Misi Hunter : The Fox and The Rich Woman

Haidee
Chapter #8

Bastard

Kakek tua yang akan dijaga oleh Kenzo tengah menikmati sarapannya seorang diri di meja makan yang panjang. Ia menikmati soup hangat di dalam mangkuk gerabah di hadapannya.

Dilihat dari penampilan Tuan Samir. Usianya lebih dari tujuh puluh. Kerutan dahi dan wajahnya tampak jelas. Rambutnya, alis dan sedikit janggut di dagunya semua serba putih. Matanya telah rabun sehingga ia harus menggunakan kacamata, pendengarannya masih tajam. Dia tak terlihat seperti kakek lansia yang kesepian. Dia adalah salah satu otak dibalik dorongan pertunangan cucunya.

Kenzo datang padanya berdiri di samping meja makan seraya memperkenalkan diri. Kakek Samir menawarkan Kenzo duduk dan makan bersamanya, Kenzo menolak dan tetap berdiri. Dia berdiri seperti bodyguard baru direkrut untuk menjaga bos besar.

Ini adalah pekerjaan sementara tanpa pengetahuan dan pengalaman atau keterampilan. Dia hanya harus melakukan kewajibannya.

Menurut Kenzo, pekerjaan adalah sebuah misi. Dia terlahir dari keluarga tidak berderajat, jadi dia hanya ingin menghasilkan uang. Dia bekerja seperti orang gila, seperti ada sesuatu yang mendorongnya sepanjang waktu. Dia bahkan sering mengambil lebih dari satu peluang sekaligus.

“Masalah keterampilan bukanlah segalanya. Kamu harus memiliki karakter yang tepat,” kata Pak Samir. Ia melirik Kenzo. “Siapa namamu?”

“Kenzo, Tuan.”

“Kenzo?”

Pak Samir menyelesaikan kunyahannya.

“Kenzo yah?”

Dalam benak Kenzo, kenapa Pak Tua ini mengulang terus menyebut namanya. Apa ada yang salah dengan namanya? Dia bahkan tidak berkedip.

“Ya, Tuan,” ucap Kenzo. “Tapi jika Tuan Samir tidak suka namaku... aku siap menggantinya.”

Pak Samir terkekeh.

Kenzo menambahkan. “Bekerja melayani seseorang seperti Anda adalah kehormatan bagi saya.”

“Hm menarik.”

Kenzo menganggap misi kali ini seperti asisten pribadi Pak Tua.

≈ΦΦ≈

Di hari itu juga, Kenzo menyempatkan berkeliling area dalam rumah ketika Tuan Samir sedang beristirahat. Sekadar untuk melihat-lihat seperti lukisan dan foto yang terpajang di dinding, bebarapa porselan keramik dan barang antik lainnya. Dia dapat melihat foto keluarga masa ke masa dari keluarga Kakek Samir dan Agnes.

Kenzo melangkah lambat ke sebuah bupet setinggi dadanya, di atasnya tertata beberapa bingkai foto Tuan Samir dan keluarga besarnya. Ia memperhatikan satu persatu bingkai foto yang berjejer.

Pak Samir menjadi pengusaha sukses kaya raya, membuka mitra dimana-mana pabrik dan memutar uangnya dengan lihai di bursa saham. Dan ketika berumur lima puluh tahun, dia telah mengumpulkan cukup uang untuk pensiun. Dan mengabdikan seluruh waktunya pada keluarga. Dia mempunyai reputasi dirinya sebagai pria eksentrik paling terpelajar di lingkarannya.

Di lain sisi, Kenzo kembali bertemu dengan Agnes. Dia akan mulai menggoda wanita tantangannya. Pria bertato itu tak sabar untuk membagikan berita bahagia ini ke Nizar.

Sementara itu Yola dan Agnes berdebat kecil di lantai dua.

“Kenapa kamu begitu sensi dengannya?”

“Bukan begitu. Aku hanya kurang suka dengan gayanya.”

“Kamu nggak perlu lihat gayanya.”

“Dia sombong, over confidence, brengsek dan dia sangat menyebalkan!”

“Lalu masalahnya di mana?”

Agnes kehabisan kata-kata sesaat.

“Kamu tertarik dengannya?”

Agnes terkejut. “Heh? Tidak! Maksud aku….”

“Jadi biarkan saja kalau begitu.”

“Tidak ada, aku hanya... Yeah dia sudah pernah menculikku.”

“Sekarang situasinya berubah. Dia tidak akan berani menculikmu di rumahmu.”

“Yah, aku tahu.”

“Kalau dia menculikmu, aku yang akan menghukumnya.”

“Terserah.”

Rasanya berbicara pada Yola seperti tong kosong bagi Agnes.

≈ΦΦ≈

Berbaring di paha kekasihnya, Nizar berkata. “Vin, ngomong-ngomong rencana penculikan dan mengancam itu adalah semua ide Kenzo. Aku tidak punya pilihan selain mengikutinya.”

“Kalian berdua sama saja.”

“Kamu tahu, setelah kamu mencampakkanku. Kenzo mengatur kencan buta untuk menghiburku.”

“Oh, jadi kamu pergi kencan buta?”

“Itu karna Kenzo membodohiku, dia bilang kalau pria itu sangat mirip denganmu. Itu teman dari teman ke temannya.”

“Jadi, apa dia mirip denganku?” suara lantang Marvin yang terdengar marah. “Beri aku alasan. Apa aku tidak cukup tampan atau aku tidak cukup kaya?”

Nizar terperangah. Ekspresi Marvin tak lebih dari seorang wanita sensitif.

Kekasih Marvin menutup matanya menunjukkan senyum palsu. “Oke.”

“Aku seharusnya tidak meremehkanmu. Kamu picik.”

“Apa yang kamu katakan, Vin?”

“Kamu sudah berniat selingkuhiku?”

“Heee.. Tidak tidak! Sekarang seluruh dunia tahu kalau aku hanya milikmu!”

Marvin mendekap kekasihnya dengan erat. “Awas saja kalau kamu berani main dibelakangku!”

Dalam benak seorang Nizar, Marvin memang pria brengsek. Baru seminggu lalu dia nekad bertunangan dengan wanita, sekarang dia menjadi posesif level up.

Nizar menyindir kekasihnya. “Bagaimana kamu bisa mengubah emosi seperti itu. Kamu benar-benar kayak b4jingan.”

Dan Marvin semakin impulsif.

Lihat selengkapnya