Saat malam kian berlalu, Kenzo menyadari bahwa wanita taksirannya tak terlalu baik. Terlihat Agnes sedang duduk bengong larut dalam kesendirian di sebuah kursi yang tidak jauh dari kolam renang. Dan menungkupkan kedua tangannya di pangkuan.
Kenzo menghampirinya dengan membawa satu buah apel merah di tangannya. Dia menyodorkan ke hadapan Agnes. Agnes menolak seraya menggeleng.
“Kenapa tidak mau memakannya?” Kenzo mendelik. “Aku sudah membersihkan apel ini.”
“Aku lagi nggak mood makan apa pun.”
Kenzo meraih tangan Agnes, meraba pergelangan Agnes.
“He kamu ngapain?”
“Jangan bicara,” sela Kenzo sambil mencari titik denyut nadi pergelangan tangan Agnes. “Aku merasakan denyut nadimu normal-normal saja. Tapi...”
Cucu majikanna hanya memandang Kenzo dengan tampang sarkasme.
“Kamu pasti ada masalah. Wajahmu nggak bisa bohong. Katakan saja!” ujar Kenzo sambil mengambil kursi di samping Agnes dengan mengambil beberapa jarak.
Agnes menoleh, dia tampak tak bersemangat disertai rasa segan.
“Kamu berhutang satu penjelasan sama aku.”
“Penjelasan apa?”
“Oh umurmu masih muda, tapi sudah pikun yah,” sindir Kenzo. “Tempo hari kamu tiba-tiba menarik tanganku tanpa izin. Ingat! Pria waktu kita keluar resto.”
Agnes mengerutkan dahirnya. “Ah itu... aku juga nggak tahu. Kenapa aku tiba-tiba menggenggammu....”
“Kenapa tiba-tiba...?” tanya Kenzo berharap dapat penjelasan yang masuk diakalnya. “Kamu tahu, kamu kelihatan seperti melihat hantu.”
“....”
“Kamu nggak perlu sungkan, kasih tahu aku saja. Siapa tahu aku bisa bantu,” Kata Kenzo membakar rokok.
Alih-alih bersimpatik tentang dirinya, Agnes mengubah topik tentang Kenzo. Sudah beberapa kali ia mendapati Kenzo berselisih dengan seorang lelaki paruh baya. Sejujurnya dia memiliki rasa empati dan penasaran.
Agnes berkata. “Justru yang aku lihat, kamu yang sedang ada beban pikiran.”
“Kamu lihat dari sisi mana?”
“Dari cerita-cerita masa lalumu.”
“Ah kisahku tidak menarik. Kamu juga sudah tahu sedikit tentang kehidupan kelamku, bagaimana perjuangan hidupku,” balas pria rubah itu. Kenzo menawari rokok di tangannya. “Buat rileks.”
Agnes menolak. Lalu menceritakan penyebab dia putus dengan pacarnya saat fase hubungan jarak jauh di masa lalu.
“Baiklah aku ceritakan satu kisahku."
“Aku siap mendengar.”
“Kamu tahu, Ldr sangat krisis kepercayaan. Aku pernah Ldr namun kami putus karna dia selingkuh,” lirih Agnes. “Itu sebelum bersama Seno. Dia adalah pria yang benar-benar aku cintai saa itu. Seno sebenarnya hanya pelampiasanku saat itu.”
Kini Kenzo paham.
“Krisis kepercayaan hanya terjadi bila salah satu pasangan pernah melanggar kepercayaan pasangannya,” tutur Kenzo. “Sudah menjadi resiko Ldr penuh kecurigaan, banyak hal yang tidak bisa diselesaikan tanpa berbicara langsung.”
Agnes mengangguk-ngangguk. “Kenapa masalah ini selalu jadi dasar utama.”
Agnes merasa bosan, rasanya topik ini sering muncul dari siapapun yang menjalaninya.
“Dalam hubungan yang utama itu adalah komunikasi,” pungkas Kenzo.
“Awalnya kami berdua saling percaya.”
“Och Aku nggak suka Ldr... hubungan jarak jauh, harus menahan rindu.”
“Karakter mantanku sangat ekstrovert, dia sangat mudah bergaul. Jadi orang juga mudah mendekatinya.”
Kenzo menepisnya. “Jangan lupa, seseorang nggak akan mungkin masuk ke dalam rumah orang lain tanpa dibukakan pintu oleh pemiliknya.”
“Mungkin memang sudah takdirnya hubungan kami berakhir.”
Kenzo membangunkan punggungnya dan bersandar di kursi. “Aku penasaran, siapa yang sudah membuatmu sakit hati lebih dari Seno?”
“Itu adalah cinta pertamaku.”
“Cinta pertama Ldr?”
“Bukan. Tapi cinta yang benar-benar kurasakan, di mana aku seperti budak cinta. Karna itu juga, aku susah buka hati sampai saat ini.”
Kenzo hampir tersedak terbelalak tak percaya mendengar Agnes menjadi budak cinta.
“Kamu bucin?!! Beritahu aku dia siapa?”
“Dia pria yang kamu lihat di depan resto.”