Misi Hunter : The Fox and The Rich Woman

Haidee
Chapter #9

Crush

Sudah seminggu Kenzo bekerja di rumah Agnes. Dalam hari-hari Kenzo bekerja, dia melakukan tugasnya dengan baik. Dia sangat menikmati misinya kali ini, dia bisa pergi bekerja dan pulang sesuai yang dia ingikan setelah tugas utamanya di kerjakan. Saat luang, dia bisa istirahat santai di sekitar rumah Agnes. Kadang-kadang dia bincang-bincang ringan dengan Pak Igor di halaman rumah dan Bibi Inem di dapur atau membuang sampah ke tong sampah di halaman luar. Dia lumayan cerewet untuk ukuran lelaki.

Bibi Inem memiliki alis lurus berlekuk tajam dan mata berkelopak tebal. Sedangkan Pak Igor berbadan kurus, dengan kaki dan tangan panjang mirip laba-laba. Bibir bawah kaku dan tulang pipi tinggi.

Dia punya modal bagus dalam pendekatan dengan Kakek Agnes. Kenzo biasanya mengajak Kakek tua itu mengobrol hal-hal tempo dulu sambil minum teh hangat, malam hari menonton acara tv. Tidak hanya itu, pria bertato itu ikut berolahraga ringan ala manula demi majikannya atau bermain catur berjam-jam. Kadang-kadang Tuan Samir meminta tolong dibacakan buku ringan, kadang-kadang menyuruh Kenzo untuk memanggil Agnes lalu makan bersama.

Sejak saat itu, sambil bekerja Kenzo mulai mengejar Agnes dengan gila.

≈ΦΦ≈

“Sudah berapa lama kamu melakukan pekerjaan ini?” tanya Pak Samir di sela waktu.

“Ini permulaan.”

“Sebelumnya kamu kerja dimana?”

“Cleaning service di Rumah Sakit.”

“Kamu melihat banyak kematian di sana. Hahaha.”

Kenzo tertawa kecil. “Hum. Itu tempat yang buruk.”

“Itulah kenapa Kakek tidak mau ke tempat itu,” kata Pak Tua sambil terkekeh parau. “Kenapa kamu ingin kerja di sini?”

“Kurasa aku hanya ingin perubahan,” jawab Kenzo. “Aku mengenal cucumu, Agnes,” katanya kemudian.

“Oh. Dia punya banyak teman dimana-mana.”

“Dia juga anggun, baik dan menawan. Hm dan sedikit seksi.”

Huk huk huk, Tuan Samir batuk kecil.

“Kamu adalah pria yang entah keberapa yang memuji cucuku.”

Pernah satu hari, Agnes melarangnya merokok di area dalam rumah. Sebenarnya Kenzo tidak pernah melakukan itu, dia selalu mengambil tempat di area luar ruangan seperti di sekitar kolam renang yang berada di halaman belakang rumah Agnes. Tempat itu cukup terbuka.

Diam-diam Kenzo pernah memberi Tuan Samir sepuntung rokok untuk dihisap beberapa kali. Saat itu Tuan Samir bercerita tentang masa mudanya, dia seorang pengguna cerutu. Meskipun begitu, Kenzo tetap membatasi dan menjaga Tuan Samir dengan benar.

“Ken, Bi Inem memberitahuku kalau kamu memberi Kakek rokok.”

Kenzo menyanggah. “Aku tidak memberinya. Kakek yang minta untuk menghisap sekali.”

“Apa tujuanmu? Apa kamu mencoba membunuhnya? Kamu harus tahu, Kakek harus menghindari asap rokok,” tegas Agnes. “Lebih baik kamu mengajak Kakek keluar menghirup udara segar.”

“Aku tidak bermaksud begitu. Aku nggak tahu....”

“Dengarkan aku baik-baik. Kalau terjadi sesuatu sama kakek, kamu juga harus dikubur!”

“Baik. Maafkan aku, itu salahku.”

“Ya memang salahmu!”

Dan setelah itu, Kenzo mengajak Tuan Samir berjalan-jalan keluar rumah.

“Kakek, hari ini hari yang indah. Izinkan aku mengajakmu jalan-jalan, Oke?”

Tuan Samir mengangguk. Keduanya berjalan pelan.

“Kakek, kamu pasti sudah lama tidak mengirup udara segar? Lihatlah pohon-pohon hijau dan bunga-bunga subur di sini.”

Itu lebih baik untuk memberi Tuan Samir sedikit sinar matahari.

Kenzo juga pernah izin ingin mengambil cuti di hari ketujuhnya kerja. Namun Agnes mengeluarkan amarahnya.

‘Beraninya kamu minta cuti. Baru juga seminggu ! Lebih baik kamu berhenti kalau kamu tidak menginginkan pekerjaan ini. Aku tidak butuh pemalas seperti dirimu.’

Keduanya hampir tidak bicara selain hal penting. Agnes cenderung cuek dan memasang jarak, selagi itu normal dia tidak masalah. Sebaliknya bila jiwa licik Kenzo timbul merayu Agnes, Agnes hanya akan mengabaikan mantan penculiknya itu.

Walaupun terkadang diabaikan, namun itu tidak menyurutkan rasa suka Kenzo pada cucu majikannya sekarang. Agnes juga punya hari yang sibuk beberapa hari terakhir mengurus bisnisnya sendiri.

Dia masih tidak percaya, bagaimana perasaan itu tumbuh begitu cepat, membuatnya pusing. Kenzo melihat Agnes lebih cantik tetapi mengerikan, situasi ini menarik pada saat yang sama. Seperti seorang pembantu yang melihat majikannya dari kejauhan, atau pasangan tuan rumah dan pengasuh. Terlihat biasa tetapi istimewa. Kenzo jatuh hati dengannya di antara ratusan wanita di sekitarnya. Semakin hari Kenzo merasa tersesat pada Wanita sosialita tersebut.

Sudut pandang Agnes. Dia tidak tahu kapan itu dimulai, dia telah merasa bahwa seseorang menonton dan memperhatikannya dan Kenzo membuatnya sangat jelas. Dia harus menerima realita, bahwa mereka berada di lingkungan yang sama untuk beberapa waktu ke depan saling melihat satu sama lain.

Keduanya seperti bermain petak umpet di dalam rumah. Agnes hanya akan mengabaikan dan terus mengabaikan. Dia cukup terganggu tetapi dia belum cukup muak. Tanda perdamaian belum nampak di antara mereka berdua.

Seperti saat Agnes mengendap-ngendap di dalam rumahnya sendiri karena menghindari omong kosong Kenzo yang selalu ditumpahkan saat keduanya tak sengaja bertemu di area rumah. Seseorang bertindak membabi buta dalam hal cinta.

Apa pun alasannya, itu berarti Kenzo mendapatkan kesempatan; kerja dan asmara, dua burung satu batu.

≈ΦΦ≈

Burung-burung bernyanyi, bunga-bunga mekar semerbak di taman. Kecantikan pipi kemerahan, mata yang bersinar terang seperti kelereng dan bibir lembut sewarna kelopak mawar. Agnes sudah siap keluar hari ini, Kenzo mengamatinya sedari tadi di meja makan.

“Ken, kamu punya surat izin mengemudi?” tanya Tuan Samir

“Ah tidak, Tuan,” jawabnya santai. “Saya nggak pernah mengurusnya.”

Dalam hati Kenzo, ‘Kenapa si Kakek bertanya? Apa dia akan menyuruh untuk mengantar Agnes?’

“Asuransi?”

“Asuransi juga tidak ada.”

“Astaga, bagaimana kalau sesuatu terjadi?”

“Itu tentu sangat menyedihkan.”

Pak Tua hanya menggeleng-geleng.

“Agnes, Kamu akan bertemu investor?”

“Ya, Kek,” jawabnya singkat.

“Semoga sukses.”

Tuan Samir, dia memiliki hak nyata untuk mendistribusikan properti keluarga Samir.

≈ΦΦ≈

Di sisi lain kota.

Lihat selengkapnya