Mimpi Rumah Akari

sundari
Chapter #2

Bab 2

Kali ini aku menjadi rumah untuk orang lain dan diriku sendiri, semua tidak mudah dan kembali dimulai saat aku lulus sekolah dan memilih untuk lebih fokus dirumah. Karena kejadian orang tuaku sebelumnya, aku semakin merasa takut jika harus bekerja, kuliah atau meninggalkan rumah.

Dari lubuk hatiku, aku begitu menyayangi orang tuaku, aku tidak ingin mendengar pertengkaran atau bahkan sesuatu yang merusak mental. Tapi aku juga tidak bisa mengungkapkan rasa sayang itu seperti apa, karena aku sendiri juga tidak pernah merasakan kasih sayang yang benar-benar disayang itu seperti apa.

Bahkan saat itu, saat aku berada disituasi yang setiap harinya harus mendengar pertengkaran itu rasanya lelah dan tidak kuat.

"Kenapa keluargaku tidak seperti keluarga anak-anak lainnya yang damai, kenapa setiap harinya dari pagi sampai ke pagi harus bertengkar dan mengeraskan suara. Aku lelah mendengarkan dan melihat ini, tapi aku juga takut jika aku pergi mereka bisa saling menyakiti. Sebenarnya ada apa di depan sana, kenapa berat sekali. Kenapa kubdilahirkan kmhanya untuk melihat ini" kata ku saat itu sambil menangis di dalam doa.

Di keluargaku, yang paling aku sayang dan manja adalah adikku Sean namanya. Dia adik laki-laki ku, aku tidak ingin dia merasakan apa yang aku rasakan dan melihat pertengkaran orang tuanya. Yang begitu aku utamakan adalah mentalnya, apapun itu boleh menyakitiku tapi tidak dengan adikku.

Dia juga sering diomeli dan dimarahi mama dan bapak, tapi aku mencoba mendukung dan membelanya, karena di marahi saat kita tidak melakukan kesalahan itu sangat tidak benar hanya karena alasan lelah.

Karena aku tidak ingin meninggalkan rumah dengan alasan aku takut orang tuaku bertengkar lagi dan tentunya saat aku tidak ada di rumah yang akan menjadi korban adalah adikku.

Hingga akhirnya aku pun mencoba di dunia penulisan, dan setalah aku coba aku merasa cocok dengan dunia ini. Aku yang jarang berkomunikasi dengan orang dan tidak bisa menceritakan apa yang aku rasakan bisa aku ceritakan lewat tulisan yang mungkin bisa dibaca oleh orang lain.

Sedikit demi sedikit akupun akhirnya terus menulis sembari menuangkan isi hati dan pikiran sekaligus melegakan kegundahan hati.

Namun, lagi-lagi aku disepelekan dengan dan memintaku untuk meninggalkan rumah dan bekerja karena menurutnya menulis tidak menguntungkan dan mendapatkan hasil.

"Percuma sekolah tinggi-tinggi kalau hanya dirumah, buang-buang uang saja!" kata mamaku saat itu yang masih aku ingat sampai sekarang.

Lihat selengkapnya