Misi Hunter : The Fox and The Rich Woman

Haidee
Chapter #7

Pengasuh Lansia

Seminggu berlalu begitu cepat setelah pertunangan itu. Marvin melakukan perjalanan bisnis selama waktu yang tak ditentukan.

Betapa bahagianya Nizar, dia akan menghabiskan waktu bersama pawangnya. Sepasang pasangan homoseksual itu akan berangkat dengan alibi perjalanan bisnis.

Sebelum pesawat lepas landas, Marvin melakukan panggilan telepon dengan Agnes.

[Marvin : Pesawat akan lepas landas. Untuk sisanya biar aku yang menanganinya sampai nanti aku kembali.]

“Okey.”

Agnes menutup telepon, dia berada di kamarnya bersama Yola.

“Kamu mau keluar denganku?”

“Ke mana?”

“Pergi melihat lokasi, bertemu pebisnis... hm.”

“Lalu ke Bar?”

“Yah,” seru kedua wanita penuh semangat. “Ayo kita hidupkan lagi masa lajang kita.”

≈ΦΦ≈

Malam suasana dalam Bar, suara gelas saling beradu disertai suara bising musik DJ dan gemerlap lampu warna-warni. Dua wanita sebaya sedang menikmati minuman dan musik sambil menggoyangkan kepala mereka.

“Turun yukk,” seru Yola .

Agnes yang sudah nyaman duduk menolak ikut turun.

Yola menarik tangan kawannya. “Ayolah beb.”

“Kamu saja deh! Bentar aku nyusul.”

“Tumben, biasanya juga liar. Hahaha.”

Agnes tak mempedulikan ejekan Yola. Yola tak ingin meninggalkan Agnes yang sedang tidak mood bergerak.

“Yol, aku merasa semakin ke sini hidup semakin membosankan.”

“Itu hanya perasaanmu saja,” balas Yola. “Secara hubungan, kamu menderita.”

“Kamu yang selalu mengerti aku, Yol.” Ia melanjutkan. “Tapi aku membutuhkan pacar yang tampan dan romantis. Bukan sahabat karib yang selalu menemaniku.”

Di tengah kerumunan pengunjung, Yola melakukan penyeleksian random kepada pria-pria yang ada di dalam Bar.

“Lihat, pria sixpack di sebelahmu,” kata Yola pandangannya ke meja sebelah kiri mereka. “Dia pasti sering ke gym latihan.”

Agnes menoleh ke samping melihat sosok pria bertato bertubuh kekar. “Penampilannya lumayanlah. Tapi itu terlalu seksi.”

“Benar. Hm... bagaimana dengan pria ber-jas putih itu?” Yola memberi petunjuk menggunakan bola matanya.

“Yang satu ini kelihatannya masokis,” jawab Agnes sambil menilai pria kedua, memiliki belah tengah rambut dan wajah lonjong.

“Pria yang duduk di sampingnya?”

Pria berambut gondrong tampak macho dengan rambut diikat satu memiliki sedikit brewok di dagu.

“Dia bukan tipeku.”

“Bagaimana dengan potongan buzz di belakangmu?”

Agnes berbalik mengamati sejenak. Pria terlihat mantan tentara perbatasan. “Kalau yang ini aku bingung....”

“Lalu seleramu yang bagaimana?”

Agnes mengangkat gelasnya untuk cheers. “Ayo kita jangan bahas pria sekarang. Kita nikmati saja dunia kita,” serunya.

Yola membalas cheersnya. Mereka menumpahkan kebosanan dalam minuman.

Cheerrsss...

Kemudian datang seorang pengunjung pria di sebelah meja Agnes, pengunjung itu memesan minum. Dengan kesadaran, Agnes memperhatikannya dari atas sampai ujung sepatu, dari rahang hingga bentuk tubuh. Tapi ia merasa aneh dengan kacamata hitam yang dikenakan oleh pria tersebut. Pria itu terus mengenakan Kacamata hitamnya dalam kegelapan. Dia tampak seperti mata-mata sedang menyamar.

“Agnes.”

Suara Yola membuyarkan perhatiannya.

“Kamu tidak mendengarku?”

“Maaf, musiknya terlalu keras.”

“Ibumu menyuruhku mencari perawat untuk kakekmu.”

“Uh oh ya?”

Yola memperhatikan Agnes yang pandangannya ke arah lain. “Kamu lihat siapa sih?”

“Rasanya aku mengenal pria berkacamata di sebelah kita.”

Yola tak mau ketinggalan, ia menoleh di mana posisi pria berkacamata berada.

Shit, sosok itu bangkit dari kursi berjalan mendekat ke arah meja Agnes dan Yola

“Hi.”

Suara sapaan barusan terdengar familiar di telinga Agnes. Tidak salah lagi, itu adalah suara yang pernah dia dengar sebelumnya saat dirinya berada dalam gubuk kecil.

Hanya Yola membalas sapaan tersebut. “Hi.”

Pria itu melepas kacamata hitamnya. Kemudian menatap Agnes. “Hi Nona. Apa kamu masih mengenalku?”

“Hi Ken.”

Kenzo tak percaya bahwa Agnes suka datang ke tempat seperti Bar.

“Wah kebetulan sekali… aku nggak nyangka akan bertemu kamu lagi secepat ini,” ucap Kenzo dengan mata berbinar. “Benar-benar seperti sudah ditadkirkan bertemu. Sungguh sangat romantis.” Ia lalu tersenyum picik.

“Sama,” balas Agnes judes. “Aku kira kamu sudah di planet lain,”

“Heh, aku bisa mencium aromamu dari jauh.”

‘Ya. seperti rubah pelacak?’ – Agnes.

Lihat selengkapnya