Terkadang Yola bertanya, bagaimana kinerja Kenzo?
Agnes menjawab. “Terkadang dia waras, terkadang menjengkelkan, terkadang mengambil kesempatan menggangguku.”
“Hihihi... Beritahu aku, bagaimana rasanya diganggu membabi buta?”
“Bitch. Kenapa tidak kita bertukar jiwa saja.”
≈ΦΦ≈
Keesokan paginya.
Obrolan kecil di meja makan kediaman Tuan Samir pagi ini.
“Pak Hendrik dari Utama Group pagi ini menelponku. Dia katakan ingin berbicara tentang bisnis kemarin yang batal,” ucap Agnes.
“Kakek ingin kamu temui dia.”
Pria penampilan tangguh, rambut sisir rapi bermonolog. ‘Kayaknya ada yang salah dengan Agnes. Sikapnya berbeda jika di depan Kakeknya. Dia akan pergi menemui Pak Hendrik dan bertemu dengan mantannya lagi.’ – Kenzo.
Agnes adalah crushnya sekarang, Kenzo tidak akan membiarkan siapapun mengganggu wanita taksirannya.
Tidak berselang lama Pak Igor datang menghadap menyampaikan sesuatu.
“Tuan, proposal kerja sama dengan Grup Sirat yang anda sebutkan sebelumnya sudah dinegosiasikan. Dalam waktu dekat mereka akan mengatur pertemuan anda dengan Pak Sirat.”
“Grup Sirat ini perusahaan besar,” gumam Tuan Samir. “Buat agenda bertemu!”
“Baik, Tuan.”
‘Ya ampun, masih pagi-pagi orang kaya sudah membahas bisnis.’ – Kenzo.
≈ΦΦ≈
Melanjutkan pertemuan keduanya dengan Pak Hendrik di Restoran, cukup memakai riasan tipis-tipis. Agnes tak peduli dengan Seno, dia tidak akan menyerah dan tidak akan membiarkan mantannya menyiksa cintanya.
Dalam hidupnya akhir-akhir ini, dia bisa hidup dengan stabil tanpa laki-laki dan cinta. Seno dibuat heran, Agnes banyak berubah dengan cepat.
Dari kejauhan, tampak mantan kekasih Agnes berjalan sambil melambaikan tangan pada Agnes. Dia datang untuk balas dendam karena Agnes telah berani menyinggungnya, dia tipe pria yang tidak suka dikendalikan oleh wanita. Dia juga yang meminta kepada Pak Hendrik agar menghubungi Agnes kembali untuk berbicara tentang bisnisnya.
“Halo Nona Agnes, kita bertemu lagi,” kata Seno saat bergabung. “Kemarin kamu pergi begitu saja. Aku takut kesepakatan kamu gagal kedua kali dengan Pak Hendrik.”
Alih-alih menanggapi mantan kekasihnya, Agnes berbicara pada Pak Hendrik. “Pak Hendrik, apa maksud Anda? Hanya dua perusahaan kita yang seharusnya terlibat dalam negosiasi. Jadi kenapa ada bos dari perusahaan lain?”
Kini ketiganya duduk di meja lingkar.
Pria tampak berusia sekitar lima puluh tahun merespon Agnes. “Nona Agnes, memang hanya dua perusahaan yang terlibat dalam bisnis ini. Tapi Pak Seno juga ada di industri ini, jadi kenapa kita tidak berkumpul bersama dan meningkatkan hubungan kita.”
Seno mendelik. “Anggap saja yang kemarin hanya kesalahpahaman. Kita lupakan saja dan mulai bekerja sama baru hari ini.”
“Nona Agnes, sebelum kita membicarakan pesanan. Ada satu hal yang harus diselesaikan terlebih dahulu.”
“Tunggu Pak Hendrik. Anda benar-benar ingin mengajak Pak Seno join dengan kita?”
“Agnes, cobalah bersikap profesional,” Seno menyambar. “Seperti yang kita semua tahu. Aku sering berinvestasi di group Pak Hendrik.”
“Pak Hendrik, kurasa anda harus memberi penjelasan!”
“Penjelasan apa?”
“Anda seperti boneka Pak Seno.”
Agnes satu-satunya perempuan di meja itu, tetapi dia benar-benar mendominasi.
“Kenapa Nona Agnes mencoba mempersulit kami. Kita bisa melanjutkan negosiasi tentang pesanan seratus juta itu atau kita hentikan pembicaraan kita hari ini!”
Agnes menolak dengan tegas. Dia akan pergi seperti pertemuan sebelumnya.
“Nona Agnes, kalau kamu pergi kamu tidak akan mendapatkan apa-apa.” Pak Hendrik menunjukkan sebuah map digenggamannya. “Ini kontrak kerjasama kami.”
Seno menambahkan. “Bersikaplah lembut, Agnes. Kita berbicara sebagai rekan. Sebaiknya kamu lebih memikirkan perusahaanmu.”
Agnes membentaknya. “Kamu siapa yang berani memperingatiku?!”
“Nes, lihat dirimu sekarang. Kamu bahkan berani membentakku di tempat umum. Aku selalu memperhatikamu, biar bagaimana pun kita pernah dekat. Bagaimana kamu berubah kasar seperti sekarang?”
“Seno, jaga omonganmu! Aku berubah atau nggak. Itu nggak ada hubungannya dengan kamu,” balasnya lugas. “Aku harus pergi. Kalau tidak ada lagi yang ditangani di sini.”
“Nes... Agnes....” Seno belum menyerah. “Aku tahu aku menyakiti perasaanmu terakhir kali. Aku tidak bisa menarik kembali masa lalu, tapi aku benar-benar mencintai kamu. Tolong beri aku kesempatan. Aku akan mencoba yang terbaik untuk menebus kesalahanku....”
“Bullshiit.”
“Aku ingin balikan sama kamu.”
“Ha? Kenapa tiba-tiba pengen balikan?”
“Karna aku masih cinta sama kamu.”
“Bodoh Ach!”
Seno menarik lengan Agnes dengan kasar. Tiba-tiba datang tangan lain yang lebih kasar menepis tangan Seno menjauh. Kedua insan mantan kekasih itu menoleh ke si pemilik tangan yang tiba-tiba muncul.