Hubungan kedua insan berbeda generasi sangat baik. Agenda hari ini, keduanya akan pergi memancing bersama.
Tuan Samir dan Kenzo berangkat ke sebuah telaga diantar supir pribadi. Menempuh jarak kurang lebih sejam sampailah keduanya di sebuah tempat yang sejuk jauh dari polusi. Udara sekitar telaga cukup sejuk membelah pagi menjelang siang yang panas.
Pemandangan nuansa hijau dan aliran sungai tenang, di sekelilingnya dihiasi tumbuhan sungai seperti teratai, ganggang dan lainnya. Tidak banyak orang di sekitarnya, hanya ada beberapa orang yang sedang memancing beberapa meter darinya.
Kedua insan itu duduk pada kursi lipat, sementara Pak Igor berdiri di belakang keduanya dengan tangan di saku.
Tuan Samir memakai topi bundar, ia memancing dengan suasana hening. Di sampingnya, pengasuhnya mengeluarkan bungkusan rokok. Dia mengambil satu batang untuk dirinya dan sebatang lagi untuk tuan majikannya.
Dia menyerahkan sambil berkata tentang rokok tersebut. “Kakek aman di sini. Tidak ada cucu galakmu yang akan menegurmu.”
Kakek tua itu terkekeh, suaranya terdengar sangat berat. Ia pun menerima sebatang rokok itu, selanjutnya Kenzo membakar pemantik untuk majikannya yang rentan.
“Kakek, tolong jangan mengadu ke Agnes kalau aku memberimu rokok diam-diam.”
“Kamu takut padanya?”
“Tentu saja. Dia juga majikanku.”
Si Kakek tertawa kecil.
Kenzo mulai membuat percakapan tentang kehidupan Tuan Samir.
“Kakek sering ke tempat ini? Memancing?”
“Kadang-kadang,” jawabnya. “Suasananya nyaman dan sejuk.”
Kenzo mengangguk-ngangguk.
“Bagaimana denganmu?”
“Aku? Ah... memancing adalah hal membosankan. Tidak cocok denganku.”
“Ya. Hanya orang yang kuat menunggu yang bisa memancing,” balas Kakek tua.
‘Seperti perasaanku menunggu perasaan cucumu.’ – Kenzo.
“Ngomong-ngomong soal cucuku. Agnes, dia cucuku yang belum menikah di usia tiga puluh. Kami tidak ingin dia bersama orang yang salah, dia sangat mandiri. Maka dari itu kami jodohkan dia dengan anak kolega lama kami.”
“Ini zaman modern dan kalian masih melakukan hal seperti itu.”
“Jadi menurutmu saya harus ikut modern?!”
“Heh? Bukan begitu maksud Kenzo.”
“Realistis saja. Kakek ingin melihatnya menikah dan memberiku seorang cicit.”
“Seandainya aku datang lebih dulu, sudah lama aku melamarnya.”
“Seandainya begitu, saya pasti merestuimu.”
Keduanya tertawa lebar.
Di mata Tuan Samir, Kenzo adalah pria pemberani bak koboy berkuda.
“Sudah lama Kakek tidak keluar memancing. Dulu Kakek punya teman yang sangat gemar memancing, dia sering mengajak kami semua keluar ke sungai bahkan sampai ke laut. Biasanya kami menyewa perahu menulusuri sungai rawa. Itu kegiatan sangat menyenangkan,” tutur si Kakek.
“Kita bisa mengulang kenangan itu sekarang.”
Menikmati rokok sambil berdiskusi panjang tentang masa ke masa sembari menunggu kailnya bergerak. Sesekali mengalihkan pandangan ke alam sekitarnya, tempat yang indah dengan suasana yang damai. Sesuatu yang menakjubkan baru saja dirasakan oleh Kakek rentang itu. Keduanya kembali sebelum sore.
≈ΦΦ≈
Pada malam hari sekitar pukul tujuh malam, mobil Agnes tiba di lingkungan rumahnya. Mendadak kakinya menginjak padel rem mobil. Netranya menyelidik ke arah tiang listrik tak jauh dari posisi mobilnya. Meskipun sedikit remang-remang, dia dapat melihat wujud sosok dengan jelas dibantu sorot lampu mobil.
Dua insan sedang berciuman dibalik tiang listrik. Ketika dia melihat lebih jelas lagi, salah satu insan itu adalah pengasuh Kakeknya. ‘Si Rubah jantan ugh,’ benaknya.
Rasanya Agnes ingin muntah melihat adegan itu. Salah satu insan membuka matanya. Oh damn! Pengasuh kakeknya yang masih tengah berciuman menangkap Agnes memperhatikannya dibalik kaca mobil. Sontak dia terkejut dalam ciumannya, matanya melotot kedua alisnya terangkat.
Agnes langsung menginjak padel gas kembali, mobilnya masuk ke halaman rumah.
Wanita itu melempar tasnya ke kasur diikuti tubuhnya karena kelelahan. Adegan ciuman itu masih membayanginya. Dia mengecek ponselnya tidak lama lalu melempar ponselnya ke kasur. Ia beranjak, Agnes hanya ingin segera ke kamar mandi. Ia melepas sepatu hillnya dan pakaiannya...
Tiba-tiba suara kenok pintu terdengar lalu berderit. Sontak Agnes menoleh dan mengurungkan melepas pakaiannya.
Bola mata Kenzo terlanjur melihat seperdetik separuh tubuh Agnes.
Empat bola mata pun terbelalak.
“Hegh....”
“Aaagghhh...” Agnes berdecak kesal. “Tidak bisakah kamu mengetuk dulu! Apa gunanya pintu kalau kamu menerobos seenaknya begitu.”
“Ma-maaf.”
“Ada apa?”
“Ah anu... eh itu.” Kenzo tidak punya jawaban. “Tuan Samir memanggilmu.”