Hari berikutnya.
Pagi ini ini Tuan Samir akan bertemu sekaligus menjenguk salah seorang teman lamanya.
Pakaian untuk Pak Tua sudah disetrika, kamar tidur bersih, seprei dan selimut tidak kusut sama sekali dikerjakan oleh Bibi Inem. Dan sarapan disajikan dalam rasa favorit Kakek Samir oleh Kenzo.
Pak Igor membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Kakek Samir.
Di dalam mobil.
“Kamu kelihatan pucat. Apa kamu baik-baik saja, Kenzo?”
“Ya. saya baik, Tuan. Jangan khawatir,” jawabnya, “Saya hanya merasa sedikit lelah. Itu baik-baik saja dalam beberapa menit.”
“Kenzo, kamu bisa memberitahuku kalau kamu merasa tidak enak badan,” sahut Pak Igor.
“Terima kasih, Pak Igor.”
≈ΦΦ≈
Kehangatan menyelimuti acara minum teh di halaman belakang rumah Agnes, ditambah dengan cuaca yang mendukung.
Dari atas meja, empat cangkir putih serta teko putih terbuat dari damar. Sembari menunggu Tuan Samir, Marvin dan kekasihnya serta Agnes dan Yola bersenda gurau. Diwarnai cerita sosok Beny, teman Marvin sekaligus pria teman sekolah Yola.
Agnes menatap cangkirnya, menyimak ketiganya berbincang-bincang. Dalam benaknya, Akhir-akhir ini dia sangat emosional ditambah lagi dia sedang datang bulan.
Yola bangkit dari kursinya, berjalan ke arah dapur. Di sana dia bertemu dengan Kenzo. Kenzo menyingkir dan membiarkan Yola masuk ke dapur.
Sebelum Kenzo berbalik badan, Yola bertanya. “Hi, dari mana kamu?” sergahnya.
“Menemani Kakek Samir menjenguk temannya,” jawabnya. Kenzo pun mencoba bertanya perihal hari sebelumnya. “Yol, ada seorang pria, um… kami bertemu. Maksudku, waktu aku dan Agnes keluar dari resto kemarin. Kami bertemu pria… mungkin sebaya Agnes. Dia berambut sedikit gondrong, wajahnya tirus, dan... Kamu tahu, ekspresi Agnes sangat aneh. Bahkan saat bertemu dengan mantannya Seno, dia tidak begitu.”
“Beberapa hari ini Agnes selalu berekspresi aneh,” balas Yola heran. “Dia tidak mengatakan apa-apa sama kamu?”
Kenzo menggeleng. “Kamu tidak kenal?”
“Tidak. Tapi kalau aku lihat orangnya mungkin aku bisa mengenalinya,” jawabnya. “Tapi untuk apa juga Agnes bersikap aneh bertemu dengan pria itu?”
Kenzo mengangkat bahu tanda tak tahu.
“Kenapa tidak kamu tanyakan saja langsung ke dia?”
“Aku? Ach, dia pasti tidak akan menjawabku. Beda sama kamu. Kalian kan sahabat, sudah saling mengenal,” balas Kenzo. “Eh tunggu. Waktu itu, Agnes tiba-tiba memegang tanganku...”
“Memegang tanganmu?”
“Yah....”
Yola mengetuk jarinya di dagu, wajahnya serius bak detektif sedang menganalisa. “Aku pikir kamu ada alasan untuk bertanya dengan menggunakan alibi genggaman tangannya.”
“Begitu yah?”
“Iya. Dia belum mengatakan apa-apa, kan? Pokoknya kamu harus bertanya!”
“Kalau aku nggak mau?”
“Harus! Karna aku juga penasaran.”
HUAHAHAHA
“Baiklah.”
“Aku mencium aroma mencurigakan.”
“Hidungmu penuh intrik.”
Yola meringkukkan badannya ke Kenzo. “Kamu tidak mencium aroma yang kumaksud?”