Melewati hari-hari yang panjang, keduanya masih harus terus bertemu satu sama lain. Agnes memiliki banyak pengontrolan diri. Sebagaimanapun Kenzo belum berhenti mengejarnya, crushnya masih tetap pada garisnya. Justru Kenzo lah yang hampir kehilangan kepercayaan dirinya.
Bagi Kenzo, Agnes adalah ciptaan hampir sempurna di dunia ini. Dia berbeda dengan wanita lain, dan dia tidak dapat menahan diri untuk terus mendekatinya saat melihat Agnes. Tetapi baru kali ini, seorang wanita benar-benar melarikan diri dari hadapannya.
Nizar sampai tidak percaya, dia belum pernah melihat sahabatnya itu mencela dirinya sendiri. Itu sedikit memalukan.
Beberapa hal dalam hidup ini tidak bisa dipaksakan. Mungkin itu sudah takdirnya.
≈ΦΦ≈
Siang hari di kafe. Musim panas namun cuaca tiba-tiba mendung.
Agnes menemani Yola yang akan melakukan wawancara di kafetaria.
“Kenapa interviewnya harus dilakukan di kafe sih,” keluh Yola gelisah menunggu.
“Kira-kira berapa sponsor yang akan kamu dapatkan untuk mendukung produk mereka?”
“Aku belum tahu itu. Tapi aku berharap itu banyak. Hahaha.”
“Semoga yah.”
“Omong-omong aku bertemu cowok yang pernah aku taksir waktu masa kuliah.”
“Hoho kedengarannya menarik. Di mana kamu bertemu dengannya?”
“Namanya Beny. Aku bertemu tadi di jalan sebelum ke sini,” jawabnya. “Sekarang dia seorang agensi di sebuah perusahaan media entertaiment di luar kota. Jadi dia bertanggung jawab dan mengatur aktrisnya.”
“Hm begitu. Hebat dong! Kamu kayaknya senang banget habis ketemu dia.”
“Aku masih nggak nyangka, dia masih tampan walaupun sudah beberapa tahun nggak bertemu. Waktu kuliah dia sangat pemalu, tapi waktu ketemu tadi dia sangat cerewet sekali. Dia juga bilang, dia masih lajang.”
Yola terus berbicara tentang teman prianya. Sementara itu dua meja di belakang meja Agnes. Seorang pria tua tampak berusia lima puluh tahun berwajah sendu dan pelayan Tuan Samir duduk di hadapan pria tua itu.
“Aku punya duniaku sendiri. Aku sangat sibuk sekarang. Jangan datang lagi minta bantuan sama aku!” ucap Kenzo nada tegang.
Suasana kafe itu cukup sunyi. Telinga Agnes terasa familiar dengan suara tegang di belakang mejanya, jadi dia sedikit memicingkan matanya ke sumber suara.
“Aku tidak akan memberi kamu uang lagi!” kata Kenzo lugas. “Sudah banyak yang aku berikan. Apakah itu dalam bentuk utang, cuma-cuma bahkan membayar kerugianmu.”
Pria itu mimik empati sedari tadi. Ia berkata. “Ken, aku tahu aku tidak menjagamu dengan baik, tapi aku bangkrut sekarang....”
“Oh, bangkrut? Aku bisa bersimpatik sama kamu seandainya kamu punya hati nurani yang baik.”
Pria tua itu mencoba meraih tangan Kenzo di atas meja sambil memohon. “Ken... Kalau bukan karna biaya kesehatan istriku yang besar. Aku tidak akan berani mengemis sama kamu lagi,” katanya sedih. “Demi keluargamu. Biar bagaimanapun kami yang membesarkanmu,” sambung pria tua itu hingga tangannya gemetar seperti orang menggigil.
Ketika Pria tua itu menyebut kata ‘Membesarkan’. Kenzo langsung teringat masa kecilnya. Saat dia hidup di rumah pria tua di hadapannya. Sebetulnya Kenzo tidak mendapat perawatan yang baik kala itu, dia selalu diabaikan oleh Pria tua di hadapannya.
Kembali kesadarannya. Kenzo melunak berbaik hati demi istri Pria tua.
“Baiklah. Untuk istrimu, aku bersedia membantu sebagian biayanya,” katanya sinis. “Yang kamu harus ingat adalah ini bukan pertama kalinya aku mengasihimu. Tapi aku berharap ini yang terakhir kalinya.” Kalimat terakhir Kenzo sangat dalam dan kejam. Tapi dia sungguh mempunyai alasan di balik itu.