11 September 2012
Jam 06.00...
MATAKU terbelalak, dan perlahan memperjelas pandanganku yang masih rabun dengan tanganku. Bau harum melati sudah merebak dalam suasana pagi ini, dibarengi dengan aroma masakan khas pesta pernikahan Jawa dan bising pemasaknya.
Tadi malam aku benar-benar sendirian di tengah-tengah orang asing; yaitu kerabat-kerabat Liya yang belum aku kenal. Termasuk Jaro, yang rela menemaniku tidur di tikar, sambil ngobrol. Ternyata dia teman sekantor Januar, anak bulikku. Tapi sekarang Jaro tak terlihat batang hidungnya. Aku clingukan, lalu beranjak.
Ternyata Jaro sudah duduk di teras rumah Liya, dengan rokok di tangannya dan kopi tersaji di depannya.
“Bro, ngopi, Bro…?” sapanya.
Aku menggeleng, “Ora lah…(42)“
“Rokok…?”
“Ora… makasih,” tukasku, lalu duduk di sebelahnya, “Oh iya, Bro… katanya kamu jadi domas?”
“Yah tadinya si gitu. Tapi nggak tahu ni, Bro… soalnya nanti aku harus berangkat kerja. Sebenernya sih dari kemarin aku udah di suruh ijin sama bu lik, tapi, kayaknya nggak ada yang mau gantiin sif-ku, deh.”
“Ya udah, kalau memang nggak bisa, jangan dipaksain” kataku, “Santai aja, Bro!”
Tiba-tiba ada seseorang yang mencolek lengan, “Kok calon pengantinnya masih sante-sante, ayo cepet mandi!”
Dengan malu-malu aku mengangguk.
“Nggih, Bu…,” balasku, lalu beranjak.
Liya keluar dari kamar dan mengisyaratkan untuk mandi duluan.
“Oia, Bi, keluargamu udah siap? yang datang berapa?” sembur seseorang yang belum terlalu aku kenal, “Kira-kira jam berapa datang?” lanjutnya.
Aku agak kebingungan jawabnya. Lalu, aku ambil hape, terus SMS Ibuku.
Aku: “Udah pada brangkat blum Bu?”
Ibu: “Ni bru mau siap2 Bi.”
Aku: “Jngn lama2 lho Bu, sini dah pd nanyain. Soalnya, Ibu sama Bapak, mau dirias!”
Ibu: “Ya Bi, ni udah mau berangkat.”
Aku: “Ya Bu.”
“Udah mulai berangkat kok, Bu,” lanjutku ke ibu-ibu yang tadi tanya.
“Ya, udah…,” ibu-ibu itu berpaling sebentar, “Oia, kamu lekas mandi, dukun pengantinnya udah pada dateng tuh!”