergi, itu kuncinya di atas lemari.”
Muka Ucok langsung sumringah.
“Pucuk di cinta, ulam pun tiba.. !!” bisiknya sambil tertawa lirih, "Ayo kita turun, cari kaos!"
“Di mana... ?”
“Udah... kita cari sambil jalan!” kata Ucok.
“Ayooo...!”
Akhirnya aku ambil kunci motor dan langsung turun bukit mengikuti navigasinya Ucok. Awalnya kami pergi mampir ke “Pasar Kedonganan”. Tapi sepertinya tidak ada yang memikat hati laki-laki Lombok ini. Lalu kami bergegas dari situ, dan selanjutnya, motor kami arahkan ke jalur menuju Nusa Dua. Di tengah perjalanan, Ucok sepertinya melihat sesuatu, dia menepuk pundakku beberapa kali, lalu kami berhenti di sebuah distro T-Shirt Metal, karena dia ngakunya rocker sejati, tapi ngefans audzubillah-nya sama raja Pop, MJ. Aneh bin ajaib...!! Di sinilah, Ucok seperti menemukan surga belanja. Ucok memilih dua kaos, bergambar sangar.
“Yang itu... !”
“Yang mana... ?”
“Yang itu yang satunya, kamu yang di kanan dan aku yang di kiri?”
“Kamu mau?... ini!” Ucok menyodorkan kaos yang di tangan kirinya, ke mukaku.
“Beneran nih... ?”
“Beneran...”
“Asikkk... !”
"Beneran itu mau ente beli kah? Bayar sandiri e...!"
“Eit... sialan ente, nggak... nggak, kirain kamu yang mau bayarin!”
“Eee... mo pake beli tugu Monas kah, duitmu e... ?” canda Ucok pakai logat Indonesia timur.
“Hehe... kalau buat beli baju, sekarang aku nggak ada budget, Cok.”
Lalu Ucok membeli satu dari dua pilihannya, dan aku harus mengembalikan kaos yang ada di tanganku ke tempatnya semula.
“Hesss... !”
Setelah dapet kaos yang gambarnya sangar, kami pun hunting pakaian lagi.
“Masih sore...,” kata Ucok, “Kita hunting lagi!”
“Ke mana nih, Cok?”
“Lanjut ke Nusa Dua aja... !”
“Oke... ”
Di gerbang Nusa Dua, ternyata kami berubah pikiran. Karena kios-kios di situ sudah banyak yang tutup.
“Yah... emang jam berapa, sih?”
“Ya ampun, udah hampir jam sembilan.”
“Masih sore lah... !” Ucok sepertinya masih pengen shoping.
“Ya udah ke mana nih?”
“Balik aja, di perempatan belok kiri, kayaknya di situ banyak distro!”