Misi Hunter : The Fox and The Rich Woman

Haidee
Chapter #19

(Bukan) Kencan 2

Melanjutkan agenda keduanya di jalan yang ramai. Cuaca masih sempurna.

Kenzo bertanya. “Sebenarnya apa pekerjaanmu?”

“Aku menyebutnya konsultan bisnis,” jawabnya. “Konsultan adalah pekerjaan berat yang membutuhkan energi besar dan kita harus cukup tangguh saat bernegosiasi.” Agnes menghela napas seakan-akan pekerjaannya tugas berat.

Agnes menambahkan. “Tidak peduli di industri mana kita berada, dunia patriarki selalu memaksa kita untuk lebih tangguh.” Ia meneruskan. “Satu-satunya cara untuk bisa mewarisi sebuah perusahaan adalah dengan memiliki pengalaman, bukan hanya gelar yang tinggi. Ini tentang membangun lingkaran sosial.”

“Benar.”

Keduanya berjalan pelan menelusuri jalan pavin, di sepanjang jalan itu bunga-bunga berbaris rapi kiri kanan. Kenzo berharap waktu berjalan lambat agar dia bisa terus berjalan bersama Agnes.

“Bunga apa yang kamu sukai?”

“Edelweis.”

Kenzo menunjukkan untuk area sekitar. “Di antara bunga ini?”

“Hmm. Mungkin ini.” Agnes menunjuk bunga yang ada di dekatnya, bunga Lily berwarna putih. Bunga Edelwies umumnya dapat tumbuh di daerah dingin dataran tinggi.

Kenzo spontan membungkuk, memetik satu tangkai bunga Lily putih yang ditunjuk oleh Agnes.

Sontak Agnes menegurnya. “Eh, kamu jangan ambil sembarangan!”

“Kenapa? Ada larangan?”

“Aku nggak tahu tapi.... tapi tetap saja kamu jangan memetik sembarangan!”

“Kalau di ambil satu kayaknya nggak masalah, kalau mengambil banyak baru akan ketahuan,” balas Kenzo licik. “Siapa pun penjaganya, nggak mungkin menghitung tiap tangkai bunga yang ada di sini, kan?”

Keduanya tertawa renyah.

“Nih.” Kenzo memberikan setangkai bunga Lily putih tersebut.

“Hmm Makasih.” Agnes meraih bunga tersebut.

Kedua pasang kaki itu kembali melangkah.

Kali ini Agnes bertanya. “Apa hal yang kamu sukai?”

“Olahraga. Seperti kamu.”

“Lebih spesifik.”

“Lari.”

“Oh. Pantas saja kamu punya energi untuk mengejar.”

“Hahaha. Oia, kamu ada janji lain?”

“Tidak. Kita mau kemana lagi?”

“Kenapa kita nggak minum dan kita mabuk bersama...”

“Heh kamu mulai ngelantur.”

“Ayolah... Aku nggak mau melewatkan kesempatan ini.”

“Yang lain. Oke!”

≈ΦΦ≈

Kenzo menarik lengan Agnes untuk masuk ke toko pakaian yang mereka lewati.

Pria rubah memilah-milah beberapa pakaian untuk Agnes. Apakah dia serius mencoba memilihkan Agnes?

“Nes, pakaian ini sangat cocok untuk kamu. Kamu pasti menyukainya.”

“Kamu mau membelikan aku? Aku nggak membutuhkannya.”

“Kamu pasti suka dengan warna dan motifnya. Ini sederhana tapi elegan, kan? Atau apa kamu suka gaun yang ini?”

Kenzo terus memilih pakaian berada di dekat mereka.

“Tidak, aku nggak suka keduanya.”

“Oh yang satu ini pasti sesuai dengan seleramu.” Kenzo menarik gaun lain. “Cobalah.”

Itu sebuah dress panjang warna biru langit. Agnes tetap menolak.

“Oh masih ada yang satu ini. Ini dihiasi tiga lima berlian warna-warni. Anggap saja pakaian ini sebagai hadiah pertemuan kita.”

“Tidak, tidak! Aku tidak suka model pilihanmu.”

“Hmm, ada banyak yang cantik di sini. Mungkin kamu tidak punya selera gaya.”

Agnes tidak tahu harus bertindak apa selain menolak. Jika semua harga gaun itu dikalkulasikan maka harganya bisa fantastis. Kenzo mungkin tidak mampu membelinya bahkan dengan menjual dirinya sendiri.

“Kenzo, kamu sudah bekerja keras untuk menghasilkan uang. Aku tidak mau kamu menghabiskannya untuk hal tidak penting. Apalagi kamu masih kerja di rumahku. Aku yang menggajimu. Sampai sini paham!”

“Hee....” rasanya lidah Kenzo hamper terlepas seketika.

Agnes melenggang keluar toko. Dan Kenzo membeku sejenak.

Ketika Agnes hendak keluar dari toko pakaian, ia tak sengaja bertemu dengan mantan kekasihnya Seno dan kekasih barunya.

Lihat selengkapnya