-Kilas Balik- The day begore the wedding.
Sebelum pertunangan buta terjadi. Kakek Agnes yaitu Pak Samir menyidang cucu perempuannya sehabis makan bersama. Wanita itu sudah sangat dewasa.
“Agnes, kapan kamu akan menikah?”
Agnes tersedak. “Apa, Kek? Agnes nggak dengar.”
“KAPAN KAMU AKAN MENIKAH?” ulang Kakek Samir nada tinggi.
“Ya, nanti kalau calonnya sudah ada.”
Wanita bernama Agnes ini baru saja putus dari kekasihnya.
“Kalau kamu tetap melajang sampai besok. Kakek mungkin akan mencoba jalan lain.”
“Hekkk Besok?” Agnes menganga seraya mengernyitkan kening. “Kakek, ini zaman modern….”
“Jadi Kakek harus ikut modern?”
Agnes menghela napas. “Tidak bisa! Agnes ingin fokus pada karir dulu. Aku harus mendukung diriku sendiri.”
“Kapan kamu berhasil?” Sindir Kakek Samir. “Sepupumu menikah jauh sebelum mereka bisa mendukung dirinya sendiri. Dan sekarang mereka berhasil berkat dukungan pasangan mereka.”
Agnes hanya mengangkat kedua bahunya.
“Bukannya kamu punya banyak teman pria.”
“Mereka semua adalah suami dan pacar temanku.”
“Kenapa kamu tidak meminta temanmu untuk dikenalkan dengan seorang pria?”
“Mereka tahu tidak ada pria yang cocok untuk Agnes.”
Kobaran api makin membesar di atas kepala Kakek Samir.
“Itu bukan masalah Kakek! Kamu harus menikah tahun ini,” ucapnya sinis. Hampir saja Kakek melempar tongkatnya. “Agnes, umurmu sudah nggak muda! Ada banyak cucu dan anak kolegaku. Kamu bisa memilih calon suami di antara mereka.”
“Fiuh... kakek terlalu ikut campur.”
“Beraninya kamu bilang begitu. Dengarkan saja ucapan Kakek. Oke!”
“Apa aku cucu diadopsi?”
“Apa kamu tidak sayang sama Kakekmu yang rentan ini?”
Mimik Kakek Agnes lebih sendu dan menyedihkan ketimbang dirinya. Diam lebih baik, membangkang hanya di cap kurang ajar.
≈ΦΦ≈
Agnes berpikir, dia akan menikah hanya jika pria itu kaya, tampan, tinggi, penurut, kuat, berkharisma dan sukarela menjadi tulang punggung rumah tangga. Itu standarnya.
Oh Tidak! Kakeknya lebih dulu mengambil langkah pertama. Dia telah mengatur kencan buta untuk cucunya sendiri. Mau tak mau Agnes menurutinya.
Ibu Agnes mengatakan, kali ini kencan buta anaknya adalah anak dari orang besar dalam lingkaran bisnis sang Kakek. Usianya tiga puluh. Dia sangat tampan, cerdas. Dan memastikan agar Agnes tidak meninggalkan kesan buruk!
Kencan buta dengan pria berstatus tinggi adalah sesuatu yang bisa dibanggakan oleh sebagaian wanita.
≈ΦΦ≈
Agnes sambil berjalan menggenggam ponsel di telinganya sedang berbicara dengan sahabatnya bernama Yola.
[“Aku mau nginap di tempatmu malam ini. Aku akan memberitahumu nanti drama keluargaku.”]
Di kediaman Yola.
“Masih komunikasi sama Seno?”
“Sudah jarang. Semenjak kejadian itu, aku sudah menutup akses.”
“Jadi drama apa yang mau kamu ceritakan padaku?”
“Hmm... aku kan sudah putus sama si brengsek itu. Menurutmu, bagaimana kalau aku dekat dengan orang baru? Atau apa aku rehat saja dulu?”
“Kalau orang itu bisa buat kamu nyaman, nggak apa-apa. Tapi kamu harus selektif juga melihat kepribadiannya. Jangan asal dekat saja seperti yang kemarin.”
“Itu pasti! Sekarang aku lebih selektif.”
“Belajar dari pengalaman. Jangan seperti yang lalu-lalu.”
Agnes menertawakan dirinya sendiri.
“Memangnya kamu sudah ada calon baru?”
“Kakekku mengenalkan aku pada anak koleganya,” jawabnya. “Aku akan coba bertemu pria ini. Bukan untuk mencari pelampiasan, tapi aku ingin coba membuka hati. Apa dia bisa membuatku nyaman dan dapat teralihkan dari si brengsek itu.”
“Tidak ada salahnya bertemu dulu.”
“Aku sudah mempertimbangkan itu, aku nggak akan memaksa diriku. Aku mau dekat dengan pria ini karna keinginanku, srek atau tidak urusan belakangan.”
“Wait, Ini bukan balas dendam, kan?”
“Ya enggaklah. Kamu tahu sendiri kan alurnya. Aku cuman mau berusaha menjalin hubungan yang baik dan sehat.”
Agnes terasa muak memikirkan penawaran Kakeknya, sehingga dia berpikir untuk menariknya.
≈ΦΦ≈
Tempat pertemuan di restoran lantai dua sebuah hotel, letaknya tepat di seberang pintu masuk utama.
Riasan polos Agnes mengamati pria tampilan rapi bersih berdasi, jas dari merk termahal serta memiliki kumis tipis di hadapannya. Dua gelas minuman di depan masing-masing. Ini hanya kencan buta, dia tidak mempermasalahkan dan hanya berdandan biasa saja.
Demi keluarga keduanya bertemu. Pria ini bukanlah orang asing, dia salah satu anak dari kolega keluarga Pak Samir bernama Marvin. Meskipun begitu ini pertama kali mereka bertemu.
Sehabis perkenalan singkat, untuk sementara waktu tidak ada suara. Dan akhirnya bersuara bersamaan....
“Uh....”
“Eh....”