Misi Hunter : The Fox and The Rich Woman

Haidee
Chapter #1

1# Sandera

Sebut saja dia wanita kaya raya yang memiliki keyakinan pada penampilannya. Mengenakan dress putih lengan pendek yang dipadu dengan celana kulot hitam dan heels putih. Dia terlihat cerah dan elegan.

Nasib sial sore itu dialaminya. Dia diculik saat baru keluar dari sebuah pertemuan di gedung menjulang tinggi pencakar langit. Yang terjadi adalah, muncul dua orang berpakaian serba hitam mengenakan kacamata hitam, masker dan penutup kepala hitam yang langsung menyergap wanita kaya raya tersebut. Kedua penculik itu menariknya dengan kasar menarik memaksanya masuk ke dalam mobil seraya membungkam mulut wanita dengan kain hitam.

Sudah hampir sepekan kedua penculik itu mendambakannya, dan sore itu adalah saatnya tiba. Kedua tangan wanita itu diikat tali ke belakang. Wanita itu terus berusaha sekuat tenaga berteriak meminta tolong tetapi percuma saja. Dia sudah berada di dalam mobil yang berjalan.

Sepanjang perjalanan, wanita kaya raya itu terus memberontak dan tidak mau menurut.

“Siapa kalian? Bagaimana kalian tega menyerang seorang wanita tiba-tiba??” teriak wanita itu ketika kain yang menutupi mulutnya dilepas.

Salah satu penculik menjawab sambil mengemudi. “Jadi menurutmu kami harus sopan? Meminta izin sama kamu kalau kami mau menculikmu? Atau kamu ingin kami ketahuan, huh?”

“Lepasin akuu…..”

 “Diam kamu! Berisik ahh.”

“Aku nggak mau diam!”

“Bodoh ah.”

“Apa yang kalian inginkan? Siapa yang mengirim kalian?”

Tanpa mendapat jawaban, penculik yang duduk di jok samping pengemudi mengeluarkan pisau kecil untuk menggertak si wanita kaya.

“Hei itu terlalu berbahaya,” tegur wanita diculik. “Letakkan pisaumu. Bagaimana kalau kita selesaikan masalah kita dengan uang?”

“Diam!”

Satu penculik itu kembali menutup mulut si wanita dengan kain hitam lalu mengikatnya kembali agar wanita itu diam. Tetapi wanita itu terus memberontak, bahkan dengan kedua kakinya. Perlahan-lahan ia merasa seolah-olah tidak berdaya lagi, ketakutan. Si wanita kaya itu pun pingsan. Atau pura-pura pingsan....

≈ΦΦ≈

Di sebuah rumah kecil, hanya ada satu kamar tidur berhadapan dengan dapur. Tidak ada sekat pembatas antara ruang tamu ke dapur. Terdapat meja persegi kecil untuk makan dan bermain kartu. Tidak banyak properti di rumah ini selain peralatan standar pada umumnya.

Wanita yang diculik itu duduk terikat pada kursi kayu, rambut dan lipstiknya tampak berantakan.

Ketika dia mellihat dua pria penculik di ruangan itu. Satu penculik pria memiliki alis lebat, mata yang tajam ketika dia marah tatapannya bisa menakuti-nakuti, bibir tegas, lengan kanannya lengan kanannya terdapat tato simbol matahari, serta garis-garis wajah yang tegas ditambah bekas luka di wajahnya di dekat dagunya. Sedangkan penculik pria yang mengenakan topi memiiki wajah yang lebih fheminim, kulit halus, rambut berwarna cokelat dan tahilalat kecil di bawah bibirnya, memberi kesan yang muda dan friendly.

Bola mata wanita itu menyelidik ke seisi rumah kecil itu, tempat itu suram dan membuatnya merasa tercekik. Tentu itu sangat tidak nyaman baginya.

“Astaga... kalian benar-benar menculikku?” kata wanita yang tengah terikat dengan nada sarkas.

Salah satu penculik membalas. “Kamu pikir kami bercanda?”

“Kami nggak menculikmu. Hanya menyanderamu beberapa hai saja,” sahut penculik satunya.

“Hei itu sama saja.” Wanita itu menatap kedua pria di hadapannya. “Kenapa kalian melakukan ini? Kalian akan dalam masalah.”

“Apa yang kamu katakan?”

“Keluargaku pasti akan mencariku,” jawabnya. “Asal kalian tahu, pekan depan aku akan bertunangan. Kalian menculikku di waktu yang salah,” ujar wanita kemudian. “Mereka pasti akan menelpon polisi. Lalu para intel dan anjing pelacak akan menemukan kalian. Dan saat kalian tertangkap, kalian akan mendapat hukuman yang berkali lipat karna telah melakukan kejahatan kriminal dan penculikan berencana!”

Kedua penculik masih mengenakan kacamata hitam saling tukar pandang. Bagi para penculik, inilah waktu yang tepat.

Penculik yang agak fheminim menatap gugup kawannya. “Hei, dia bilang kita akan mendapat hukuman berkali lipat?” Kemudian dia berkata pelan. “Kita lepasin dia saja!”

“Heh! Kenapa dilepasin?!” Kawannya mendecis. “Jangan dengerin dia. Kita hanya menyanderanya beberapa hari.”

Wanita yang terikat menyahut. “Aku tidak mengerti apa alasan untuk semua ini?”

“Alasannya?”

Penculik berwajah halus melepas topinya. Rambut pendeknya terlihat sedikit basah.

“Hei tidak ada yang akan menyakitimu,” timpal penculik pria memiliki alis lebat. “Kami hanya penculik biasa.”

Si wanita kaya memprotes. “Dari sekian banyak orang. Kenapa harus aku??”

“Ada dua alasannya. Dan kamu masuk dalam kriteria kami,” jawab penculik pria memegang topi. “Kami sudah berunding dan melakukan observasi. Dan kami putuskan untuk melakukan tindakan kriminal dengan keterpaksaan.”

Penculik satu bersuara santai. “Akhir-akhir ini masa-masa sulit, dan orang-orang hanya membutuhkan... Ya kamu tahu...,” katanya enteng. “Kamu terlihat seperti wanita sosialita yang di sekelilingmu adalah uang, makanya kami memilih kamu. Tenang saja, kami akan melepasmu kalau jaminan tebusanmu sudah ada.”

Penculik satu melanjutkan. “Selain itu... Ada satu kesepakatan lain.”

Wanita terikat itu menghardik. “Tebusan? Kesepakatan? Kalian berdua serakah banget!”

“Kesempatan emas nggak datang dua kali.”

Wanita yang diculik mendesis. “Aku peringatkan kalian! Penculikan adalah tindak pidana berat!”

“Oh. Apakah itu ancaman?”

“Apa kami terlihat bercanda dari tadi?”

Tentu saja keduanya paham betul bahwa penculikan dan membuat ancaman adalah tindakan yang tercela. Tapi tak ada yang bisa dilakukan, semua tergantung situasinya. Ada situasi yang membutuhkan tindakan seperti itu.

“Baiklah... ini tidak lucu dan membosankan.” Wanita kaya itu pasrah. “Sebenarnya apa mau kalian?”

“Aturannya sederhana. Pertama, kamu hanya memiliki satu kesempatan untuk memanggil seseorang untuk menebusmu. Kedua, kita bernegosiasi.”

“Kami tidak akan meminta tebusan yang banyak.”

“Yah Setidaknya kamu harus pasang harga tinggi. Aku bukan barang yang murah,” timpalnya. “Aku wanita mandiri, cerdas, kaya dan memiliki kualifikasi tinggi.”

Kedua penculik saling lempar pandang terheran-heran. Benar-benar wanita arogan, pikir keduanya. Mereka tidak salah memilih mangsa.

Lihat selengkapnya