Jam menunjukkan pukul empat sore. Di rumah kecil sedernaha itu, tinggal hanya dua orang dewasa sepeninggal dua pria guy.
Penculik pria duduk mengikat tali sepatu bot hitam disatu-satunya sofa panjang di rumah itu, sepuntung rokok terapit di antara bibirnya.
Agnes baru membuka matanya beberapa detik yang lalu tanpa terikat tali simpul.
“Hi, kamu bangun,” tegur si penculik. “Apa kamu ingin sesuatu?”
“Ya, Aku ingin pulang!”
Penculik itu tersenyum kecut.
“Hei teroris,” panggil Agnes sengaja menyinggung.
Penculik itu berdiri dan menoleh sinis pada Agnes. “Aku benci dengan julukan itu. Jangan sebut lagi!” katanya tanpa melepas rokok di bibirnya. “Panggil aku Ken! Kenzo.”
Kenzo seorang pria yang hanya mau percaya dengan apa yang ingin dia percaya. Dan tidak pernah meminjamkan telinganya kepada orang lain.
“Okay, Kenzo. Namamu mirip dengan nama buaya tetanggaku.”
“Oh ya? Ngomong-ngomong kamu bisa jaga rumah, kan? Karna aku akan menguncimu dari luar.”
“Ha, maksudmu?”
“Kamu masih dalam masa tahanan, jadi nggak boleh kemana-mana.”
Bola mata Agnes memutar melihat sekeliling. “Apa yang bisa aku lakukan di tempat ini?”
“Tidur!” kata Kenzo singkat. “Di sini adalah satu-satunya tempat paling aman buat kamu.”
Dengan pasrah Agnes menerima apapun yang terjadi pada nasibnya.
≈ΦΦ≈
Agnes melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah kesal. Hari ini dirinya melihat drama melankolis dua lelaki. Sungguh dia tidak tahu kejahatan apa yang telah ia perbuat, sampai-sampai terlibat dengan orang-orang aneh.
Dia kemudian berdiri, mencari makanan di dapur. Cacing-cacing di perutnya terasa mengamuk. Dia lupa belum makan berat dari siang, hanya sarapan tadi pagi. Wanita itu mulai frustrasi ketika tidak ada secercah harapan untuk perutnya.
≈ΦΦ≈
Pria berpenampilan gentleman itu kembali ketika gelap di seperempat malam. Agnes berbaring telentang di sofa. Ia menyadari kedatangan si pemilik rumah.
“Kenapa kamu kembali?”
Reaksi bingung ditunjukkan Kenzo. “Apa maksudmu? Ini rumahku, aku bisa kembali kapanpun aku mau!”
“Kamu mau bunuh aku perlahan-lahan. Pergi dan menyandera orang tanpa memberi makan.”
Agnes merasa putus asa karena kelaparan.
“Kenapa kamu nggak tidur saja?”
“Mana ada orang yang bisa tidur dalam keadaan lapar.”
“Kenapa kamu marah? Kamu tahu, kamu terlihat cantik saat marah.”
“Tidak! Aku tidak marah. Aku kesal.”
“Kamu semakin cantik kalau lagi kesal.”
“Apa kamu sadar? Kamu terus mencoba menggodaku!”
“Yah, mau gimana lagi. Kamu cantik.”
“Oh shitt....”
Agnes cengengesan. Dibalik itu, dia ingin sekali menampar Kenzo berkali-kali tetapi tidak bisa. ‘Agnes kendalikan emosimu, tetap tersenyum meskipun kelaparan.’ Menyemangati diri sendiri.
Malam yang sunyi hanya ada dua manusia berbeda kelamin di satu ruangan.
Kenzo menjilat bibirnya sendiri, dan berkata nada genit. “Hei... Tidak ada orang lain di sini kecuali kita. Kenapa kita tidak melakukan sesuatu yang menarik?”
“Kamu bisa nggak bicara selayaknya orang normal? Tunjukkan sopan santunmu!”
Semakin Agnes melawan, Kenzo semakin bersemangat.
≈ΦΦ≈
Hari ketiga Agnes di rumah kecil Kenzo. Waktu menghitung pertunangan kurang dari empat hari.