Misi Hunter : The Fox and The Rich Woman

Haidee
Chapter #18

(Bukan) Kencan 1

Dan saat malam tiba, hal-hal datang penuh kemegahan mengkilau. Kenzo menyusuri jalan mencari udara segar, berjalan-jalan di sepanjang jalan kosong dengan pakaian tebal tutleneck hitam. Sepanjang jalan itu suasana tampak lengah. Dia menghentikan langkahnya hanya untuk membakar sebatang rokok.

“Hei cantik, kamu sendirian saja? Mau kami temani?”

Terdengar suara para lelaki paru baya sedang menghadang mangsanya. Itu adalah pengganggu yang nongkrong di gang-gang jalan. Yang satunya botak, yang satunya lagi rambut berantakan.

“Pergi sana! Aku nggak butuh,” elak wanita yang dihadang.

“Ayolah, sendirian itu membosankan.”

“Itu bahaya. Kamu tau...”

Yah sendirian membosankan... ketimbang preman, yang dibutuhkan wanita itu sekarang adalah tambatan hati.

Mangsa yang bersuara wanita mencoba untuk menghindar sebisa mungkin, tetapi pengganggu itu berusaha menyentuhnya.

“Jangan sentuh aku!” Wanita itu mencoba menepis dan mundur.

‘Dari mana datangnya preman ini?’ gerutu si wanita.

“Ayo, bersenang-senanglah bersama kami. Kami orang baik kok.”

“Minggir kalian!” Hardik si wanita.

“Tidak apa. Kita bisa bersenang-senang bersama.”

Para pengganggu itu mulai menyentuh kedua lengan si wanita.

Kaki wanita itu gemetar, tubuhnya mulai ketakutan. “Lepaskan aku! Atau aku akan berteriaakk.”

Kenzo menoleh sekilas ke arah suara. Dia melihat dua pria bertubuh kekar menghadang seorang wanita sosialita.

Kenzo mendesis. “Dasar sampah masyarakat,” gumamnya sambil menghembuskan asap di hidungnya. “Orang tak berguna. Ha... lupakan saja, itu urusan orang lain. Jadi kenapa aku harus khawatir?”

Dia menoleh sekali lagi sebelum pergi. Kali ini pupilnya melotot.

‘Itu Agnes! Agnes tidak boleh dianggap sebagai orang lain, kan?’ pikir Kenzo.

Segera pria rubah itu menghampiri pesta kecil tersebut.

Kenzo menahan tangan salah satu pria kekar itu. “Hentikan!” katanya. “Singkirkan tangan kotormu darinya!”

Kedua pria penganggu itu menoleh.

“Agnes, kenapa kamu ada di sini? Siapa orang bodoh ini?”

“Ken, tolong aku....”

“Tenang saja, Nona Agnes. Selama ada aku, tidak ada yang bisa menyakitimu.” Kenzo memasang badan.

“Mereka mau melecehkanku.”

Pria berambut berantakan menyahut. “Dan siapa kamu?”

Mimik amarah Kenzo tersulut. “Kuperingatkan kamu untuk pergi sekarang juga!”

Pria itu menunjuk keras. “Hei. Jangan terlalu sombong kamu. Apa kamu pacarnya? Beraninya kamu ikut campur.”

“Kamu tidak tahu yah sedang berhadapan dengan siapa?”

“Yah... kamu juga tidak tahu ya sedang berhadapan dengan siapa?”

“Heh! kalian jangan turuti ucapanku.” Kenzo menarik napas dalam-dalam. “Baiklah.” Kemudian menghantam dua pria itu.

Whooss. Pria botak menarik lengan Kenzo dan mencoba memutarnya. Kenzo berusaha melepas. Dia menendang bagian vit*l si botak.

“Aaaaarrrggghh!”

Kenzo menghajar keduanya secara membabi buta. Dia menarik kerah baju preman teman si botak. “Aku belum puas menghajarmu.”

Preman botak menarik temannya lalu berlari pergi.

“Hufft. Aku benci pemabuk yang membuat masalah.”

Agnes mendekat ke Kenzo. Bagaimanapun  dalam situasi ini, dia harus berterima kasih padanya.

Kenzo bertanya. “Apa yang kamu lakukan di sini?”

“Aku hanya menepi sebentar tadi.”

“Kamu menepi malam-malam di jalan yang sepi.”

“Kamu sendiri, kenapa kamu ada di sini?”

Kenzo bertanya balik. “Apa kamu tau yang akan terjadi seandainya aku tidak muncul?”

“Uh makasih banget sudah menolongku.”

“Di mana mobilmu? Biar aku mengantarmu pulang.”

“Mobilku ada di sana,” jawabnya sambil menujuk arah.

Agnes tak menunjukkan tarinya saat ini. Dia pulang bersama Kenzo. Dia mengatakan bahwa dia baru saja selesai bertemu klient di resto hotel.

Kenzo mematikan mesin mobil di halaman rumah majikannya. Agnes melihat memar di tangan Kenzo.

“Aku pulang ya,” kata Kenzo sambil membuka pintu mobil.

Karena Kenzo terluka menolong Agnes. Jadi Agnes harus bersikap baik kepadanya.

“Tunggu.” Agnes mencoba meraih tangan Kenzo.

Kenzo menoleh ke belakang.

“Biarkan aku mengobati lukamu.”

Pupil mata Kenzo membesar, kunang-kunang muncul entah darimana memancarkan cahayanya. “Ah, yang benar?”

Agnes menjawab kaku. “Ya.”

Keduanya keluar dari mobil. Kenzo menunggu di depan badan mobil. Lalu Agnes melangkah masuk ke dalam rumah untuk mengambil salep. Selanjutnya mengoleskan sedikit-sedikit berulang kali, menggosok dengan lembut beberapa saat di kulit Kenzo.

Pandangan Kenzo tak goyah sama sekali tertuju pada Agnes. Dia berkata. “Nomorku kamu simpan, kan? Lain kali hubungi aku kalau kamu dalam bahaya,” ujarnya. “Jangan buat aku khawatir.”

“Uh-huh. Hum.”

“Kamu nggak ada niat untuk balas budi sama aku?”

“Eh? Menurutmu apa yang aku lakukan sekarang?!”

“Uh kamu ini... cepat banget melupakan kebaikan orang lain....”

“Heh? Aku udah bilang makasih sama kamu.”

“Itu belum cukup.” Kenzo mencibir.

Senyum mengembang palsu ditunjukkan Agnes. “Berapa banyak lagi aku harus berterima kasih sama kamu.”

“Aku sih maunya sebanyak-banyaknya.”

“Anggap saja aku berhutang budi sama kamu.”

Kenzo tampaknya belum puas. “Hehehe, karna aku sudah membantumu. Bagaimana kamu membalas kebaikanku?”

“Jadi apa yang kamu inginkan?”

Kenzo melangkah berbisik di telinga Agnes. “Kamu tahu apa yang kuingankan.”

Getaran begitu suram menghampiri Agnes. ‘Dia tidak bermaksud memintaku untuk jadi pacarnya, kan?’ – Agnes.

Kenzo kembali ke posisi semula. “Aku punya dua pilihan untukmu.”

“Okay. Sebutkan!”

Lihat selengkapnya