Misi Hunter : The Fox and The Rich Woman

Haidee
Chapter #14

Pelelangan

Tepat pukul dua belas siang, Agnes tiba di restoran bernuansa cozy yang terletak di lantai paling atas salah satu gedung kawasan pusat kota. Yola melambaikan tangan pada Agnes.

Kedua wanita mengobrol hal-hal ringan.

“Kamu tahu, bagaimana dia cabul dan tidak ragu untuk melecehkanku secara seksual. Dia membawa sarapan hampir tiap pagi ke kamarku. Dia bahkan punya buku gombalan.”

Yola terperangah. “Apalagi?”

“Dia memanggilku ‘Cantik’ tiap waktu,” lanjutnya. “Bayangkan gimana kedengarannya.... belum lagi melihat wajahnya yang menyebalkan.”

“Aku nggak mau bayangkan,” balas canda Yola. “Coba kamu berpikir, kamu nggak peduli dia pria dari mana. Tapi dia setia padamu.”

“Dia mengganggu kehidupan sosialku sepanjang waktu. Cih, aku tidak tahan dengannya! Dia itu caper dan sok tahu.”

“Och dia benar-benar total melakukannya, dia lebih gentle. Sudah jelas dia punya perasaan sama kamu.”

“Aku pikir dia hanya melakukan hal yang biasa dia lakukan,” jelas Agnes.

“Apa dia nggak pernah serius?”

“Menggoda...”

“Terus apa yang kamu khawatirkan? Kamu sudah bertunangan!”

“Tentu saja. Maksudku, bagaimana pun dia merayuku aku nggak terpengaruh sama sekali.”

Yola menjetikkan jarinya. “Good. Tapi hum... aku berpikir lain.”

Agnes mengangkat kedua alisnya.

“Kenapa kamu tidak menarik dia. Maksudku kamu bermain dengan obsesinya.”

Agnes melongo. “Tidakk!!”

“Nggak ada yang salah... toh kita hanya fun. Kamu nggak terpengaruh sama sekali, bukan?”

“Dan kenapa kamu tiba-tiba kepikiran hal konyol semacam itu?”

Yola memekik. “Hanya penasaran....”

“Mungkin kamu belum mengenalnya. Dia orangnya nekadtan dan rusuh.”

“Ya nggak apa-apa. Selama dia nggak over sama kamu,” ucap Yola. “Apa perlu akan menegurnya?”

“Tidak perlu,” jawab Agnes malas. “Aku ingin sekali memberinya pelajaran. Tapi aku nggak tahu pelajaran apa yang cocok dengannya. Hiks hiks.”

“Hahaha. Tenang, beb.”

“Okay, kita nggak perlu membicarakan ini,” tegas Agnes. “Kamu memanggilku bukan untuk bahas dia, kan?”

“Itu alasanku.”

“Oh Ayolah....”

“Bercanda.” Yola terkekeh. “Aku punya berita bahagia. Aku mendapat tawaran ambasador produk baru.”

“Produk?”

“Yah. Itu semacam produk cream kulit. Yang kulakukan hanya menjual dan memamerkan produk itu di media sosial,” tutur Yola. “Sekarang orang-orang lebih banyak aktif jual beli lewat online,” ujarnya. “Bayangkan kalau aku sukses menjadi influencer. Aku akan mendapatkan jutaan uang dalam seminggu.”

Agnes turut senang. “Semoga beruntung.”

“Hum. By the way, kenapa kita nggak pergi shopping saja.”

“Sekarang?”

Yola mengajak Agnes ke toko fashion favoritnya. Itu adalah bangunan tiga lantai, cukup menakjubkan, lantai bawah tanah tempat obral. Itu adalah toko yang sering Yola kunjungi, cukup kecil tapi toko ini memiliki banyak pilihan bagus. Mereka mendesain pakaian mereka sendiri.

“Aku suka baju ini,” seru wanita yang bersama Agnes.

Agnes mengikut saja. Dia bisa saja membeli jika ada yang menarik matanya.

Keduanya ke toko satu membeli celana, ke toko dua membeli sepatu, ke toko tiga membeli tas, terakhir ke toko empat membeli baju. Dan akhirnya makan malam. Keduanya punya stamina bagus. Yola mengetahui berbagai tempat populer.

≈ΦΦ≈

Beberapa hari kemudian.

Hidup itu damai, damai seperti awan polos namun itu memberi orang ruang untuk harapan.

Lihat selengkapnya