Hai, perkenalkan namaku Akari dan usiaku 16 tahun, yang mana aku baru saja lulus SMA jauh lebih muda dari teman sebayaku. Saat menginjak bangku sekolah aku belum tahu ingin menjadi apa, melanjutkan pendidikan atau bekerja. Tapi, melihat keadaan ekonomi keluarga aku merasa ingin bekerja tapi disisi lain juga ingin melanjutkan pendidikan. Semasa aku sekolah, aku bisa di bilang orang yang introvert dan sedikit kurang bergaul apalagi untuk orang-orang yang tidak bisa menghargai pendapat dan keberadaan orang lain. Terkadang ada sajalah ya, orang yang bahkan dengan sengaja merusak mental kita.
Mana lagi, aku merasakan kehidupan yang rasanya tidak adil sedari kecil saat usiaku menginjak 4 atau 5 tahun tepat saat aku masuk sekolah dasar. Dimulai dari itu rasanya kehidupanku sudah berat, dari keluarga, ekonomi dan orang-orang sekitar yang bisanya hanya menjatuhkan mental tanpa mendukung dan melihat apakah dia anak kecil atau orang dewasa.
Saat kecil aku melihat perdebatan hebat orang tuaku yang bahkan aku sendiri tidak tahu apa masalahnya, saat itu yang aku tau hanya menangis saat mendengar kata "pisah" aku sedikit tahu tapi tidak begitu paham. Sampai aku dewasa dan lulus SMA barulah aku benar-benar tahu keadaan rumah tangga orang tuaku, karena saat aku lulus aku memutuskan untuk dirumah dahulu. Dan ternyata, hampir setiap hari bahkan tanpa jeda orang tuaku hanya bertengkar dan saling mementingkan ego masing-masing.
Di ketika malam saat aku tidur pulas, ya lebih tepatnya mungkin jam 3 pagi, terdengar suara pintu yang ditutup dengan begitu keras. Yah, dan lagi-lagi orang tuaku bertengkar hebat sampai berniat sampai ada sen*ata ta*am dan racun rumput (sedikit kasar) tapi itu kenyataannya.
Dan detik itu juga, mamaku membangunkan untuk mengajakku pergi dari rumah, saat itu aku kembali menangis sembari menyingkirkan satu persatu alat dan obat-obat yang tidak pantas itu.
"Sudah hentikan, sudah cukup bertengkar seperti ini. Apa kalian tidak lelah, tidak malu dan apakah tidak bisa menjaga mental anak kalian sehari saja buat rumah ini sedikit damai" kataku menangis sembari menjaga adikku yang masih tertidur.