Sejak malam itu, Agnes sedikit menghindari Kenzo. Untungnya, Kenzo sibuk akhir-akhir ini dengan majikannya dan tidak terlalu mengganggunya. Kenyataannya Kenzo juga menjadi canggung.
Akhir pekan, Agnes dan Yola memiliki agenda Yoga bersama di halaman belakang rumah Agnes. Tepat dekat area kolam renang.
“Donutnya enak, di mana kamu membelinya?” tanya Agnes.
“Di jalan waktu kesini.”
“By the way, kenapa instrukturnya kenapa lama sekali yah??”
Agnes mengecek jam ponselnya.
Sembari menunggu instruktur Yoga. Keduanya berbincang-bincang sambil mencicipi beberapa varian donut yang tersedia.
“Ingat teman priaku yang kuceritakan sama kamu tempo hari,” Kata Yola.
“Yup.”
“Dia menawariku terjun ke dunia entertaiment. Dia bilang kalau aku bersedia, dia akan membantuku.”
“Semudah itu?”
“Dia seorang agen, dia punya banyak kenalan orang hebat di dunia entertaiment,” jawab Yola. “Ahhh aku nggak bisa bayangkan, nanti wajahku ada di televisi.”
“Yol, aku bukannya nggak mendukungmu. Tapi dunia entertaiment jauh lebih rumit dari yang kamu pikirkan.”
“Hum. Kita lihat nanti. Kami sudah bertukar nomor.”
Di sela keduanya ngobrol. Yola memperhatikan bagaimana Kenzo terlihat lalu lalang di sekitar halaman. Sesekali memandang ke arah mereka, lebih tepatnya Agnes.
“Sepertinya kamu punya fans di rumahmu.”
“Kamu sudah tahu itu.”
“Kamu mau aku menegurnya?”
“Tidak perlu. Percuma saja.”
Tak berselang lama, orang yang dibicarakan datang dengan membawa dua gelas minuman sehat di baki.
“Bi Inem memintaku untuk membawakan ini.”
Kenzo menyerahkan dua gelas jus buah yang hijau dan segar kepada dua wanita.
“Terima kasih, Ken,” ucap Yola. “Oia cobain donut yang kubawa,” tawarnya pada Kenzo.
Kenzo yang baru gabung langsung mengambil satu donut rasa greentea.
Kenzo berkata melirik jus. “Kalian tahu, aku tidak minum minuman seperti itu.”
“Kenapa? Kamu tidak suka? Ini bagus untuk tubuh.”
“Lidahku nggak cocok dengan minuman seperti itu. Pahiitttt.”
“Sekalipun Agnes yang memintamu.”
“Tapi sesekali nggak apa-apa.”
Secepat kilat Kenzo mengubah persepsinya.
“Oh begitu. Ngomong-ngomong bagaimana perasaanmu kerja di sini?”
“Perasaanku? Baik-baik saja.” Kenzo melirik Agnes. “Aku punya semua yang kubutuhkan di sini.”
“Sebagai orang yang mengaturnya di awal. Aku senang mendengarnya.”
“Kamu benar-benar memberiku pekerjaan yang bagus, Yol. Biarkan aku mentraktirmu lain waktu.”
“Oh Ya tentu saja. Dengan senang hati aku terima.”
“Kita bisa pergi bertiga,” seru Kenzo.
“Bertiga? Maksudmu denganku?” Agnes akhirnya bersuara, sedari tadi hanya menyimak.
Yola dan Kenzo saling tukar pandang.
Agnes menyelutuk. “Aku nggak akan gabung dengan kalian.” Ia berdiri kemudian.
“Kamu mau kemana?”
“Mau ke kamar sebentar,” jawab Agnes menaruh ponselnya di meja lalu melangkah jauh.
“Hei apa masalah temanmu? Dia kelihatannya kesal.”
“Mungkin dia lagi kacau. Sedikit sensitif.”
“Bukan sedikit, tapi banyak.”
Yola terkekeh. “Kayaknya kamu sudah mengenalnya lebih baik daripada aku.”
“Heh? Saat kamu menyukai seseorang, matamu selalu tertuju padanya.”
‘Dia wanita kejam tapi aku suka.’ – Kenzo.