Misi Hunter : The Fox and The Rich Woman

Haidee
Chapter #5

Di balik: Si Rubah dan Wanita Kaya

Setelah matahari terbenam dan bintang-bintang mulai bermunculan menampakkan cahayanya. Ditambah lampu jalan, lampu cahaya gedung dan toko yang ada di sekitarnya.

Kedua insan berjalan berdampingan dengan posisi masing-masing satu tangan dari mereka saling terikat simpul. Itu Kenzo lakukan agar Agnes tidak kabur. Agnes tampak kikuk dan tidak nyaman, satu tangannya terus memegangi lengannya.

Kenzo menyeru. “Berjalan-jalan santai di malam hari benar-benar menyenangkan.”

“Apa ini yang kamu lakukan setiap malam?”

“Keluar melihat hewan eksotis dan tempat hangout.”

“Hewan eksotis?”

“Wanita-wanita kesepian.”

“Oh begitu.” Agnes mengangguk-ngangguk seakan paham, begitu banyak istilah dalam kamus seorang Kenzo. Ia menanggapi. “Itu jelas terlihat, kamu seperti seekor serigala besar yang menyebarkan kecentilan.”

“Lidahmu sangat tajam.”

“Ya, yang manis hanya lidah buayamu.”

Kenzo menghentikan langkahnya, lalu menatap tajam wanita di sampingnya. “Apa aku pernah menyinggungmu? Kenapa kamu sensi terus sama aku?”

Agnes tak menggubri, ia mengabaikan Kenzo.

Sambil memandang ke depan dengan view kota, Agnes mulai berbicara sesuatu. “Apa kamu tahu, apa hal yang menyedihkan bagi pewaris orang kaya?”

“Tidak. Apa itu?”

“Kita bisa menuntut apa saja, tapi tidak untuk hidup kita,” ujar Agnes. “Kami akan digunakan sebagai alat tawar menawar untuk menstabilkan hubungan kedua kelompok. Tidak ada yang menentang.” Ini terdengar seperti curhat colongan. “Di luar dari itu, tidak peduli apa kita menyukai pihak lain atau tidak. Ini semua tentang hal yang menyedihkan tentang pewaris orang kaya.”

“Lalu kenapa kamu langsung setuju dengan rencana itu?”

“Itu karna aku gegabah. Karna tidak ada cara untuk mengubah hasil negosiasi mereka,” terang Agnes. “Seperti Marvin, aku juga tidak ada pilihan lain. Kalau aku menolak, yang menantiku adalah petir dari Kakek. Nikah paksa yang tidak ada bedanya dengan kematian bagiku.”

“Ternyata keluarga besar juga memiliki kesusahan seperti itu yah.”

Kadang hidup tak berjalan sesuai keinginan anda. Semua memiliki pro-kontra. Menjadi pewaris kaya terdapat sisi menyedihkan. Tidak jauh lebih baik dilahirkan dalam keluarga biasa untuk mengkhawatirkan hal-hal sepele seperti kebutuhan sehari-hari.

Dua pasang kaki itu melanjutkan jalannya. Di jalan yang ramai dengan pejalan kaki, Agnes melangkah ke kanan sementara kaki Kenzo melangkah ke kiri. Itu membuat keduanya saling menarik dan bertentangan.

“Aku mau lihat apa yang ada di sana!” kata Agnes sambil menunjuk arah.

“Tidak ada apa-apa di sana,” tepis Kenzo. “Aku kutunjukkan tempat nongkrong yang bagus.”

Tak ada yang dapat dilakukan seorang Agnes selain pasrah.

Ada band kecil yang bermain di luar restoran, hiruk piruk muda-mudi berkumpul. Mereka berdua pun mengambil kursi bersampingan untuk menikmati pertunjunkan live musik, sesekali ikut bernyanyi.

Sisi lain, Kenzo mengeluarkan jurus genitnya pada seorang wanita yang duduk di dekat meja mereka. Itu diperhatikan oleh Agnes namun dia tidak menghiraukannya dan memilih tetap menonton pertunjukan.

Kenzo berkata pada wanita asing itu. “Sepertinya kita pernah bertemu. Kamu terlihat familiar.”

Wanita asing itu tercengang. “Oh, ya?”

“Ah aku ingat, aku bertemu denganmu di mimpiku.”

Wanita asing hanya cengengesan...

“Aku nggak banyak permintaan, hanya satu. Kamu cukup memberiku nomor handphonemu dan aku akan menghubungimu nanti.”

Lihat selengkapnya