Misi Hunter : The Fox and The Rich Woman

Haidee
Chapter #13

Buku Gombalan

Hari selanjutnya.

Kenzo baru saja datang bekerja pagi ini, ia langsung mengambil alih baki susu dan sepiring roti bakar dari tangan Bibi Inem untuk Agnes. Dia sangat antusias, bahkan tas kulit d ipunggungnya belum sempat dia lepas.

Pagi itu Agnes menyiapkan mandi busa dan berendam di bak mandi begitu lama, sampai Kenzo harus mengetuk-ngetuk kamar wanita taksirannya hingga Agnes hilang kesabaran dan membuka pintu dengan kesal.

Agnes berdiri tegak memakai handuk mandi. “Ada apa?”

Sambil mengangkat baki sepiring roti dan susu putih. Kenzo berkata. “Ini aku bawakan sarapan untukmu.”

“Oh terima kasih.” Agnes menerima kebaikan hati Kenzo. “taroh saja di sana.”

Pelayan Tuan Samir lalu meletakkan baki di nakas.

Kenzo selalu menumpahkan semua perasaannya pada Agnes tiap waktu. Apakah Agnes perlu waktu untuk berpikir atau bertindak?

Bola mata Kenzo berputar ke segala arah memandangi interior kamar Agnes. Lampu kamarnya menyala.

“Kenapa kamu masih di sini?”

Kenzo memandangi lagi wajah cantik Agnes untuk yang kesekian kali.

“Kamu mau hangout?”

Agnes mengernyitkan keningnya. “Woah! Apa jabatanmu menanyakan privasiku?”

“Karna aku peduli.”

Jika wanita lain akan tertegun mendapatkan kalimat manis, sebaliknya Agnes merasa mual.

“Kenapa masih berdiri di situ? Keluar kamu sekarang!”

“Kamu tidak butuh sesuatu lagi? Seperti aku membantumu berpakaian.”

“Kamu harus bersikap sopan sama aku, karna aku majikanmu,” tegas Agnes mencibir.

Kenzo maju dua langkah, semakin mendekati Agnes. “Aku nggak bisa menyembunyikan ketika aku menyukai sesuatu. Kadang-kadang aku sering melewati batas.”

“Mungkin aku perlu mengingatkanmu lagi, Ken. Aku majikanmu! Sebentar lagi akan menikah. Kamu dan aku berada di jalan berbeda.”

Pria di hadapannya tertawa geli mendengar kalimat Agnes. “Oh, Apa kamu sungguh mau nikahi guy itu? Nizar akan menangis seabad mendengar ini. Hihihi.”

Agnes berkacak pinggang. Ia bersiap ingin menjitak kepala Kenzo.

Kenzo mencodongkan kepalanya lebih dekat. Dia mendengus-dengus di area rambut Agnes.

“Rambut kamu wangi banget. Apa merek sampo yang kamu pakai? Dan tubuhmu, parfum apa yang kamu pakai?”

Agnes melotot, mendesis sambil mundur dua langkah.

“Kamu seperti mawar putih dengan kelopak lembut dan memikat menggoda indra penciumanku, aroma manismu terasa menghanyutkanku....”

Agnes melipat kedua tangannya. “Hum…. Aku penasaran, dari siapa kamu belajar semua kemampuan rayuanmu?”

“Apa kamu mau tahu?”

Agnes berdehem mengangguk sekali.

Dengan semangat Kenzo membuka tas punggungnya dan mengeluarkan sebuah buku cover berwarna kombinasi putih dan merah muda. Buku itu tidak tebal tidak tipis juga, bagian sampulnya terdapat judul buku yaitu ‘1001 Cara menggoda Wanita’, bagian bawah judul terdapat gambar love, bunga dan ilustrasi pasangan.

Rincian buku sangat lengkap. Mulai dari step by step guidelines, fifth dan flirt – Flirtin on app, coquetry (Beginner, advancedn tutorial), Bagaimana menangani rejection. (Buku Fiksi).

Agnes melontarkan tangannya untuk meminta. “Coba sini aku lihat!”

“Tidak bisa!” jawab Kenzo cepat. “Aku seharusnya nggak nunjukin buku ini sama kamu.”

“Kenapa? Aku cuma mau lihat.”

Kenzo menjauhkan buku ke belakang punggungnya. “Aku takut setelah membacanya, kamu lebih pandai menggombal dari aku. Itu berarti aku tidak bisa menang ....”

“Ahh!!” Agnes mendelik sebal. “Aku bilang, aku hanya mau lihat! Siapa yang mau membaca buku seperti itu....”

“Oke, tapi sebentar saja.”

Kenzo menunjukkan buku itu kembali, Agnes segera merebut buku itu dari tangan Kenzo.

Majikannya itu membaca judul buku dalam hati lalu membuka lembaran-lembaran buku itu dengan ringkas. Sesekali dia berhenti untuk membaca beberapa baris isi buku itu.

Agnes hanya menggeleng-geleng tak percaya. Dia berkomentar. “Aku tidak percaya ada buku semacam ini. Kamu membaca buku ini setiap hari?”

“Kadang-kadang.”

Tidak heran Kenzo begitu ahli dalam menggoda, merayu bahkan menggobal mesum. Agnes berpikir, Kenzo telah disesatkan oleh buku itu.

Dia menyerahkan kembali buku itu ke pemiliknya. Kenzo hanya tersenyum lebar.

“Bagaimana?”

“Keluar dari kamarku sekarang! Aku mau pakaian.”

“Sebagai pelayan di rumah ini, izinkan aku melayanimu, Nona. Maksudku apa pun kalau kamu tidak keberatan,” tawar Kenzo dengan sangat santai.

Lihat selengkapnya