Di atas langit sudah mulai gelap.
Bigbang adalah sebuah gedung nan megah bertingkat yang berada di lingkungan komersial. Terdapat Bar untuk orang-orang yang memiliki status sosial yang tinggi, selain itu terdapat tempat karokean dan casino.
Mereka hanya duduk di sofa melingkar di sana dengan segelas minuman di tangan. Kemudian saling menceritakan cerita menarik pengalaman pribadi masing-masing. Memang benar bahwa ada alasan untuk melajang.
Lelaki memiliki setelan hitam membuka pintu privasi pesta kecil-kecilan mereka. Lelaki itu berkata. “Pestanya masih berlangsung?” tanya pria senyum cemerlang.
Semuanya menoleh ke sumber suara. Tampak berdiri pria sedikit polos dan menggemaskan, tampilannya terlihat bersih dan rapi.
“Oh Beny heii...,” seru Marvin.
“Keberatan kalau aku bergabung dengan kalian?”
“Tentu saja tidak.”
Yola terperangah. “Ben!”
Nizar menyahut. “Ben, join sini... bernyanyi bersama kami!”
Beny melangkah masuk menyapa semua orang, memberikan kesan baik. Ia memberikan pelukan teman kepada dua pria di ruangan itu sebelum duduk di sofa lembut.
Marvin bertanya pada pria yang baru datang itu. “Apa urusanmu sudah selesai?”
“Yah. Sedikit dipersulit.”
Yola bertanya sumringah selanjutnya. “Heii bagaimana kamu bisa ke sini?”
“Marvin menghubungiku. Aku juga datang untuk liburan.”
“Bukannya kamu bilang untuk perjalanan bisnis.”
“Nah. Bisnis dan liburan pada saat yang sama.”
“Senang bertemu denganmu lagi.”
Selanjutnya Yola dan Beny menceritakan kembali status pertemanan mereka.
Ada minuman beralkohol dan non alkohol di atas meja. Mereka semua minum sedikit.
“Di sini guyss... kamu harus minum bersama kami.”
“Tentu.”
“Ini Bir klad.”
“Oh yang ini ada aroma buah, tapi tidal sekuat bir mangling. Uh....”
“Aku mau blue mountain saja.”
Yola berseru. “Haruskah kita bersorak?!”
Cheeeeers! Suara gelas berdenting.
“Jarang-jarang aku ke tempat begini.”
“Ayo kita bermain sesuatu yang berbeda hari ini.”
“Jujur atau nekad.”
Nizar mengocok kartu dan menaruh kartu joker secara terbalik di atas meja secara acak hingga meja itu hampir dipenuhi kartu bersebaran.
Siapa pun yang mendapatkan kartu yang lebih besar dari lawannya, maka dialah pemenangnya dan berhak memberi pilihan untuk lawannya yang kalah.
Pertama-tama Marvin berduel dengan Kenzo untuk mengambil kartu. Angka kartu Marvin lebih besar dari kartu Kenzo. Marvin pun memberi pilihan NEKAD pada Kenzo.
Yang dilakukan Kenzo untuk tantangan Marvin adalah menyatakan cintanya yang suci pada Agnes. Agnes hanya memasang wajah santai.
“Aku akan bertanya kamu untuk yang kedua kalinya eh ketiga kalinya, tidak ke empat kalinya...”
“Ken!! Lakukan saja!”
“Ah baik-baik.” Kenzo menatap Agnes. “Agnes, apa kamu menyukaiku?”
“Jawabanku sudah pasti kamu tahu. Kenapa bertanya lagi?”
“Aku ingin jawaban lagi.”
“Jawabannya tetap sama. Tidak!”
“Wuakk... hikhiks....”
“Kamu kalah.”
Dalam sekejap air mata Kenzo sangat banyak berguguran.
“Ken, jangan kenak-kanakan begitu.”
Nizar mencoba mengusap air mata kawannya.
“Aku pria dewasa kok.”
“Kalau begitu bersikaplah seperti itu.”
“Lupakan, aku nggak tahan lagi.” Pria dijuluki rubah itu langsung meraih botol minuman jenis alkohol dengan sekali tegukan hingga tak bersisa.
Yola menegurnya. “Hei kamu minum terlalu banyak.”
“Biarin.... dia menolakku lagi....”
Selalu berakhir dengan cara yang sama.
Marvin membantu menenangkan. “Cup-cup.”
Sembari Kenzo menstabilkan perasaannya, permainan diteruskan. Nizar mengocok kartu dengan gerakan cepat. Kali ini dia tidak menaruhnya di atas meja tetapi langsung menyodorkan sambil melebarkan beberapa kartu di dalam genggamannya.
“Agnes, Yola. Silakan ambil satu,” titah Nizar.
Kedua wanita menatap kartu itu untuk beberapa saat. Lalu menarik satu kartu secara acak, dan menunjukkan kartu secara bersamaan.
“Angka Agnes paling kecil,” kata Nizar. Ia mencondogkan wajahnya tepat di depan wajah Yola. “Jujur atau nekad untuk Agnes.”
“Nekad!”
Agnes menghela napas.
Timbul satu ide cemerlang dalam otak Yola. “Agnes, Kamu harus mencium seseorang.”
Semuanya bergemuruh... hu hu nah nah.
Agnes terbelalak. “Kamu gila....” Agnes seketika migrain, Itu terlihat dia mengerutkan dahinya memegangi pelipisnya. Dia menolak mentah-mentah namun yang lain terus mendorongnya.
“Oh No No...”
“Aku ingin kalian berdua ciuman!” kata Yola sambil menunjuk Agnes dan Kenzo bergantian.
Yang lain tampak semangat dengan mulut setengah terbuka menunggu moment itu. Agnes menganga sekali lalu menatap jengkel arah Yola.
Tampak Agnes mengerutkan dahinya. “Oh guys. Apa ini sebuah kutukan?”
“Tidak! Ini bukan kutukan hanya... hanya sekedar permainan.” Yola menyilangkan kakinya. “Jangan khawatir tentang itu. Maksud aku kita tahu kita semua sudah dewasa.”
“Kayaknya sudah ada yang tidak beres di dalam otakmu.”
“Itu menyelinap dalam pikiranku.”
“Kamu jelas-jelas tidak terbuka untuk itu.”
“Permisi, maaf.”
“Oke, oke fine. Aku lakukan.”
“Okey jangan lama-lama.” Yola memaksa.
Nizar tertawa. Dia mengerti maksud Yola.
Dari berjarak beberapa langkah kini Kenzo dan Agnes saling mendekat. Kenzo mencoba menariknya.
“Lakukan saja seperti yang kita lakukan mal....”