Misi Hunter : The Fox and The Rich Woman

Haidee
Chapter #20

Perasaan Apa Ini?

“Hei... gimana dengan kakimu? Apa sudah sembuh?”

“Aku masih belum mati.” Agnes berpura-pura tenang.

“Aku khawatir, kamu tahu.”

“Sudah jauh lebih baik. Terima kasih sudah khawatir.”

“Kamu ngga butuh jasaku?”

“Jasa apa?”

“Jasa membantu mengoleskan salapmu.”

“Oh hoho, tidak perlu.”

“Ngomong-ngomong, bunga lilinya masih ada?”

“Masih. Walaupun sedikit rusak,” jawabnya. “Aku menyimpannya di kamar.”

Kenzo bercanda dengan ekspresi horor. “Kamu menyimpan barang curian?”

“Sayang kalau dibuang, kita mendapatkannya susah payah,” balas Agnes mencoba mengikuti alur Kenzo.

“Harusnya kita mengambil banyak.” Kenzo memandang crushnya. “Itu kali pertama aku melakukannya, demi kamu.” lalu tertawa kecil. “Mencuri bunga.”

“Aku nggak menyuruhmu, okay!”

Kenzo mencibir. “Kamu nggak nyuruh tapi karna kamu aku nekad.”

“Kamu memang nggak pernah mau ngalah.”

≈ΦΦ≈

Ada satu hal yang mengganggu pikiran Agnes. Sehingga dia harus meminta pendapat Yola sahabat setianya.

“Jadi apa pembicaraan kalian? Kalian betul-betul berkencan?”

“Kami hanya ngobrol biasa, bukan berkencan!”

“Itu bagus. Kalian meluangkan waktu saling mengenal.”

“Oh Jangan konyol, Yul.”

“Aku sahabatmu! Hal seperti ini tidak harus menjadi rahasia.” Yola terus memancing agar Agnes mau terbuka.

“Eh-uh Okay.” Agnes mengambil jeda. Ia melanjutkan. “Semua baik-baik saja, kami minum kopi dan makan, kami ngobrol untuk saling mengenal satu sama lain. Kami bertemu Seno si brengsek bersama pacar barunya. Dia memetik setangkai bunga di jalan. Hum setelah itu dia membawaku ke klinik gara-gara kucing liar. Dan terakhir....”

“Bagian terakhir?”

“Tidak. Maksudku kami pulang naik bus.”

“Trip yang melelahkan. Apalagi?”

“Tidak ada. Hufft,” Agnes menghembuskan napas. “Kadang-kadang dia terlalu berlebihan.”

“Kamu nggak nyaman?”

“Hum.”

“Dan bagaimana dengan Seno?”

“Aku bisa menebak, kalau dia berpikir aku dan Kenzo pacaran.”

Yola tertawa renyah. “Kamu tahu, kamu dan Kenzo baru saja menghabiskan waktu berdua.”

Raut wajah Agnes berubah. “Yol, aku merasa sedikit aneh setelah jalan dengan Kenzo. Aku nggak begini sebelumnya.”

“Ada apa?”

Agnes mematung tak menanggapi. Dia sebetulnya bingung keanehan apa yang ia rasakan.

“Biarpun dia menganggap itu kencan, kamu anggap saja itu jalan biasa. Kenapa kamu harus khawatir?”

Agnes melambaikan tangan bahwa itu tidak benar. “Sebenarnya aku benar-benar merasa berutang sama dia.”

“Kita sudah bertahun-tahun kenal. Aku tahu kamu tidak suka berutang sama orang lain.”

“Ya. Aku tidak pernah berutang kepada orang lain karna sulit untuk membayarnya kembali,” balasnya. “Seharusnya itu tidak ada, tapi dia ingin aku membalas kebaikannya dengan jalan berdua.”

“Haha ini menarik. Ini adalah pertama kalinya ada seseorang yang sangat serius mengejarmu.”

“Andai saja aku belum bertunangan...”

“Kamu membiarkan pertahananmu turun begitu saja?”

Lagipula Kenzo selalu berbuat baik pada Agnes meskipun kadang meresahkan. Agnes belajar seperti apa dicintai oleh cinta sejati.

“Dia mengkhawatirkanmu. Dari ceritamu aku bisa merasakan kalau dia sangat peduli sama kamu.”

“Lupakan saja. Intinya tidak ada apa-apa.”

“Meski begitu. Itu kemajuan yang nyata, bukan?”

Agnes menggoyangkan kedua bahunya. “Kemajuan dalam?”

“Oh tidak. Maksudku, Kenzo kelihatannya orang baik. Aku hanya belum mengenalnya saja.”

Semakin banyak Agnes berbicara, semakin besar peluang untuk kesalahpahaman antara logika dan hatinya. Jadi ia tetap bersikap normal saja.

“Aku bisa memberitahumu ada sesuatu yang terjadi dengan kalian berdua, berdasarkan dengan cara kalian mencoba mengubah subjek.”

Lihat selengkapnya