Ada tiga mimpi yang Agnes tidak pernah ingin miliki dan sebisa mungkin menghindar jika itu bisa. Mimpi pertama adalah ketika dia dikelilingi oleh segerombolan kecoa. Yang kedua adalah ketika dia terjebak dalam lift berjam-jam. Dan yang ketiga adalah ketika dia dicium oleh seseorang makhluk rubah seperti Kenzo.
Dia baru saja bermimpi, mimpi di mana dia melihat dirinya dicium sesorang yang ciri-cirinya menyerupai pria yang selalu menggodanya tiap waktu. Pikirannya ke mana-mana hingga tak dapat tidur nyenyak. Itu sebab dia bermimpi tentang Kenzo, dia merasa seperti dirinya kalah!
Agnes bergumam mengerang. “Bastard itu membuatku mengalami mimpi buruk.”
Masih keadaan berbaring membuka mata menatap langit-langit kamar. Mulai hari ini dia akan mempertahankan jarak beberapa meter. Dan tidak akan memberi Kenzo kesempatan lagi untuk mempermalukannya selama sisa hidupnya.
Pada umumnya, orang akan bermimpi tentang apa yang ada dipikiran mereka di siang hari atau sebelum terlelap.
≈ΦΦ≈
Kenzo masih saja merasa gusar dan risau. Apakah sebaiknya ia menyerah? Setelah dia menunggu cinta Agnes dalam beberapa pekan lamanya? Ini bukan perjalanan cinta yang mudah. Ketika sosok Agnes berkeliaran di dalam khayalnya. Dia tak sanggup saat melihat Agnes berolahraga, berenang dan beberapa hal lain.
Dia masih menyapa cucu majikannya pagi ini seolah-olah tidak terjadi apa-apa semalam, meskipun pipinya telah merasakan tamparan tangan Agnes. Dan lebih konyol, Agnes tetap meladeninya seakan-akan tidak terjadi apa-apa di antara mereka berdua.
“Selamat pagi. Bagaimana tidurmu?”
“Aku bermimpi aneh.”
‘Kenapa aku harus melihatnya sepagi ini. Dia selalu menyeruduk seperti benteng.’ – Agnes.
Otak Agnes belum sepenuhnya terjaga untuk melakukan percakapan normal.
“Hei! Aku minta maaf soal semalam.”
“Ya aku maafkan.”
“Apa aku terlalu proaktif?” tanya Kenzo mimik polos. “Ngomong-ngomong, aku memang selalu lebih proaktif.”
“Sepertinya begitu.”
“Ya, entah kenapa aku terus membiarkan diriku dipengaruhi oleh perasaanku.”
“Kalau begitu kamu harus berhenti main-main dan melepasnya,” teguran sinis Agnes. “Berhenti mendekatiku, karna itu akan memicu hal buruk lainnya.”
Bibir Kenzi cemberut. “Aku nggak punya niat buruk sama sekali ke kamu.”
“Kamu secara aktif dan masif menggodaku. Kamu hanya membuang waktumu. Ada banyak pria yang ingin bersamaku...”
“Salah satunya adalah diriku.”
Agnes menghela napas lelah. “Oh God...”
Kenzo menjulurkan tangannya, maju selangkah di depan Agnes. “Kenapa kamu benci aku? Apa salahku sampai kamu bersikap seperti ini?
“Memangnya butuh alasan untuk membenci orang lain?” Agnes menyergah. “Lagipula kamu juga pasti mengerti.”
“Kamu selalu seksi dilihat dari sudut manapun”.
“Lebih baik kamu jaga mulutmu! Aku bisa menuntutmu untuk serangan verbal.”
Perawat Pak tua itu mengukir senyum tipis. Seolah-olah dia berkata, aku tidak peduli apa yang kamu lakukan sama sekali. Senyum itulah yang selalu membuatnya merasa bersemangat.
≈ΦΦ≈
[Kenzo : Halo Nizar! Ini aku Kenzo.]
[Nizar : Aku tidak buta. Aku bisa lihat namamu dengan jelas di layar panggilan, Kenzo! Ada apa?]
Selanjutnya Kenzo menceritakan kisah sedihnya.
[Nizar : Menyerah saja, terlalu sulit mendapatkannya.]
[Kenzo : Aku tahu tapi dia sangat menawan. Dan aku selalu tidak bisa menahan diri untuk tidak tertarik dengannya. Dia seksi dan misterius.]
[Nizar : Dia membuatmu terpesona lagi untuk ke sekian kalinya.]
[Kenzo : Sedikit lagi aku hampir menangkapnya.]
Kenzo semakin gesit, tapi dia semakin dekat dengan patah hati.