Kembali ke situasi saat ini, drama penculikan.
Wanita kara raya itu telah melewati hari yang melelahkan. Disergap, ditawan dan terintimidasi. Dia sudah benar-benar lapuk, dia tidak bisa menyelinap keluar menghirup udara segar.
Di luar keadaan sudah malam dan dingin. Penculik pria itu sudah bangun, ia membakar sebatang rokok. Agnes menegurnya.
“Hei... Sampai kapan aku berada di tempat terkutut ini?”
“Sampai tunanganmu datang membawa tebusan,” jawab si penculik. “Ini sudah berjam-jam tapi belum ada kabar, huh,” keluhnya. Lalu berdiri menuju area dapur. “Hei Siapa namamu?”
“Agnes.”
Penculik itu memandang Agnes beberapa saat. ‘Cukup menggoda.’
“Apa kamu tidak memberi makan tawananmu? Kalau aku sakit bagaimana?”
“Kamu lihat sendiri, tidak ada apa-apa di sini,” jawabnya sembari menunjukkan bahwa di sekitarnya semua kosong, isi kulkas pun hanya beberapa botol air.
“Dasar teroris kejam!”
“Kamu nggak akan mati cuman gara-gara melewatkan satu malam tanpa makan.”
Melihat muka si wanita penculik itu, Agnes seperti ingin pipis di atas mukanya. ‘Apa-apaan dia?’ gerutunya. Penampilannya seperti anak brengsek yang di D-O dari sekolah.
“Apa aku harus tidur di kursi keras ini?”
Penculik terlihat macho melipat kedua tangannya sambil bersandar pada dinding. “Aku bisa memberimu tempat tidur di kamarku, tapi itu VIP. Aku akan menambahkannya dalam biaya tebusan.”
“Apa?? Lama-lama aku gila di sini.”
Penculik itu tertawa jahat. “Aku mau keluar menghirup udara segar,” katanya sambil berjalan ke arah pintu.
“Hei Tunggu. Bagaimana denganku?”
“Aku cuman mau beli makan untuk kita berdua.”
“Oh. Oke pergilah!!”
Tidak ada penjaga di sekitarnya, yang berarti tidak mungkin untuknya melarikan diri. Wanita ini ingin mengambil kesempatan untuk kabur, tapi dia tidak pandai meloloskan diri ala-ala adegan di film. Seumur hidupnya dia lebih banyak menonton film drama romansa.
Dia memejamkan mata, bersiap-siap untuk tidur. Namun nyamuk mulai berdengung di sekitar kepalanya. Itu membuatnya jengkel, sangat mengganggunya.
Pada malam hari, sekitar pukul sepuluh. Penculik pria baru pulang ke rumahnya. Dia mendapati tawanan wanita itu tertidur terkulai di kursi. Dia si penculik membungkukkan badannya mencodongkan wajahnya tepat berapa centi di depan wajah Agnes.
‘Sebenarnya dia cukup cantik kalau dilihat lebih dekat. Tubuhnya juga sempurna. Dia cukup memukau,’ gumam dalam hati si penculik sembari berfantasi liar. ‘Tidak! Bukan saatnya mengagumi kecantikannya! Tetap pada bisnis.’
Oh Tidak... ini bagian terburuk. Agnes membuka matanya. Sepasang mata itu saling terkejut melotot kaku.
Sementara itu, keluarga Agnes serta kerabat tak ada yang curiga dengan informasi palsu Marvin, mereka hanya menunggu kepulangan dua sejoli itu.
≈ΦΦ≈
Hari kedua penculikan.
Pagi ini, wanita bernama Agnes itu masih terjebak tali di tangannya, ia merasakan sakit di punggungnya dan bokongnya mulai keram akibat duduk sepanjang malam. Dia bahkan belum pipis atau buang air besar. Yah setidaknya dia dapat makan malam.
Di hadapannya dua pria berbeda jiwa sedang mengobrol. Agnes benar-benar asing dengan wajah keduanya. Agnes merasa keram, ikatan tubuhnya begitu ketat hingga dia merasa mati rasa.
Wanita itu bersuara. “Hei, aku mau ke toilet.”
Dua pria itu menoleh bersamaan.
“Jadi kamu mau apa?”
“Hah? Kalian tidak mungkin membersihkan pipisku, kan?”
Penculik macho menarik lengan Agnes kemudian menuntun ke toilet dekat dapur.
“Setidaknya lepaskan dulu talinya!” pinta Agnes. “Tidak mungkin aku kabur. Aku beneran mau pipis.”
Penculik macho melepas sementara ikatan simpul Agnes.
“Silakan masuk. Toilet ini gratis.”
Dia menunggu di depan pintu toilet. Tidak berlangsung lama, Agnes membuka pintu toilet. Selanjutnya, dia memerintahkan Agnes untuk sarapan di meja kecil. Dua bakpao hangat dan susu kotak sudah menunggu disantap oleh Agnes.
Pria halus itu berkata pada Agnes. “Hari ini dia bilang akan datang. Semoga dia nggak bohong.”
“Aku harap juga begitu,” jawab Agnes sambil mengunyah.
“Kalau sampai tunanganmu tidak muncul hari ini. Kamu akan mati.”
“Dia pria yang baik. Dia pasti akan muncul dan menyelamatkanku.”
Sehabis sarapan, si penculik menyuruh Agnes berdiri. Kemudian mengikat kembali simpul di kedua tangan. Keduanya berdiri sangat dekat, Agnes bisa mendengar napas dan merasakan gerakan penculik itu di tangannya.
Beberapa jam kemudian.
Akhirnya pria yang ditunggu-tunggu itu pun datang memenuhi janjinya. Penculik macho membukakan pintu. Agnes bersemangat riang.
Pria itu menghentikan langkahnya di ambang pintu ketika melihat calon tunangannya duduk tak berdaya dan pria halus berdiri di belakangnya.
“Agnes....”
“Marvin. Kamu di sini...,” kata Agnes semangat. “Tolong aku....”
Penculik macho menutup pintu dan mendorong lelaki itu ke dalam.
Pria impoten itu mengernyitkan kening. “Nizar? Kamu sudah nggak waras!” hardiknya.
Nizar menyeringai.
Marvin menatap Nizar. “Zar, kalau kamu punya sesuatu untuk ditanyakan sama aku. Kamu bisa ngomong secara langsung, nggak perlu melakukan aksi konyol di belakangku.”
Pria yang dipanggil Nizar itu maju mendekat. “Kita harus bicara menyelesaikan perkara hubungan kita,” katanya lugas.
Penculik macho beralih berdiri di belakang kursi Agnes, bokongnya bersandar di samping kulkas. Keduanya siap menonton drama dua pria di hadapannya.
Nizar langsung tancap gas. “Aku kira kamu tidak pernah tertarik sama wanita,” ucapnya sarkasme. “Lihat saja dirimu! Kamu kayak sampah. Aku nggak berpikir ada wanita yang menyukaimu.”
“Aku kaya. Jadi wajar kalau banyak yang menyukaiku, pria ataupun wanita.”
“Tapi kenapa kamu bohong tentang itu?” Nizar meninggikan suaranya. “Kamu b*jingan bodoh. Aku menganggap hubungan ini serius, tapi kamu hanya mempermainkan aku.”
“Zarl, usiaku sudah kepala tiga. Sudah waktunya menikah.”
“Kamu melakukan demi keluargamu? Bukan atas dasar cinta.”
Pria bernama Marvin itu menunduk. “Jangan bilang begitu.” Ia mengangkat kepalanya kembali. “Mana mungkin aku bisa menikah dengan orang yang nggak aku kenal dan cinta? Kami sudah sepakat.”
“Ini nggak masuk akal. Kamu pernah bilang itu cuman perjanjian dua keluarga.”
“Aku tidak tahu harus mengambil keputusan apa....”
“Tapi kamu juga nggak menolak.”
“Menikah bukan lelucon,” timpal Marvin. “Sebenarnya apa maumu?”
“Mauku? Kamu harus memberi kompensasi, biaya putus kita?....”