Misi Hunter : The Fox and The Rich Woman

Haidee
Chapter #21

Reuni

Keesokan harinya. Agnes menerima telepon dari Yola.

[Yola : Agnes, aku mau nanya. Kalau ada seorang merasa tidak senang ketika melihat seorang lain bersikap baik pada orang lain. Apa itu artinya dia sudah jatuh cinta?]

Agnes : Kenapa kamu bertanya hal begitu ke aku?

[Yola : Karna seorang yang kumaksud itu adalah kamu! Dan orang lainnya adalah Kenzo.]

Agnes : Aku nggak merasa seperti itu.

[Yola : Hei, siapaun itu kalau bersikap seperti semalam, itu artinya dia sedang cemburu.]

Agnes : Yol, aku lapar. Aku mau makan.

Tit Tit Tit.

Agnes membuka tirai horden kamarnya. Dari balkon kamarnya, dia dapat melihat Kenzo berbicara dengan seseorang di halaman rumah. Orang itu adalah pria tua yang pernah dilihatnya di kafetaria tempo hari.

Situasi di halaman rumah.

“Ken, kami benar-benar membutuhkan uang. Penyakit bibimu terus membutuhkan uang banyak. Kenapa kamu tidak punya sedikit belas kasihan,” nada merendah dari pria tua itu.

“Apa peringatanku kurang jelas kemarin?”

“Kamu tumbuh bersama kami. Aku benar-benar tidak punya cukup uang sekarang. Jadi tolong bantu kami, beri aku pinjaman. Aku akan membayarnya pasti.”

Wajah seram ditampakkan Kenzo. “Berhenti bicara tentang masa lalu kita. Kita semua harus melanjutkan hidup masing-masing. Dan aku tidak berpikir kamu dapat menepati kata-katamu.”

Pria itu berkata dengan nada tinggi. “Apa kamu lupa berapa banyak kami telah membantu kamu? Orangtuamu meninggalkanmu pada kami tanpa uang sedikit pun. Bibimu lah yang membiayaimu. Dan sekarang kamu melihat kami seperti orang asing. Betapa tidak berperasaannya dirimu!”

Kenzo menarik kerah baju pria tua itu. “Beraninya kamu bawa-bawa orangtuaku dalam deritamu.”

Pria itu melempar tangan Kenzo dari lehernya. “Lupakan saja. Lebih baik kamu memperbaiki hidupmu.”

“Kalau kamu mengatakan satu kata lagi mengenai hidupku. Aku akan merobek semua gigimu! Kamu tidak pantas menjadi pamanku.”

Meskipun hal-hal buruk di masa lalu membuat Kenzo menderita, dia mampu melalui waktu yang sulit dan berubah menjadi lebh kuat. Pamannya hanya menimbulkan masalah untuknya. Dia terus berlayar dan menjalani hidupnya sendiri.

≈ΦΦ≈

Pria yang merasa perubahan emosi menyulut itu, berdiri tegak di sudut halaman rumah majikannya sambil menyalakan pemantik. Menghisap dalam rokok pertamanya hari ini, menuangkan semua isi kepalanya yang dipenuhi dengan kejadian masa lalu, helaian rambutnya terangkat karena angin.

Cucu majikannya menegurnya dengan ragu. “Apa seseorang mengacaukan kamu?”

“Eh?” Kenzo sedikit terkejut. “Ini bukan sesuatu yang penting.”

“Apa yang terjadi?”

“Sejak kapan kamu ingin terlibat masalah orang?”

“Karna kamu tidak menjawabku.”

“Tidak ada apa-apa, aku hanya merenungkan sesuatu,” jawab Kenzo datar. “Kenapa kamu di sini?”

“Ini masih area rumahku.”

Kenzo menyeringai. “Kamu agak konyol tapi menggemaskan.”

“Apa kamu punya sesuatu... hm misi yang tidak bisa kamu pecahkan atau hal-hal yang belum kamu selesaikan?”

“Hal-hal yang tidak bisa aku selesaikan... Ah! Aku punya.” Kenzo menatapnya lekat. “Meluluhkanmu. Yah aku belum berhasil.”

Ingat Agnes! Kenzo bukan anak domba tapi rubah jahat.

“Aku benar-benar penasaran, sebenarnya kamu itu pria seperti apa….” Agnes melipat kedua tangannya. “Sengaja menggodaku, lalu merayu wanita lain di luar. Itu menyenangkan bagimu.”

“Hanya pengalihan saat gabut. Aku benar-benar tidak melakukan itu.”

“Aku pikir kamu tidak ada teman kencan, Karna kamu punya karakter buruk.”

“Aku beberapa kali dekat dengan wanita, tapi sama saja mereka dengan wanita pada umumnya.”

“Aku juga wanita pada umumnya.”

“Kamu beda dengan mereka.” Kenzo memandangnya dengan penuh rasa penasaran. “Aku suka wanita yang tangguh yang memiliki pertahanan kokoh dan susah ditembus.”

Agnes hanya menatapnya.

“Boleh aku nanya.” Kenzo mendesah. “Apa kamu tidak nyaman di sekitarku?”

“Heh?Uh Well... Masalahnya adalah... kenapa kamu menggangguku?”

“Agnes, aku nggak ingin ada kesalahpahaman tapi aku nggak bermaksud menyinggungmu. Aku hanya tidak ingin berbohong sama kamu. Kamu sangat berarti bagiku.”

“Heh? Wuahaha katakan apa kontribusiku di hidupmu sampai kamu bilang begitu?? Itu hanya kata-kata di bukumu.”

Kenzo tidak menggubris itu. Ia mengatakan. “Aku ingin lebih dari....” kata-kata Kenzo terdengar dalam dan segenap hati.

Agnes terpaku. Dia merasakan...

“Aku akan menunggumu.”

Oh Agnes langsung memalingkan wajahnya. Ia mengalihkan. “Aku lihat kamu kedatangan tamu pagi ini.”

“Kamu melihatnya?”

“Hmm.”

“Pria itu adalah Pamanku. Dia ke sini untuk uang. Ya, dia marah sama aku karna aku tidak memberinya.” Ia menambahkan. “Aku tahu, tidak baik berselisih antara keluarga, tapi aku tetap... hm dia sangat malang.”

Agnes kembali menatapnya. Ada empati terlukis di matanya.

Kenzo menyadari itu. “Aku mau mengecek Kakek dulu.”

“Oh Silakan.”

≈ΦΦ≈

Lihat selengkapnya