MISI CANTIK CICILAN LUNAS

mayang dara negara
Chapter #2

RUTINITAS YANG MAHAL

Senin pagi, pukul 06.00. Alarm di ponselku menjerit, memecah keheningan apartemen tipe studio yang terletak di lantai 22 ini. Apartemenku adalah perwujudan dari seleraku: minimalis modern dengan sentuhan rose gold di sana-sini. Kamar tidurku didominasi tempat tidur queen size dengan sprei sutra yang lembut, menghadap langsung ke jendela besar yang menampilkan siluet gedung pencakar langit Jakarta yang masih berkabut tipis.

Selesai mandi, aku duduk di depan meja rias yang penuh dengan botol-botol kaca elegan. Aku memulaskan serum dan pelembap seharga jutaan rupiah itu dengan gerakan memijat yang lembut. Inilah rahasianya: aku tidak perlu lagi menggunakan makeup yang tebal atau foundation yang berat untuk menutupi kekurangan wajah.

Selesai mandi, aku duduk di depan meja rias yang penuh dengan botol-botol kaca elegan. Aku memulaskan serum dan pelembap seharga jutaan rupiah itu dengan gerakan memijat yang lembut. Inilah rahasianya: aku tidak perlu lagi menggunakan makeup yang tebal atau foundation yang berat untuk menutupi kekurangan wajah.

Hasilnya? Aku terlihat cantik tanpa usaha berlebih (effortless beauty). Kecantikan natural inilah yang menjadi senjataku untuk tetap terlihat berkelas di depan klien dan rekan kantor, meskipun sebenarnya dompetku sedang sekarat.

Selesai berdandan, aku menyambar tas tangan branded terbaruku, lalu turun ke basement. Mobil sedan putihku sudah menunggu—mobil yang sangat kusukai namun setiap bulannya membuatku pusing memikirkan tagihannya. Aku harus segera sampai di kantor karena jam 07.30 nanti ada rapat krusial.

Setibanya di kantor Neo-Genesis Studio, suasana sudah mulai sibuk. Di ruang rapat, beberapa orang sudah duduk menunggu:

  1. Pak Bram, Sang Manager: Pria berusia 45 tahun yang tegas dan selalu fokus pada angka. Baginya, game bukan sekadar seni, tapi mesin uang.
  2. Yuda, Lead Developer: Pria berkacamata yang jenius namun kaku. Ia yang bertanggung jawab mengubah ide-idemu menjadi kode program.
  3. Siska, Creative Designer: Gadis muda energik yang menangani visual dan estetika karakter dalam game.
  4. Andi, Marketing Specialist: Orang yang paling cerewet tentang bagaimana cara menjual game ini ke pasar internasional.

Klien kami kali ini adalah sebuah konsorsium media dari Korea Selatan yang menginginkan game Open World dengan grafis ultra-realistis. Mereka ingin pemainnya merasa benar-benar berada di dunia lain.

"Aruna, kamu sudah siap?" suara berat Pak Bram memecah lamunanku. "Klien ingin progres pengembangan karakter utama hari ini. Ide apa yang kamu punya agar game ini tidak terlihat pasaran?"

Aku merapikan rok span-ku, duduk dengan tegak, dan mencoba menyembunyikan getaran di tanganku saat sebuah pesan singkat masuk ke ponselku: "Tagihan jatuh tempo hari ini. Segera bayar atau data Anda kami sebar."

Kami bergegas menuju ruang rapat utama yang terletak di ujung lorong kaca. Ruangan ini adalah jantung dari Neo-Genesis Studio—sebuah ruang kedap suara dengan meja marmer panjang yang dikelilingi kursi ergonomis seharga jutaan rupiah. Di salah satu sisi dinding, terdapat layar LED raksasa yang menampilkan logo klien terbaru kami: "AETHERIA CORP".

Aetheria Corp adalah raksasa teknologi dari Korea Selatan yang dikenal sebagai pelopor dunia Metaverse. Mereka bukan sekadar membuat gim, tapi menciptakan "dunia kedua". Klien ini sangat eksklusif, memiliki standar estetika yang sangat tinggi, dan tidak keberatan menggelontorkan dana triliunan rupiah asalkan gim tersebut bisa mendominasi pasar global.

Pak Bram berdiri di depan layar, wajahnya tampak sangat serius. "Dengarkan semuanya. Aetheria Corp meminta kita membuat gim yang bukan cuma sekadar dimainkan, tapi menjadi gaya hidup. Mereka ingin sistem ekonomi di dalam gim yang kuat. Jadi, apa yang kalian punya?"

Andi (Marketing) memulai dengan antusias, "Aku mengusulkan sistem Limited Collection. Kita buat skin atau pakaian karakter yang hanya rilis satu kali. Pemain bisa saling memperjualbelikan koleksi ini dengan mata uang khusus yang bisa ditarik ke dunia nyata. Semakin langka, semakin mahal harganya!"

Siska (Creative Designer) menyahut, "Dari sisi visual, aku mengusulkan konsep Digital Real estate. Pemain bisa membeli tanah, membangun rumah impian, bahkan mendekorasinya dengan perabotan yang didesain oleh desainer ternama dunia secara virtual. Ini akan sangat menarik bagi kaum sosialita digital."

Lalu, giliran aku yang berbicara. Aku menarik napas, memastikan suaraku terdengar tenang dan berwibawa meski jantungku berdegup kencang karena pesan pinjol tadi.

"Ideku adalah gim petualangan berjudul 'Infinite Horizon'," kataku sambil menampilkan sketsa di layar. "Ini adalah gim petualangan Open World di mana setiap langkah pemain bisa diuangkan. Di dalam gim ini, pemain bisa menemukan artefak langka melalui penjelajahan hutan atau laut dalam. Artefak ini bukan cuma pajangan, tapi bisa 'disewakan' kepada pemain lain untuk menambah kekuatan."

Aku melanjutkan dengan lebih bersemangat, "Selain itu, kita tambahkan fitur Fashion Marketplace. Karakter bisa membeli aksesori mewah—mulai dari perhiasan berlian digital hingga tas eksklusif—yang memiliki sertifikat kepemilikan unik. Bahkan, pemain bisa membuka toko virtual mereka sendiri di dalam gim untuk mencari keuntungan. Intinya, kita menciptakan dunia di mana mereka bisa menjadi kaya raya, cantik, dan populer, persis seperti keinginan semua orang di dunia nyata saat ini."

Lihat selengkapnya